Universitas Muhammadiyah Malang Pelopori Pertanian Organik, Sanggup Tingkatkan Panen Padi

Universitas Muhammadiyah Malang

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang telah menjadi pelopor pertanian organik Bondowoso sejak 2013. Program yang digagas Kampus Putih itu kini berkembang menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan.

Bahan metode ini telah menarik minat sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan riset maupun pendampingan di daerah tersebut.

Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui penanaman padi menggunakan metode PS-AAS di lahan pertanian Desa Lombok Kulon, Bondowoso, pada 20 Juli 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas pertanian organik sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., mengatakan keberhasilan program tersebut mendorong kampus lain ikut berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui sektor pertanian.

“UMM di Kabupaten Bondowoso memelopori minat perguruan tinggi lain untuk terlibat langsung dalam pembangunan masyarakat. Di antaranya Universitas Negeri Jember, Politeknik Negeri Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, dan Universitas Bondowoso,” ujarnya.

Saat ini Universitas Muhammadiyah Malang membina 145 hektare lahan padi organik, terdiri atas 105 hektare lahan tersertifikasi dan 40 hektare lahan perluasan. Produktivitasnya mencapai rata-rata 6,5 hingga 7,8 ton gabah per hektare.

Bahkan, lahan yang telah menerapkan sistem organik lebih dari empat tahun mampu menghasilkan 8 hingga 8,5 ton per hectare padi. Catatan ini melampaui rata-rata produksi nasional sekitar 5,2 ton per hektare.

Baca Juga  Waspada! Pemadaman Listrik Bisa Bikin AC hingga Kulkas Cepat Rusak

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penerapan pertanian organik mampu menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.

Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menyebut sinergi pemerintah daerah dengan Universitas Muhammadiyah Malang mempercepat pengembangan kawasan pertanian organik di Bondowoso.

“Saat ini pertanian organik telah mencapai 230 hektare yang tersebar di Desa Sulek, Desa Lombok Kulon, dan Desa Gadingsari,” katanya.

Inovasi yang dikembangkan Universitas Muhammadiyah Malang juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., menilai riset yang dilakukan UMM berhasil diterapkan di lapangan.

“Di sini sains berubah menjadi pupuk organik, teknik tanam yang presisi, dan peningkatan hasil panen. Sains tidak lagi berjarak, tetapi membumi,” ujarnya.

Manfaat program tersebut turut dirasakan petani. Ketua Gapoktan Al-Barokah, Abdul Basit, mengatakan pendampingan UM mampu meningkatkan hasil panen hingga 7–8 ton per hektare.

“Hasil ini lebih tinggi dibandingkan saat menggunakan pola budidaya berbasis pupuk kimia yang rata-rata menghasilkan sekitar 6 ton per hectare,” ujarnya.

Keberhasilan Universitas Muhammadiyah Malang memelopori pertanian organik Bondowoso mempertegas peran perguruan tinggi sebagai penggerak inovasi yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Baca Juga  UMM Berhasil Sulap 92 Persen Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos