dr. Corona Rintawan Jadi Panelis Konferensi WHO Bahas Ketahanan Sistem Kesehatan Hadapi Gempa

Dokter spesialis kegawatdaruratan, dr. Corona Rintawan, Sp.EM, dipercaya mewakili Indonesia sekaligus Muhammadiyah sebagai delegasi dan panelis dalam WHO Ministerial Conference on Advancing Health Security through Earthquake Emergency Management. (Foto/Corona Rintawan)

MAKLUMAT — Dokter spesialis kegawatdaruratan yang juga Koordinator Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah, dr Corona Rintawan SpEM, mewakili Indonesia sebagai delegasi dan panelis dalam forum WHO Ministerial Conference on Advancing Health Security through Earthquake Emergency Management di Istanbul, Turki, pada 1–2 Juli 2026 lalu.

Konferensi yang diselenggarakan WHO Regional Office for Europe bersama Kementerian Kesehatan Republik Türkiye itu mempertemukan lebih dari 250 peserta dari sekitar 40 negara. Forum tersebut diikuti menteri kesehatan, delegasi pemerintah, organisasi internasional, lembaga pembangunan, akademisi, dan praktisi penanggulangan bencana untuk membahas penguatan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana gempa bumi.

Dalam forum itu, dr Corona Rintawan menjadi panelis pada sesi High-Level Panel Discussion 2: Enhancing Global Collaboration and Innovation for Earthquake Health Emergency Management, yang membahas kolaborasi internasional, inovasi, dan kesiapsiagaan dalam penanganan bencana.

Ia memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengirimkan INA-EMT, termasuk EMT Muhammadiyah, untuk membantu penanganan korban gempa bumi di Turki pada 2023. Ia juga berbagi pengalaman penugasan tim medis Indonesia dalam misi kemanusiaan di Vanuatu dan Myanmar.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi lintas negara serta penerapan standar internasional dalam pelayanan kesehatan darurat.

Baca Juga  YJI Sidoarjo Sriatun Subandi: Kesehatan Jantung Aspek Krusial dalam Menjaga Kualitas Hidup

“Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa kolaborasi yang kuat, kesiapan sumber daya manusia, serta penerapan standar Emergency Medical Team menjadi faktor penting dalam memberikan layanan kesehatan yang cepat, aman, dan efektif kepada masyarakat terdampak bencana,” ujar dr Corona Rintawan.

Ia juga menilai pertukaran pengetahuan antarnegara menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas respons kemanusiaan pada masa mendatang.

“Kami berharap praktik baik yang telah dilakukan Indonesia dapat menjadi bagian dari pembelajaran bersama, sekaligus memperkuat kerja sama internasional dalam membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh menghadapi bencana,” katanya.

Selama dua hari pelaksanaan konferensi, peserta mengikuti berbagai sesi yang membahas kesiapsiagaan nasional, pengembangan rumah sakit aman bencana, penguatan EMT, pemanfaatan teknologi digital di bidang kesehatan, penelitian operasional, hingga evaluasi penanganan bencana melalui mekanisme after-action review.

Hari kedua konferensi diisi dengan Ministerial Roundtable yang dihadiri Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bersama para menteri kesehatan dari berbagai negara. Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen bersama yang dituangkan dalam Istanbul Outcome Statement sebagai upaya memperkuat ketahanan sistem kesehatan dalam menghadapi risiko gempa bumi dan keadaan darurat kesehatan.

Dalam forum tersebut, Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya kerja sama internasional untuk menghadapi tantangan kesehatan global.

Baca Juga  KKN Umsida Hadirkan Program SEHATI, Sediakan Pemeriksaan Gratis dan Edukasi JKN

“Indonesia mendukung penguatan kolaborasi lintas negara dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh, memperkuat kesiapsiagaan, serta meningkatkan kapasitas respons terhadap bencana melalui kemitraan yang berkelanjutan,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Keikutsertaan dr. Corona sebagai panelis sekaligus delegasi mencerminkan keterlibatan serius Muhammadiyah dan Indonesia dalam berbagi pengalaman mengenai pengelolaan layanan kesehatan darurat pada situasi bencana.

Selama beberapa tahun terakhir, EMT Muhammadiyah turut terlibat dalam sejumlah misi kemanusiaan internasional, termasuk penanganan pascagempa di Türki, pelayanan kesehatan darurat di Vanuatu, dan bantuan kemanusiaan di Myanmar sesuai standar Emergency Medical Team yang diakui secara internasional.***

 

*) Penulis: Edi Susanto