MAKLUMAT– Peluang hamil penderita kanker endometrium kini terbuka lewat terapi hormonal bernama fertility-sparing. Inovasi medis ini menjadi angin segar bagi perempuan usia muda yang didiagnosis menderita kanker selaput lendir rahim namun tetap mendambakan kehadiran buah hati.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr. Renny Anggia Julianti, Sp. O.G, Subsp. Onk., menyampaikan kabar baik ini dalam diskusi media di Jakarta Pusat, baru-baru ini. Dokter Renny menjelaskan bahwa terapi hormonal tersebut bekerja dengan mengontrol kadar hormon di dalam tubuh untuk memperlambat sekaligus menghentikan pertumbuhan sel kanker tanpa harus mengangkat rahim.
”Terapi ini dapat diberikan dalam bentuk obat minum, suntikan, atau IUD yang mengandung hormon sesuai indikasi dokter,” ujar dr. Renny.
Meskipun memberikan harapan baru, dokter tidak merekomendasikan terapi fertility-sparing ini untuk semua stadium kanker endometrium. Pihak medis menetapkan beberapa syarat ketat yang harus dipenuhi pasien, antara lain:
1.Pasien wajib berusia di bawah 40 tahun.
2.Derajat diferensiasi sel kanker masih tergolong baik (stadium awal).
3.Sel kanker belum menyebar ke dalam otot rahim (miometrium).
Tim dokter akan mengevaluasi perkembangan pasien menggunakan USG setelah tiga hingga enam bulan menjalani terapi. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan respons positif, pasien dapat segera memulai program kehamilan. Dokter Renny menambahkan, program bayi tabung (IVF) menjadi opsi yang sangat disarankan karena dinilai lebih efektif dan terukur dibandingkan menunggu kehamilan secara alami.
Waspadai Gejala dan Faktor Risiko
Hingga saat ini, dunia medis belum mengetahui penyebab pasti kanker endometrium. Namun, dr. Renny menegaskan bahwa ketidakseimbangan hormon—khususnya tingginya hormon estrogen—menjadi pemicu utama.
Beberapa faktor risiko yang wajib diwaspadai perempuan antara lain obesitas, gaya hidup tinggi konsumsi gula dan tepung, sindrom metabolik seperti diabetes melitus yang meningkatkan risiko hingga 5 kali lipat, serta faktor genetik.
Para perempuan juga harus jeli mengenali gejala awal penyakit ini, seperti:
1.Perdarahan tidak normal di luar siklus haid atau pasca-menopause.
2.Keputihan abnormal yang bercampur darah.
3.Nyeri hebat pada panggul dan perut bagian bawah.
4.Nyeri saat berhubungan intim atau saat buang air kecil.
Menggeser Stigma Kanker Rahim pada Usia Muda
Kasus kanker endometrium di Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga dalam kategori kanker ginekologi. Menariknya, tren medis terbaru menunjukkan pergeseran demografi di mana penyakit yang dahulu identik dengan perempuan menopause, kini mulai banyak menyerang perempuan usia produktif di bawah 40 tahun. Lonjakan kasus ini berkorelasi erat dengan meningkatnya angka obesitas dan sindrom metabolik akibat gaya hidup modern yang tidak sehat.
Harapan Baru Melalui Fertility-Sparing Content
Hadirnya terapi fertility-sparing membawa perubahan paradigma yang masif. Dahulu, vonis kanker rahim hampir selalu berujung pada operasi pengangkatan rahim (histerektomi), yang otomatis memupus harapan perempuan untuk memiliki keturunan.
Melalui pendekatan hormonal yang agresif namun terukur di stadium awal, dunia kedokteran berhasil menjembatani antara misi kuratif (menyembuhkan kanker) dan misi konservatif (mempertahankan fungsi reproduksi). Kendati demikian, edukasi publik mengenai deteksi dini tetap menjadi kunci utama, karena terapi penyelamatan kesuburan ini hanya berlaku jika kanker ditemukan pada stadium sangat awal sebelum menginvasi otot rahim.***













