Barry Adhitya, Nahkoda Baru Lazismu yang Ingin Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah

Barry Aditya

MAKLUMAT — Pergantian kepemimpinan di sebuah lembaga sering kali menjadi momentum lahirnya gagasan dan semangat baru. Bagi Lazismu, momentum itu hadir bertepatan dengan peringatan Milad ke-24.

Di usia yang memasuki hampir seperempat abad, Lazismu resmi menempatkan Barry Adhitya sebagai Direktur Utama Lazismu Pusat periode 2026-2027. Penyerahan amanah tersebut ditandai dengan serah terima jabatan dari direktur utama sebelumnya, Ibnu Tsani, di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Penunjukan Barry merupakan bagian dari penyegaran organisasi atau tour of duty di lingkungan Muhammadiyah. Namun, bagi Barry, amanah itu bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan tanggung jawab besar untuk membawa Lazismu menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

“Ini tugas berat bagi kami. Mohon dukungan dari semua pihak dan mitra-mitra Lazismu agar lembaga ini terus bangkit membangun kemandirian,” ujar Barry.

Berangkat dari Pengalaman Kemanusiaan

Nama Barry Adhitya bukanlah sosok baru di lingkungan Lazismu maupun Muhammadiyah. Alumni Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang itu telah menjadi anggota Badan Pengurus Lazismu Pusat sejak 2015.

Selama lebih dari satu dekade, ia dikenal aktif dalam isu-isu kemanusiaan, kesehatan, dan kebencanaan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pengalaman panjang tersebut membentuk perspektifnya mengenai pentingnya tata kelola lembaga filantropi yang profesional dan adaptif terhadap perubahan.

Baca Juga  Lazismu Pusat: Instrumen CWLS Berpotensi Perkuat Pendanaan PLTS Berbasis Komunitas

Ia juga memiliki rekam jejak dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat dan manajemen program sosial. Pengalaman itulah yang kini menjadi modal utama dalam memimpin Lazismu di tengah tantangan ekonomi dan perubahan teknologi yang bergerak sangat cepat.

Menurut Barry, kondisi ekonomi yang tidak menentu menuntut lembaga filantropi untuk bekerja lebih cermat dan inovatif agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Empat Pilar Transformasi Lazismu

Sebagai direktur utama baru, Barry telah menyiapkan empat pilar utama untuk memperkuat transformasi Lazismu.

Pertama, kepatuhan syariah. Menurutnya, pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya harus dijalankan secara transparan dan sesuai prinsip syariah.

“Kita harus memastikan amanah yang dititipkan masyarakat dapat dijalankan dengan baik dan sesuai ketentuan syariah,” katanya.

Kedua, penguatan program yang berdampak dan berkelanjutan. Barry menilai program-program Lazismu harus berbasis data dan mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Ia juga membayangkan kantor layanan masjid tidak hanya berfungsi menghimpun dana, tetapi juga mampu memetakan dan menyalurkan bantuan kepada para penerima manfaat secara lebih tepat sasaran.

Ketiga, integrasi teknologi. Di era digital, menurut Barry, lembaga zakat tidak cukup hanya mengandalkan metode konvensional.

Baca Juga  Lazismu Targetkan Himpun Zakat Rp640 Miliar Secara Nasional Tahun 2025

Lazismu perlu membangun sistem teknologi yang memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan, sebagaimana kemudahan yang ditawarkan berbagai platform digital saat ini.

Keempat, penguatan kompetensi dan integritas amil. Ia menegaskan bahwa seluruh pengelola zakat harus memiliki kompetensi yang terstandarisasi, disertai integritas, kerendahan hati, serta kepekaan sosial yang tinggi.

“Integritas dan kompetensi harus dilengkapi dengan kepedulian yang mendalam terhadap masyarakat,” ujarnya.

Mimpi Besar Membangun Ekosistem Ekonomi Syariah

Pelantikan Barry juga mendapat dukungan dari Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief.

Menurut Hilman, Lazismu memiliki potensi besar menjadi salah satu wajah Muhammadiyah dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Indonesia.

Ia menilai pertumbuhan dana zakat yang semakin besar harus diimbangi dengan penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta sumber daya manusia yang profesional.

“Ke depan, Lazismu diharapkan memiliki visibilitas yang kuat dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah, mulai dari transaksi, model pengelolaan hingga sistem auditnya,” kata Hilman.

Harapan serupa disampaikan Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais. Menurutnya, perubahan kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus disikapi dengan solid dan terintegrasi.

“Tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri,” ujarnya.

Baca Juga  Lazismu Targetkan Himpun Zakat Rp640 Miliar Secara Nasional Tahun 2025

Integrasi Menguatkan Dampak

Memasuki usia ke-24 tahun, Lazismu mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”. Tema tersebut mencerminkan cita-cita besar untuk membangun ekosistem zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan yang semakin terintegrasi dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Bagi Barry Adhitya, amanah baru ini bukan sekadar melanjutkan program yang telah ada. Ia membawa misi untuk memperkuat kolaborasi, mempercepat transformasi digital, dan memastikan setiap rupiah dana umat dapat dikelola secara profesional serta memberikan dampak yang nyata.

Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan teknologi, Barry kini memulai babak baru kepemimpinannya dengan satu tujuan besar: menjadikan Lazismu semakin dekat dengan masyarakat dan semakin kuat dalam membangun ekosistem ekonomi syariah Indonesia.***