MAKLUMAT — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan dukacita atas bencana yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana NTT tersebut berdampak pada masyarakat, termasuk murid, guru, maupun tenaga kependidikan. Kemendikdasmen memastikan warga sekolah terdampak tetap mendapat dukungan agar proses pembelajaran dan pemenuhan hak belajar murid dapat berjalan sesuai kondisi di lapangan.
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti mengatakan keselamatan warga sekolah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pola pembelajaran di wilayah terdampak. Sekolah dapat menyesuaikan kegiatan belajar dengan situasi yang dihadapi.
“Prioritas dan komitmen Kemendikdasmen adalah keselamatan guru dan murid di wilayah bencana. Karena itu, pembelajaran yang dilakukan juga mempertimbangkan keselamatan guru dan murid. Salah satunya menggunakan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat,” kata Abdul Mu’ti.
Kemendikdasmen juga telah mengirimkan bantuan untuk mendukung pembelajaran di sejumlah wilayah terdampak. Tim yang tiba di Labuan Bajo membawa perlengkapan untuk membantu warga sekolah selama masa darurat.
“Tim Kemendikdasmen yang sudah sampai di Labuan Bajo telah membawa bantuan yang berisi 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, dan 70 family kit untuk mendukung pembelajaran di masa darurat,” tambah Abdul Mu’ti.
Berdasarkan data Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026, bencana berdampak pada 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Kondisi tersebut mencakup 94.452 murid serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan. Sebanyak 276 satuan pendidikan dengan 52.268 murid mengalami gangguan pembelajaran karena sekolah diliburkan. Sebagian murid mengikuti kegiatan belajar dari rumah atau dari titik pengungsian.
Panduan Pembelajaran di Masa Darurat
Kemendikdasmen melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) menyiapkan panduan pembelajaran bagi satuan pendidikan yang terdampak. Panduan tersebut disusun untuk membantu sekolah mempertahankan kegiatan belajar dengan menyesuaikan keadaan di wilayah masing-masing.
Kepala BKPDM, Toni Toharudin mengatakan murid dan guru yang terdampak bencana di NTT masih menjadi perhatian Kemendikdasmen. Dukungan diberikan agar sekolah tetap dapat menjalankan pembelajaran meski menghadapi keterbatasan.
“Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan. Kehadiran dan dukungan bagi warga sekolah terdampak menjadi bagian dari komitmen kami untuk memastikan pendidikan tetap berjalan dalam situasi apa pun,” ujarnya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Panduan tersebut memberi ruang bagi satuan pendidikan untuk mengatur pembelajaran berdasarkan tingkat kerusakan, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi murid dan guru, serta keadaan lingkungan sekitar. Pola belajar tidak harus mengikuti sistem yang diterapkan dalam kondisi normal.
Sekolah dapat memprioritaskan materi yang dianggap penting dan sesuai dengan kebutuhan murid. Dukungan psikososial, keselamatan diri, literasi dan numerasi dasar, serta pemulihan rutinitas belajar menjadi bagian yang perlu diperhatikan selama masa darurat.
Metode pembelajaran juga dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Kegiatan dapat dilakukan melalui tatap muka secara terbatas, pembelajaran mandiri, atau metode lain yang memungkinkan berdasarkan sumber daya yang tersedia.
Aspek psikososial turut mendapat perhatian dalam panduan tersebut. Bencana dapat memengaruhi kondisi emosional murid, guru, dan tenaga kependidikan. Sekolah diharapkan dapat menjadi ruang yang aman untuk membantu warga sekolah memulihkan diri dan kembali menjalankan kegiatan belajar secara bertahap.
Kemendikdasmen juga menyediakan contoh pembelajaran yang dapat digunakan sebagai rujukan oleh satuan pendidikan dalam menyusun kegiatan belajar setelah bencana. Materi tersebut dapat diakses masyarakat melalui laman Rumah Pendidikan.
Kemendikdasmen mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan di NTT menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi di lapangan. Keselamatan warga sekolah menjadi pertimbangan utama agar murid tetap memperoleh hak atas pendidikan selama masa pemulihan.
Penulis: M Habib Muzaki













