KKN UMLA Kelompok 11 Serahkan AERIS, Sistem Monitoring Kualitas Udara Berbasis IoT untuk Desa Sidokelar

Mahasiswa UMLA menutup masa KKN dengan menyerahkan inovasi teknologi bernama AERIS kepada Pemerintah Desa Sidokelar. (Foto: Dok. KKN)

MAKLUMAT — Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) Kelompok 11 Desa Sidokelar, Kabupaten Lamongan, resmi ditutup pada Rabu (12/8/2026). Penutupan yang berlangsung di Balai Desa Sidokelar tersebut ditandai dengan penyerahan inovasi teknologi berupa sistem monitoring kualitas udara berbasis Internet of Things (IoT) kepada Pemerintah Desa (Pemdes) Sidokelar.

Inovasi yang diberi nama AERIS (Air Environment Real-time Intelligent Sensor) itu dirancang untuk membantu pemerintah desa memperoleh informasi mengenai kondisi udara secara real-time. Perangkat tersebut dipasang di pendopo Balai Desa Sidokelar.

Perwakilan Pemerintah Desa Sidokelar melalui Kepala Dusun Sentul, Taufik, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KKN UMLA Kelompok 11, terutama melalui inovasi AERIS.

“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada mahasiswa KKN UMLA Kelompok 11 yang telah memberikan inovasi berupa sistem monitoring kualitas udara ini,” ucapnya.

“Tentunya alat ini sangat bermanfaat bagi desa, khususnya untuk membantu memantau kondisi kualitas udara dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kami berharap teknologi ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kepentingan masyarakat Desa Sidokelar,” sambung Taufik.

AERIS dikembangkan dengan memanfaatkan sejumlah komponen teknologi, antara lain ESP32, DHT22, ZH03B, MQ-135, serta LCD I2C. Sistem tersebut dapat memantau sejumlah parameter lingkungan, meliputi suhu udara, kelembapan, konsentrasi PM2.5, serta indeks gas secara relatif.

Baca Juga  Gandeng PCIM Malaysia, UMLA Bangun Komunitas Sehat dan Berdaya di Negeri Jiran

Data hasil pemantauan ditampilkan melalui layar LCD pada perangkat. Selain itu, pemantauan jarak jauh dapat dilakukan melalui dashboard Blynk, sementara data historis disimpan menggunakan ThingSpeak. Sistem juga dilengkapi fitur notifikasi peringatan ketika kondisi kualitas udara berada pada tingkat yang kurang baik.

Sistem AERIS menyediakan tampilan lokal yang memperlihatkan suhu, kelembapan, PM2.5, kualitas gas, dan status kualitas udara. Dalam kondisi tertentu, sistem juga dapat mengirimkan notifikasi kepada perangkat pengurus desa melalui Blynk.

Kehadiran AERIS diharapkan dapat membantu Pemerintah Desa Sidokelar meningkatkan pemantauan kondisi lingkungan. Hal tersebut dinilai relevan dengan kondisi wilayah yang berada dalam konteks lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas industri.

Data historis yang tersimpan dapat digunakan sebagai dokumentasi dan bahan evaluasi kondisi lingkungan. Informasi tersebut juga berpotensi menjadi salah satu bahan pendukung dalam pengambilan kebijakan terkait lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 11 KKN UMLA, Rohmat ST MSc, menekankan bahwa kegiatan KKN tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar bermasyarakat, tetapi juga menjadi kesempatan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam merespons persoalan di masyarakat.

“KKN bukan sekadar hadir di tengah masyarakat, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menghadirkan solusi yang memberikan manfaat dan dapat dilanjutkan setelah program KKN selesai,” tegasnya.

Baca Juga  Alur Registrasi Peserta untuk Kajian Ramadan PWM Jatim di UMLA

“AERIS menjadi salah satu bentuk nyata inovasi mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi untuk membantu masyarakat dan pemerintah desa melakukan pemantauan kualitas lingkungan secara lebih informatif dan berkelanjutan,” imbuh Rohmat.

Penyerahan perangkat tersebut menjadi bagian dari upaya keberlanjutan program KKN Kelompok 11 di Desa Sidokelar. Dengan perangkat dan data yang dihasilkan, pemerintah desa diharapkan dapat melanjutkan pemantauan kondisi lingkungan setelah rangkaian KKN berakhir.

Penutupan masa KKN tersebut sekaligus menjadi momentum bagi mahasiswa Kelompok 11 untuk menyerahkan hasil program kepada Pemerintah Desa Sidokelar setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan pengabdian di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, KKN UMLA Kelompok 11 menunjukkan bahwa kolaborasi antara pendidikan tinggi, mahasiswa, dan pemerintah desa dapat menghasilkan inovasi yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi memiliki potensi untuk terus dimanfaatkan dalam mendukung pengelolaan lingkungan berbasis teknologi.***

*) Penulis: Icha Aisyah Dewi