Cara Mengatur Keuangan Ala Rasulullah, Tujuh Prinsip untuk Hidup Berkah dan Stabil

cara atur uang

MAKLUMAT – Cara mengatur keuangan ala Rasulullah tidak hanya berbicara soal menabung atau mencari keuntungan. Lebih dari itu, pengelolaan harta dalam Islam merupakan bagian dari ibadah yang menuntun seseorang menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia dan tanggung jawab akhirat.

Melalui artikel edukasi yang diterbitkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), masyarakat diajak menerapkan tujuh prinsip keuangan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW agar kehidupan lebih tertata, sederhana, dan penuh keberkahan.

Prinsip pertama adalah mendahulukan kebutuhan utama. Rasulullah SAW mengajarkan agar kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, serta kewajiban rumah tangga dipenuhi lebih dahulu sebelum membelanjakan uang untuk keperluan yang bersifat konsumtif.

Selain itu, Rasulullah juga memberi teladan hidup sederhana. Kesederhanaan bukan berarti hidup dalam kekurangan, melainkan menggunakan harta secukupnya tanpa berlebihan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan.” (HR Bukhari).

Prinsip berikutnya ialah membiasakan bersedekah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga makanan, pakaian maupun tenaga yang bermanfaat bagi sesama.

Dalam aspek pengembangan harta, Rasulullah SAW juga mendorong umatnya untuk berinvestasi secara halal, seperti melalui perdagangan atau instrumen investasi syariah yang sesuai ketentuan agama.

Baca Juga  Industri Halal Indonesia, Peluang Besar di Tengah Persaingan Global

BPKH juga menegaskan pentingnya menghindari sifat boros. Larangan tersebut bahkan ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 26-27 yang menyebut pemboros sebagai saudara setan.

Selain itu, masyarakat dianjurkan disiplin mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran agar kondisi keuangan mudah dipantau dan pengeluaran lebih terkendali.

Prinsip terakhir adalah tidak menimbun harta secara berlebihan. Dalam Islam, harta merupakan amanah yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan, bukan sekadar dikumpulkan tanpa tujuan.

“Mengelola keuangan dengan baik merupakan bagian dari ibadah. Dengan meneladani cara Rasulullah SAW mengelola harta, setiap muslim dapat memperoleh keberkahan sekaligus kehidupan yang lebih tertata,” tulis Tim Redaksi BPKH.

BPKH berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan berbasis syariah sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Literasi Keuangan Syariah Masih Menjadi Tantangan

Edukasi mengenai pengelolaan keuangan berbasis syariah semakin penting di tengah meningkatnya gaya hidup konsumtif masyarakat. Prinsip yang dicontohkan Rasulullah SAW tidak hanya relevan bagi individu, tetapi juga menjadi fondasi membangun ketahanan ekonomi keluarga.

Di era digital dengan kemudahan transaksi dan belanja daring, disiplin menyusun anggaran, menghindari pemborosan, serta mengalokasikan sebagian rezeki untuk sedekah menjadi langkah konkret menjaga kesehatan finansial. Nilai-nilai tersebut sekaligus memperkuat literasi keuangan syariah yang kini terus didorong berbagai lembaga, termasuk BPKH.

Baca Juga  5 Kebiasaan Keuangan Gen Z yang Mendorong Hidup Halal dan Ramah Lingkungan