MAKLUMAT — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa moderasi dalam Islam juga harus melahirkan kemajuan. Inilah yang akan menjadi kekuatan agama agar mampu berkontribusi dalam kehidupan bangsa.
“Kami Muhammadiyah akan selalu bersama-sama membersamai bangsa ini melalui pandangan Islam Berkemajuan yang modern, menanamkan nilai-nilai religius sebagai faktor untuk kita bertahan sampai kapan pun sebuah bangsa,” kata Haedar saat menerima Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (26/8/2026) malam.
Sikap wasathiyah atau moderasi dalam kehidupan beragama, kata Haedar, bukan semata-mata dipahami sebagai posisi tengah atau sikap yang menghindari konflik. Moderasi lebih dari itu harus memiliki orientasi yang lebih luas, yakni menghadirkan kebaikan, keadilan, sekaligus kemajuan.
“Pandangan moderasi dari apa yang saya pikirkan dan juga Muhammadiyah pikirkan adalah bukan sekadar menanam benih-benih kebaikan, keadilan, tetapi juga kemajuan dan pada akhirnya rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Tradisi Good Governance Muhammadiyah
Untuk sampai ke sana, keberagamaan yang ditunjukkan ekspresi atau wacana saja tidaklah cukup. Nilai-nilai agama perlu diterjemahkan menjadi praktik yang membangun kehidupan sosial, memperkuat karakter manusia, dan mendorong kemajuan. Pandangan tersebut juga sejalan dengan cara Muhammadiyah mengelola organisasinya. Tradisi tata kelola organisasi yang sehat telah dibangun Muhammadiyah sejak lama.
Ia menceritakan pengalamannya bersama sang istri yang masih menjabat sebagai ketua umum PP Aisyiyah ketika bertemu Aburizal Bakrie. “Beliau spontan menyampaikan, ‘Oh Aisyiyah, dulu ketika saya menjadi mentor, kami memberi banyak memberikan bantuan dan dukungan program untuk organisasi-organisasi kemasyarakatan, tetapi hanya Aisyiyah yang memberi laporan dengan sangat tebal,’” tutur Haedar.
Bagi Haedar, pengalaman tersebut bukan sesuatu yang kebetulan. Ia menyebut praktik akuntabilitas merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan para pendiri Muhammadiyah. “Saya komentar, itu tradisi yang diberikan para pendiri Muhammadiyah untuk kami,” katanya.
Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal membangun kesadaran mengenai pentingnya tata kelola organisasi yang baik atau good governance. Pengelolaan keuangan organisasi, menurutnya, tidak diserahkan secara personal kepada pimpinan. “Kami semua diajari untuk selalu good governance,” ujarnya.
Bahkan, kata Haedar, seorang ketua umum tidak boleh berurusan dengan uang meski pun untuk organisasi. Pengelolaan tersebut berada dalam sistem kelembagaan yang dilengkapi dengan mekanisme pemeriksaan dan pengawasan.
“Seorang Ketua Umum tidak pernah berurusan dan menyentuh urusan uang karena di depan ada lembaga pemeriksa dan pengawas keuangan yang memeriksa seluruh aset Muhammadiyah sampai ke bawah,” kata Haedar.
Menurut Guru Besar Sosiologi itu, praktik ini menunjukkan bahwa nilai keagamaan dan tata kelola organisasi dapat berjalan beriringan. Islam Berkemajuan tidak hanya berbicara mengenai gagasan keagamaan, tetapi juga menuntut organisasi memiliki sistem yang akuntabel dan profesional.
Dengan demikian, moderasi dan kemajuan bukan hanya gagasan yang berada pada wilayah pemikiran. Keduanya juga perlu diwujudkan melalui praktik kelembagaan yang menjaga kepercayaan publik.
Haedar mengatakan Muhammadiyah akan terus mengambil bagian dalam perjalanan Indonesia dengan membawa nilai Islam yang moderat, modern, dan berorientasi pada kemajuan.
Seluruh komponen bangsa perlu dipandang sebagai bagian dari satu kesatuan yang harus saling menguatkan. “Meletakkan seluruh komponen bangsa adalah saudara, kita akan menjadi kuat dan dalam kebersamaan kita bisa menjadi maju,” kata Haedar.













