Momen Airlangga Hartarto Pulang Kampung sebagai Dzurriyah Kiai Ageng Gribig

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menghadiri Grebeg Ageng Saparan Andum Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom Klaten.

MAKLUMAT — Langkah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuju kawasan Sendang Plampeyan, Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat (31/7/2026), bukan sekadar menghadiri sebuah agenda budaya. Di tempat itulah, ribuan warga berkumpul dalam Grebeg Ageng Saparan Andum Apem Yaa Qowiyyu Kiai Ageng Gribig, tradisi yang telah diwariskan lebih dari 400 tahun.

Di tengah lautan manusia yang memadati Jatinom, Airlangga hadir bukan hanya sebagai pejabat negara. Ia pulang sebagai dzurriyah (keturunan) Kiai Ageng Gribig, ulama besar penyebar Islam di tanah Jawa yang namanya terus hidup melalui tradisi Andum Apem Yaa Qowiyyu.

Momen tersebut menjadi perjumpaan antara sejarah keluarga, warisan budaya, dan semangat menjaga nilai-nilai yang telah mengakar lintas generasi.

Melalui akun media sosial X, Airlangga mengungkapkan rasa syukurnya dapat kembali mengikuti tradisi yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarganya.

“Bersyukur dapat berkumpul kembali bersama ribuan warga masyarakat Klaten dan sekitarnya menghadiri acara Grebeg Ageng Saparan Andum Apem Yaa Qowiyyu Kiai Ageng Gribig di Jatinom, Jawa Tengah. Kali ini hadir bersama putra-putra saya, keluarga besar, dan para sahabat,” tulis Airlangga.

Kehadirannya bersama putra-putra dan keluarga besar seolah menjadi simbol bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Tradisi yang Menyatukan Generasi

Bagi Airlangga, Grebeg Saparan bukan sekadar festival budaya atau seremoni keagamaan.

Baca Juga  Rakerkonas Digelar Tuntas, Apindo Tak Mau Sekadar Kertas

Tradisi tersebut menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang diajarkan Kiai Ageng Gribig, mulai dari keteladanan, kelembutan dalam berdakwah, semangat berbagi, hingga pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.

Sebagai salah satu keturunan Kiai Ageng Gribig, Airlangga mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap tradisi ini. Namun menurutnya, makna Grebeg Saparan jauh melampaui hubungan darah.

Tradisi tersebut telah menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

“Tema tahun ini, Ingaluhur Rinasa Trusthaning Gusti, mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun ilmu, jabatan, maupun pencapaian yang dimiliki, semuanya harus berpijak pada kerendahan hati, tawakal, dan kepercayaan penuh kepada Allah SWT,” ujar Airlangga.

Ia juga menilai nilai-nilai yang diwariskan Kiai Ageng Gribig tetap relevan di tengah kehidupan modern yang dipenuhi perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.

Jejak Dakwah Lewat Sepotong Apem

Tradisi Andum Apem Yaa Qowiyyu tidak lahir dari kemegahan sebuah kerajaan ataupun kekuasaan politik.

Menurut catatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kiai Ageng Gribig yang memiliki nama asli Syekh Wasibagno Timur dikenal sebagai ulama yang menyebarkan Islam di wilayah Jatinom, Klaten, dengan pendekatan yang damai dan penuh kebijaksanaan.

Salah satu kisah yang terus hidup hingga kini adalah ketika sepulang menunaikan ibadah haji dari Makkah, Kiai Ageng Gribig membawa oleh-oleh berupa kue apem.

Jumlah apem yang dibawanya ternyata tidak cukup untuk dibagikan kepada seluruh santri, keluarga, dan masyarakat yang datang menyambutnya. Beliau kemudian meminta keluarganya membuat apem dalam jumlah lebih banyak agar semua orang dapat merasakan kebahagiaan yang sama.

Baca Juga  Negosiasi Tarif Indonesia-AS Bersifat Rahasia, Prabowo Bentuk Tiga Satgas Khusus

Sejak saat itulah tradisi membagikan apem terus diwariskan.

