Kader Muhammadiyah Asal Pesisir Lamongan Kini Berkiprah di DMI

Silaturrahim PC DMI Kecamatan Sukolilo ke KUA Sukolilo di Graha Masyitah, Jalan Menur Pumpungan No. 34, Surabaya, Jumat (21/8/2026). (Foto: Dok. Pribadi/ IST)

MAKLUMAT — Kader Muhammadiyah asal kawasan pesisir Lamongan, Ahmad Mahmudi MPd, turut mengambil bagian dalam kepengurusan Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (PC DMI) Kecamatan Sukolilo periode 2026–2031.

Ahmad Mahmudi sebelumnya aktif di Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lamongan. Kini, ia melanjutkan kiprah pengabdiannya di Surabaya melalui keterlibatannya dalam organisasi kemasjidan.

Keterlibatan tersebut mengemuka dalam silaturahmi PC DMI Kecamatan Sukolilo dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukolilo di Graha Masyitah, Jalan Menur Pumpungan No. 34, Surabaya, Jumat (21/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Ketua PC DMI Kecamatan Sukolilo, Drs H Barokah MPd, memperkenalkan jajaran pengurus periode 2026-2031 yang berasal dari berbagai unsur organisasi kemasyarakatan Islam.

“Pengurus PC DMI Kecamatan Sukolilo periode 2026-2031 dari berbagai unsur ormas. Insya Allah, masing-masing ormas sudah ada yang mewakili,” ujar Barokah.

DMI Milik Semua

Ketua KUA Kecamatan Sukolilo, H Ahmad Tholhah SAg MAg, menyambut baik komposisi kepengurusan lintas organisasi tersebut. Ia menilai keberagaman latar belakang dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan kemasjidan.

“DMI ini adalah milik bersama. Semua ormas Islam bersatu untuk membangun kemaslahatan umat,” kata Ahmad Tholhah.

Kader Muhammadiyah Harus Berani Ambil Peran

Dalam kesempatan itu, ia juga secara khusus mendorong kader Muhammadiyah untuk mengambil peran dalam organisasi keagamaan yang memiliki ruang pengabdian lebih luas. “Kader Muhammadiyah harus berperan aktif dalam organisasi keagamaan,” tegasnya.

Baca Juga  Perjuangan dari Lereng Pegunungan, Nemshy Buktikan Pendidikan Mampu Mengubah Masa Depan

Menurutnya, kader Muhammadiyah memiliki pengalaman organisasi dan tradisi pengabdian yang dapat menjadi kontribusi ketika berada di tengah organisasi masyarakat yang lebih luas.

“Jangan hanya aktif di lingkungan sendiri. Ketika ada ruang untuk berkontribusi bagi umat, kader Muhammadiyah harus hadir,” tandas Ahmad Tholhah.

Pesan tersebut memiliki keterkaitan dengan latar belakang Ahmad Tholhah dan Ahmad Mahmudi yang sama-sama berasal dari Paciran, Lamongan.

Ahmad Tholhah merupakan putra daerah Paciran yang kemudian melanjutkan kiprahnya di Surabaya. Sementara Ahmad Mahmudi sebelumnya aktif di PDPM Lamongan dan kini mengabdi sebagai guru di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya.

Keterlibatan Ahmad Mahmudi di PC DMI Sukolilo menunjukkan salah satu bentuk perpindahan ruang pengabdian kader dari daerah asal menuju lingkungan organisasi yang lebih beragam.

“Dari NU ada yang mewakili, dari LDII juga ada yang mewakili, dari Muhammadiyah diwakili oleh anak muda yang enerjik,” seloroh Ahmad Tholhah.

Ia menilai, keterlibatan berbagai unsur organisasi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan umat. Menurutnya, DMI perlu menjadi ruang bersama yang tidak dibatasi oleh perbedaan organisasi.

“Perbedaan ormas jangan menjadi penghalang untuk bekerja sama. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun kemaslahatan umat,” kata Ahmad Tholhah.

Baca Juga  Hadiri FORDA II Jatim, Anggota DPRD Surabaya Beri Suntikan Semangat

Persoalan dan Tantangan DMI

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Tholhah juga menyampaikan sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian PC DMI, salah satunya konflik internal di lingkungan takmir masjid.

“Konflik internal di masing-masing takmir harus menjadi perhatian. DMI harus hadir memberikan arahan dan membantu mencari solusi,” ujarnya.

Selain persoalan internal takmir, ia mendorong adanya pembinaan terhadap imam rawatib, terutama dalam kemampuan tahsin Al-Qur’an.

“Pembinaan imam rawatib penting. Bacaan Al-Qur’an harus terus ditingkatkan agar kualitas pelayanan ibadah di masjid semakin baik,” katanya.

Kebersihan masjid juga menjadi bagian dari perhatian dalam pengelolaan kemasjidan. Takmir didorong memastikan masjid tetap bersih dan nyaman bagi jamaah.

Sementara itu, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Sukolilo, Ustaz Mochammad Abdullah, mengatakan persoalan kemasjidan memiliki dinamika yang terus berkembang sehingga membutuhkan pengelolaan dan pendampingan.

“Konflik kemasjidan selalu dinamis. Karena itu, DMI harus mampu mengakomodasi setiap permasalahan masjid,” ujarnya.

Abdullah juga menekankan pentingnya pengawalan aspek legalitas masjid, termasuk masjid yang berdiri di atas tanah dengan status yang masih perlu diperjelas. “Masjid yang berdiri di tanahnya hijau, kita harus mengawal legalitasnya,” katanya.

Selain legalitas, ia mengingatkan peran marbot dalam menjaga kesucian dan kebersihan masjid. “Marbot harus bisa menjaga kesucian masjid. Ini bagian penting dari pengelolaan masjid,” tandas Abdullah.

Baca Juga  Takziyah Sis Sugiono: Pencipta Mars Pemuda Muhammadiyah Baru