Tren Lari: Jadi Gaya Hidup Generasi Muda

Aipda Gatot Dwi Ananto, Coach atletik lari Kabupaten Pacitan. (Foto: panitia event running)

MAKLUMAT — Tren olahraga lari di kalangan generasi muda Indonesia terus menunjukkan peningkatan dan berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran, lari kini menjadi ruang ekspresi diri, sarana membangun jejaring sosial, sekaligus media menjaga kesehatan mental. Fenomena tersebut tampak dari meningkatnya minat Milenial dan Gen Z terhadap olahraga lari sepanjang 2026.

Berdasarkan riset Populix yang dirilis pada pertengahan Juni 2026, sebanyak 94 persen generasi Milenial dan Gen Z rutin berolahraga sedikitnya satu kali dalam sepekan. Dari berbagai jenis olahraga, lari menjadi pilihan utama dengan persentase 44 persen, mengungguli olahraga kebugaran di pusat kebugaran, bulu tangkis, maupun bersepeda.

Data tersebut menunjukkan bahwa olahraga lari telah mengalami transformasi menjadi bagian dari identitas sosial anak muda. Selain mudah dilakukan dan tidak membutuhkan biaya besar, olahraga ini dinilai mampu memberikan manfaat bagi kesehatan fisik sekaligus membantu mengurangi tekanan psikologis akibat aktivitas belajar maupun pekerjaan.

Perkembangan Positif dan Medium Pembinaan Karakter

Bhabinkamtibmas Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, Aipda Gatot Dwi Ananto SH, menilai meningkatnya minat generasi muda terhadap olahraga lari merupakan perkembangan positif yang patut didukung selama dilakukan secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.

Baca Juga  Frugal Living Ala Gen Z: Tetap Keren Tanpa Bikin Dompet Menjerit

“Olahraga lari menjadi aktivitas yang sangat baik bagi anak-anak muda karena mampu membangun kedisiplinan, memperkuat karakter, serta menjauhkan mereka dari berbagai aktivitas negatif. Kami berharap tren positif ini terus berkembang dengan tetap mengutamakan keselamatan saat berlatih maupun mengikuti kegiatan lari bersama,” ujar Gatot, dalam keterangan yang diterima Maklumat.id pada Rabu (8/7/2026).

Menurut Gatot, olahraga juga dapat menjadi media pembinaan karakter. Pengalaman dirinya sebagai pelatih atletik sekaligus Bhabinkamtibmas memperlihatkan bahwa aktivitas olahraga mampu membentuk rasa tanggung jawab, kerja sama, serta semangat pantang menyerah di kalangan generasi muda.

“Ketika anak-anak memiliki kegiatan positif seperti latihan atletik atau lari bersama komunitas, mereka belajar menghargai proses, disiplin terhadap waktu, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Nilai-nilai seperti inilah yang ingin terus kami dorong di lingkungan masyarakat,” katanya.

Media Sosial dan Fenomena “Pelari Kalcer”

Di sisi lain, perkembangan media sosial turut mendorong munculnya fenomena baru yang dikenal dengan istilah “pelari kalcer”. Istilah tersebut merujuk pada kelompok pelari yang memadukan aktivitas olahraga dengan gaya berpakaian, dokumentasi digital, hingga berbagi capaian latihan melalui berbagai platform media sosial.

Baca Juga  Ketua Umum PP Muhammadiyah Ingatkan Kaum Muda: Jangan Bersembunyi di Balik Kesuksesan Orang Tua

Aplikasi pencatat aktivitas olahraga seperti Strava menjadi salah satu platform yang banyak digunakan untuk merekam jarak tempuh, kecepatan, hingga rute lari. Pengguna kemudian membagikan hasil latihan mereka sebagai bentuk dokumentasi maupun motivasi kepada komunitas sesama pelari.

Perkembangan tersebut juga diikuti perubahan kebijakan pemerintah. Mulai awal Juli 2026, Direktorat Jenderal Pajak menetapkan layanan Strava Premium sebagai salah satu penyedia layanan digital luar negeri yang memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas layanan berlangganan sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.

Fenomena meningkatnya minat terhadap olahraga lari turut mendorong pertumbuhan komunitas lari di berbagai daerah. Laporan tahunan Strava menunjukkan jumlah komunitas lari di Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan beragam aktivitas seperti morning run, night run, hingga kegiatan sosial berbasis olahraga.

Keberadaan komunitas tersebut tidak hanya menjadi wadah berolahraga, tetapi juga ruang bertukar pengalaman, memperluas pertemanan, dan menjaga kesehatan mental. Banyak anak muda mengikuti komunitas lari untuk memperoleh motivasi berlatih secara konsisten sekaligus memperkuat interaksi sosial di luar aktivitas pekerjaan.

Tingginya antusiasme masyarakat juga tercermin dari berbagai penyelenggaraan ajang lari sepanjang 2026. Sejumlah kegiatan seperti Run For Vision 2026 di Serang, Mandiri Jogja Marathon, BTN JAKIM 2026 di Jakarta, hingga ASICS Jakarta Speed Race mendapat respons besar dari masyarakat dengan ribuan peserta yang mendaftar.

Baca Juga  Vape Disorot Jadi Celah Narkoba, Pemuda Muhammadiyah dan RMI NU Kompak Dukung Pelarangan

Mayoritas peserta memilih kategori lari lima kilometer atau 5K karena dianggap paling sesuai bagi pelari pemula maupun pelari rekreasional. Selain menantang, kategori tersebut dinilai mudah diikuti oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia.

Gatot berharap tren olahraga lari tidak berhenti sebagai fenomena sesaat ataupun sekadar mengikuti perkembangan media sosial. Menurutnya, yang lebih penting adalah menjadikan olahraga sebagai budaya hidup sehat yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia muda.

“Jadikan olahraga sebagai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren. Jika kebiasaan hidup sehat terus dibangun sejak sekarang, saya optimistis akan lahir generasi muda yang sehat, produktif, berprestasi, serta memiliki karakter yang kuat untuk membangun bangsa,” ujar Gatot.***

 

*) Penulis: Edi Susanto