Kata apem dipercaya berasal dari bahasa Arab afwun yang berarti maaf atau ampunan. Sementara istilah Yaa Qowiyyu berasal dari doa yang selalu dipanjatkan Kiai Ageng Gribig setelah pengajian.

“Ya Qowiyyu, Ya Aziz, qowwina wal muslimin. Ya Qowiyyu warzuqna wal muslimin.”

Doa tersebut bermakna permohonan kepada Allah SWT agar memberikan kekuatan dan rezeki kepada seluruh kaum muslimin.

Dari makanan sederhana itulah lahir sebuah tradisi yang bertahan selama lebih dari empat abad.

Enam Ton Apem Diperebutkan Puluhan Ribu Warga

Puncak Grebeg Saparan selalu menghadirkan suasana yang penuh antusiasme.

Dua gunungan apem, yakni gunungan lanang dan gunungan wadon, diarak dari Masjid Gedhe Jatinom menuju Sendang Plampeyan.

Gunungan itu disusun dengan formasi 4-2-4-4-3, melambangkan jumlah rakaat salat lima waktu. Di sela-selanya disisipkan kacang panjang, tomat, dan wortel sebagai simbol kehidupan masyarakat agraris.

Sesampainya di Sendang Plampeyan, sekitar enam ton apem didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat.

Saat itulah ribuan tangan terangkat.

Ada yang membentangkan kain jarik.

Ada pula yang mengangkat jaring sederhana.

Semuanya berharap memperoleh sepotong apem yang diyakini membawa keberkahan.

Tradisi yang lahir dari semangat berbagi itu kini menjadi magnet budaya yang setiap tahun menarik puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah.

Budaya yang Menghidupkan Ekonomi Rakyat

Bagi Airlangga Hartarto, Grebeg Saparan juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya mampu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

Puluhan ribu pengunjung yang hadir menggerakkan aktivitas UMKM, pedagang kaki lima, pembuat apem, perajin, pelaku transportasi lokal, hingga sektor pariwisata.

“Kita berharap apa yang diajarkan Kiai Ageng Gribig terus dilanjutkan, terutama untuk mendorong nilai-nilai perekonomian masyarakat dan kebahagiaan masyarakat. Sekali dalam setahun kita guyub rukun menikmati apem,” katanya.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto menyebut pesanan pembuatan apem selama rangkaian acara mencapai sekitar enam hingga tujuh ton.

Baca Juga  Patungan Donatur Hadiahkan Motor untuk Guru MIM

Produksi dalam jumlah besar tersebut melibatkan warga Jatinom dan daerah sekitarnya. Selain pembuat apem, berkah ekonomi juga dirasakan pengelola parkir, pedagang makanan, pemilik angkringan, penyedia transportasi lokal, hingga pelaku usaha oleh-oleh.

Tradisi yang diwariskan leluhur terbukti tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.

Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya global, Airlangga memandang Grebeg Ageng Saparan sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak boleh membuat bangsa kehilangan akar budayanya.

Warisan Kiai Ageng Gribig mengajarkan bahwa dakwah dapat dilakukan melalui keteladanan, kelembutan, dan semangat berbagi.

Nilai-nilai itulah yang terus hidup melalui tradisi Andum Apem Yaa Qowiyyu.

Menutup sambutannya, Airlangga mengajak masyarakat menjaga tradisi tersebut agar tetap lestari hingga ratusan tahun mendatang.

“Setuju kalau tradisi ini dipertahankan 400 tahun lagi? Kalau setuju, ayo kita pertahankan 400 tahun lagi.”

Ajakan itu bukan hanya tentang melestarikan sebuah upacara adat.

Lebih dari itu, menjaga Grebeg Ageng Saparan berarti merawat memori kolektif bangsa, memperkuat persaudaraan, serta memastikan nilai gotong royong, kebersamaan, dan semangat berbagi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Karena pada akhirnya, pulang kampung bukan semata kembali ke tempat asal. Bagi Airlangga Hartarto, pulang ke Jatinom adalah kembali menyapa akar sejarah, menghormati warisan leluhur, dan mengingatkan bahwa tradisi yang dirawat akan selalu menemukan jalannya menuju masa depan.***