MAKLUMAT — Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Ponorogo menggelar kegiatan Temu Kader yang dilaksanakan di Aula Rektorat Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Ahad (12/7/2026) dengan mengangkat tema “The Future is Ours: Strategi Diaspora Kader IMM Menuju Indonesia Emas”.
Hadir sebagai pemateri utama dalam kegiatan tersebut, Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan. Di hadapan para kader IMM Ponorogo, ia menyampaikan sorotan yang blak-blakan, namun juga penuh pesan motivasi.
IMM Tulang Punggung Gerakan Muhammadiyah
Gus Bachtiar—panggilan akrabnya—menegaskan bahwa IMM adalah salah satu tulang punggung utama gerakan dakwah Muhammadiyah. Sebab itu, kata dia, di zaman yang perkembangannya semakin cepat dan dinamis, kader IMM tidak boleh lagi memiliki cara pandang yang sempit atau sekadar “jago kandang”.
“Kader harus berani keluar dari zona nyaman dan mulai bergerak di area eksternal Persyarikatan,” ujarnya.
Muhammadiyah saat ini, lanjutnya, memiliki cara pandang dan gerakan yang sudah jauh lebih luas dan inklusif. Karena itu, tugas utama kader IMM saat ini bukan lagi hanya membesarkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang sudah ada.
Menurut dia, kader-kader IMM tidak boleh hanya menghabiskan energinya untuk sibuk mengurus lingkungan internal Persyarikatan lewat AUM seperti kampus, sekolah, atau rumah sakit milik organisasi saja.
Kader IMM Jangan Cuma Sibuk di Internal
Lebih jauh, Gus Bachtiar mengingatkan para kader IMM Ponorogo agar jangan sampai menghabiskan seluruh waktu dan potensinya hanya untuk mengurus urusan birokrasi dan administrasi internal organisasi. Menurutnya, hall tersebut justru menyempitkan ruang gerak kader yang sebenarnya memiliki potensi besar jika dilepas ke masyarakat luas.
Ia menyoroti masalah yang sering terjadi dalam kaderisasi, salah satunya soal penumpukan kader di satu tempat yang sama setelah mereka dinyatakan demisioner atau selesai menjabat di kepengurusan IMM.
Jika semua kader hebat menumpuk di dalam wadah internal, ia menilai potensi besar yang mereka miliki justru berpotensi menjadi sia-sia. Dampaknya, kader tidak bisa memberikan kontribusi yang lebih luas dan nyata untuk kepentingan masyarakat umum.
“Jangan semua kader kalau sudah selesai berproses di IMM, semuanya mau masuk dan menumpuk di dalam struktural Muhammadiyah,” tegasnya.
“Kalau semuanya berkumpul di tempat yang sama, yang ada malah nanti saling sikut dan ribut sendiri di dalam. Kader IMM hari ini harus berani melompat keluar dan menyebar ke berbagai tempat eksternal,” sorot Gus Bachtiar.
Gus Bachtiar menjelaskan arti frasa “kembali ke Muhammadiyah” dalam pesan KH Ahmad Dahlan, yang ditegaskannya bukan berarti secara fisik kader harus selalu berada di dalam kantor atau internal Persyarikatan.
Menurut dia, makna yang tepat dan lebih progresif adalah bagaimana para kader bisa menyumbangkan tenaga, pikiran, semangat, serta jaringan (relasi) yang mereka punya untuk membangun dan membesarkan Persyarikatan Muhammadiyah, meskipun dari luar struktur.***
*) Penulis: Adam Muhammad Subarkah













