Hasil TKA Pacitan Jadi Alarm, Dinas Pendidikan Siapkan Langkah Perbaikan

tes kompetensi akademik

MAKLUMAT – Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) Kabupaten Pacitan yang berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan pendidikan. Kondisi itu dinilai sebagai indikator yang perlu segera ditindaklanjuti melalui langkah-langkah pembenahan secara menyeluruh. Tujuannya, mutu pendidikan di daerah dapat meningkat.

Persoalan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Rapat Evaluasi Tes Kompetensi Akademik yang berlangsung di Ruang Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Kamis (2/7). Pertemuan dihadiri jajaran Dinas Pendidikan, Dewan Pendidikan, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ikatan Guru Indonesia (IGI), paguyuban komite sekolah, serta Koordinator Wilayah Kecamatan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Khemal Pandu Pratikna mengatakan, hasil TKA harus dijadikan tolok ukur objektif untuk mengevaluasi seluruh kebijakan pendidikan yang telah berjalan. Menurutnya, capaian tersebut merupakan bahan refleksi agar seluruh unsur pendidikan memiliki komitmen yang sama dalam melakukan perbaikan.

”Kita harus melihat hasil TKA secara jujur sebagai cermin kondisi pendidikan di Pacitan. Posisi yang masih berada di bawah rata-rata Jawa Timur tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Seluruh pihak perlu menjadikannya sebagai pemicu untuk melakukan perubahan,” ujar Khemal.

Ia menambahkan, paradigma yang menganggap Pacitan selalu berada di bawah capaian provinsi harus diubah. Peningkatan kualitas pendidikan hanya dapat diwujudkan apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki target yang lebih tinggi serta budaya evaluasi yang berkelanjutan.

Baca Juga  Wujudkan SPMB yang Transparan dan Berkeadilan, Wamendikdasmen: Kuatkan Sinergi

Tanggung Jawab Bersama

Khemal juga menyoroti rendahnya partisipasi masyarakat dalam memberikan perhatian terhadap isu pendidikan. Salah satu indikator yang diamati adalah minimnya respons publik terhadap berbagai informasi yang dipublikasikan melalui media sosial resmi Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan.

”Minimnya keterlibatan masyarakat menjadi bahan evaluasi bagi kami. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama sehingga diperlukan kepedulian dan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, Dewan Pendidikan Kabupaten Pacitan melalui Cipto Yuwono menilai terdapat perubahan pola pikir sebagian peserta didik yang berdampak terhadap motivasi belajar. Ia menyebut adanya anggapan bahwa kenaikan kelas maupun kelanjutan pendidikan ke jenjang berikutnya dapat diperoleh secara otomatis sehingga semangat belajar mengalami penurunan.

Selain aspek akademik, Cipto menyoroti pentingnya penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Menurutnya, masih ditemukan perilaku peserta didik yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk penampilan yang dinilai kurang mencerminkan budaya disiplin di lingkungan pendidikan.

”Kami berharap penguatan karakter kembali menjadi prioritas. Sekolah bukan hanya tempat meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk sikap, etika, dan kedisiplinan peserta didik,” ujar Cipto.

Ia juga mengusulkan agar dilakukan evaluasi terhadap kepemimpinan sekolah. Termasuk mempertimbangkan penyegaran melalui mutasi kepala sekolah yang telah menjabat dalam waktu cukup lama. Dengan begitu, dapat menghadirkan inovasi baru dalam pengelolaan pendidikan.

Baca Juga  Calon Siswa Dapat Notifikasi Lolos SPMB SMA Ternyata Tidak Diterima, Dindik Jatim: Error Sistem, Bukan Kecurangan

Tantangan dan Perubahan Metode Pembelajaran

Ketua PGRI Kabupaten Pacitan Suprayitno Ahmad menyampaikan bahwa para guru saat ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Beban administrasi, tanggung jawab profesional, kondisi lingkungan kerja, hingga persoalan penempatan tempat tinggal menjadi faktor yang memengaruhi optimalisasi tugas pendidik.

”Guru membutuhkan dukungan sistem yang lebih baik agar dapat lebih fokus menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik. Penguatan kapasitas guru harus berjalan beriringan dengan perbaikan ekosistem pendidikan,” ungkapnya.

Pengurus PGRI Kabupaten Pacitan Khusnul Komarudin mengemukakan bahwa pelaksanaan TKA juga menghadapi sejumlah kendala teknis. Di antaranya, terdapat perbedaan antara materi yang diujikan dengan proses pembelajaran di kelas, disertai keterbatasan infrastruktur teknologi informasi pada sejumlah sekolah, terutama di wilayah pinggiran.

Sementara itu, Ketua IGI Kabupaten Pacitan Didik Hartanto menilai capaian TKA dipengaruhi berbagai faktor, termasuk dampak loss learning pada masa pandemi Covid-19 yang masih dirasakan oleh peserta didik saat ini. Kondisi tersebut perlu direspons melalui strategi pembelajaran yang lebih adaptif.

Perubahan metode pembelajaran, kata dia, harus menjadi perhatian bersama. ”Guru perlu terus meningkatkan kompetensi agar mampu menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan peserta didik saat ini. Penguatan fungsi pengawasan sekolah juga penting agar kualitas pembelajaran dapat terjaga,” kata Didik.

Ia juga mendorong agar Kabupaten Pacitan menetapkan target peningkatan mutu pendidikan yang lebih kompetitif dengan menjadikan daerah lain yang memiliki capaian pendidikan lebih baik sebagai referensi dalam penyusunan kebijakan.

Baca Juga  Hari Pertama MPLS di Surabaya, Dispendik: Sekolah Harus Jadi Rumah Kedua yang Aman dan Menyenangkan

Dari unsur komite sekolah, Pengurus Paguyuban Komite Kecamatan Pacitan Wayan Diana berharap hasil evaluasi tersebut tidak berhenti pada forum diskusi. Ia meminta seluruh rekomendasi yang telah disampaikan dapat diterjemahkan menjadi program kerja yang memiliki target, indikator keberhasilan, serta evaluasi secara berkala.

”Pertemuan ini harus menghasilkan rencana tindak lanjut yang jelas. Setiap program perlu dipantau pelaksanaannya sehingga upaya perbaikan benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Wayan.

Senada, Ketua Paguyuban Komite Kecamatan Pacitan Suwarno mengajak seluruh unsur pendidikan untuk membangun semangat kolaborasi. Menurut dia, peningkatan mutu pendidikan hanya dapat dicapai apabila pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat bekerja bersama tanpa saling menyalahkan.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan menyatakan akan menindaklanjuti berbagai masukan pada forum tersebut. Salah satunya lewat penyelenggaraan bimbingan teknis pembelajaran mendalam bagi guru, penguatan literasi dan numerasi, optimalisasi supervisi kepala sekolah, pelaksanaan tryout bersama, serta evaluasi distribusi tenaga pendidik di wilayah yang masih mengalami kekurangan guru, termasuk Kecamatan Nawangan dan Bandar. Langkah tersebut diharapkan menjadi awal perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Pacitan. (*)

Penulis: Edi Susanto