Jalan Pengabdian Guru: Ketika Keraguan Menjadi Ruang Bertumbuh

Ahmad Mahmudi, seorang guru muda di SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang menginspirasi dengan ketekunan dan keistikamahan berproses menyusuri dalam setiap jengkal perjalanan kehidupannya membangun karakter tangguh, berdaya dan berdampak. (Foto: Dok. Edi Susanto)

MAKLUMAT — Di tengah derasnya perubahan dunia pendidikan, profesi guru tidak lagi cukup dimaknai sebagai pekerjaan yang sebatas menyampaikan materi pelajaran. Guru dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat, mampu beradaptasi dengan perkembangan kurikulum, teknologi, dan karakter peserta didik yang terus berubah. Sayangnya, tidak semua perjalanan menuju profesionalisme lahir dari cita-cita menjadi pendidik.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pengabdian sering kali tumbuh bukan dari rencana yang matang, melainkan dari keberanian menerima amanah. Banyak guru Indonesia mengawali kariernya dengan berbagai latar belakang dan mimpi yang berbeda. Namun, melalui proses panjang, mereka menemukan makna sesungguhnya dari profesi yang dijalani.

Kisah Ahmad Mahmudi, guru SD Muhammadiyah 16 Surabaya, menjadi salah satu potret perjalanan tersebut. Lahir dari keluarga petani dan tumbuh di kawasan pesisir Lamongan, ia semula bercita-cita menjadi seorang wirausaha di bidang perikanan. Dunia pendidikan bukan pilihan utama dalam hidupnya.

Perjalanan hidup justru membawanya bekerja di lingkungan sekolah, mulai sebagai petugas perpustakaan hingga tenaga tata usaha. Pengalaman itu kemudian membuka jalan menuju profesi guru. Di saat yang sama, ia tetap menempuh pendidikan tinggi sambil bekerja dan aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan maupun organisasi Muhammadiyah.

Baca Juga  Psikolog Unisa Yogyakara: Korban Kekerasan di Daycare Butuh Pemulihan Psikologis Sejak Dini

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan hanya berlangsung di ruang kuliah, melainkan juga melalui pengalaman sosial, kepemimpinan, dan keterlibatan dalam masyarakat. Bekal inilah yang kemudian membentuk karakter seorang pendidik yang tidak berhenti belajar.

Ketika hijrah ke Surabaya pada 2017 dan bergabung dengan SD Muhammadiyah 16 Surabaya atau Sekolah Kreatif Baratajaya, tantangan baru muncul. Sistem pembelajaran yang berbeda membuatnya harus beradaptasi dengan budaya kerja yang lebih dinamis. Bahkan, tidak sedikit konsep pendidikan yang saat itu memunculkan pertanyaan dalam benaknya.

Situasi seperti ini sebenarnya juga dialami banyak guru di Indonesia. Perubahan kurikulum yang cepat sering kali menimbulkan kebingungan apabila tidak diiringi pemahaman yang memadai. Akibatnya, sebagian guru hanya menjalankan perubahan secara administratif tanpa memahami landasan ilmiahnya.

Ahmad memilih jalan berbeda. Keraguan yang dimilikinya tidak dijadikan alasan untuk menolak perubahan, tetapi menjadi motivasi untuk memperdalam ilmu. Ia melanjutkan studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, kemudian meneruskan pendidikan magister di bidang Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Surabaya.

Pilihan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa peningkatan kompetensi guru tidak boleh berhenti setelah memperoleh sertifikat pendidik ataupun gelar akademik pertama. Dunia pendidikan bergerak sangat cepat sehingga guru juga harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.

Baca Juga  Membanggakan! Intan Meidy Mahasiswa Umsida Sabet Penghargaan Most Innovative Research di Ajang Internasional

Melalui proses akademik itulah berbagai konsep mengenai kurikulum, pengembangan modul ajar, pembelajaran terpadu, hingga pendidikan inklusif mulai dipahami secara utuh. Apa yang sebelumnya dianggap rumit ternyata memiliki dasar ilmiah yang kuat dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi pendidikan tidak boleh dipandang sebagai beban tambahan. Sebaliknya, inovasi merupakan ikhtiar untuk memastikan proses belajar benar-benar berpihak kepada anak. Kurikulum yang dinamis bukan berarti kehilangan arah, melainkan terus menyesuaikan dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan tujuan utama pendidikan.

Lebih jauh lagi, perjalanan Ahmad Mahmudi menunjukkan bahwa guru yang baik adalah guru yang bersedia belajar dari pengalamannya sendiri. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, ia mulai berbagi pengetahuan melalui berbagai pelatihan, seminar, dan webinar mengenai pengembangan bahan ajar serta implementasi kurikulum.

Perubahan peran dari peserta pelatihan menjadi narasumber memperlihatkan bahwa investasi terbesar seorang guru adalah kemauan untuk terus mengembangkan diri. Semakin banyak ilmu yang dibagikan, semakin luas pula manfaat yang dirasakan oleh komunitas pendidikan.

Di tengah tantangan kualitas pendidikan nasional, Indonesia membutuhkan lebih banyak guru yang memiliki semangat seperti ini. Bukan guru yang merasa telah selesai belajar, melainkan mereka yang terus memperbaiki kompetensi, membuka ruang diskusi, serta berani mengevaluasi praktik pembelajaran yang dijalankan.

Baca Juga  Tepat di Momen Hari Guru Nasional, Supriyani Divonis Bebas

Pengalaman Ahmad Mahmudi juga mengajarkan bahwa keraguan bukanlah tanda kelemahan. Justru dari keraguan lahir rasa ingin tahu, kemudian berkembang menjadi pengetahuan, dan akhirnya menghasilkan inovasi. Sikap inilah yang semestinya menjadi budaya di lingkungan pendidikan.

Dan pada titik simpulnya, jalan pengabdian setiap guru memang tidak selalu sama. Ada yang sejak kecil bercita-cita menjadi pendidik, ada pula yang menemukan panggilannya setelah melewati berbagai persimpangan kehidupan. Namun, apa pun titik awalnya, kualitas seorang guru akan ditentukan oleh kesediaannya untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan peserta didik.

Di era ketika perubahan terjadi begitu cepat, semangat belajar sepanjang hayat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sebab, pendidikan yang berkualitas selalu berawal dari guru yang tidak pernah berhenti bertumbuh.***

 

*) Penulis: Edi Susanto