MAKLUMAT — Mengikuti organisasi menjadi salah satu pilihan mahasiswa untuk mencari ruang aktualisasi diri, membangun jejaring, atau sekadar mengisi waktu. Apa pun alasan seseorang bergabung, setiap individu tentu memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda. Karena itu, organisasi semestinya menjadi ruang yang mampu mengakomodasi keragaman tersebut, bukan justru menyeragamkannya.
Pertanyaan yang kemudian penting diajukan adalah sejauh mana organisasi mampu menjadi ruang aktualisasi diri, pembentukan karakter, bahkan batu loncatan menuju tujuan yang lebih besar. Sebab, dalam praktiknya, organisasi tidak jarang terjebak pada pola hierarki dan budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Struktur yang semula dibuat untuk mempermudah kerja kolektif perlahan dapat berubah menjadi sesuatu yang justru membatasi gerakan.
Persoalan gerakan hari ini bukan semata-mata karena tidak ada orang yang ingin terlibat. Masalahnya justru terletak pada struktur yang tidak selalu relevan dengan cara manusia bergerak pada zaman sekarang. Banyak individu telah memiliki kemandirian berpikir, sehingga tidak mudah digerakkan hanya melalui instruksi atau narasi yang bersifat utopis. Mereka membutuhkan alasan yang rasional, ruang untuk berdialog, sekaligus kesempatan mengambil inisiatif.
Dari Piramida Menuju Gerakan Rimpang
Paradigma organisasi hierarkis bekerja dengan pola yang relatif sederhana: individu bergabung, menerima struktur, mengikuti instruksi, kemudian bergerak sesuai keputusan organisasi. Model semacam ini pernah sangat relevan. Ketika sumber daya, informasi, dan jaringan komunikasi masih terbatas, organisasi menjadi alat penting untuk menyatukan suara yang tercerai-berai.
Struktur menjadi teknologi sosial untuk mengorganisasi massa, mendistribusikan tugas, dan menentukan arah gerakan. Organisasi bahkan dapat menjadi rumah bagi gagasan perubahan. Namun, rumah yang awalnya dibangun untuk melindungi gerakan dapat berubah menjadi pagar ketika struktur lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Gejala tersebut dapat terlihat dari paradoks yang semakin sering muncul: rapat bertambah banyak, tetapi keputusan justru semakin lambat. Sementara itu, realitas sosial bergerak jauh lebih cepat. Perbedaan pandangan juga acap kali dianggap sebagai bentuk pembangkangan, padahal kritik seharusnya menjadi bagian dari mekanisme organisasi untuk menguji apakah arah gerak masih sesuai dengan nilai yang diperjuangkan.
Loyalitas semestinya diberikan kepada nilai dan tujuan, bukan semata-mata kepada struktur atau figur tertentu. Sebab, organisasi yang tidak memberikan ruang bagi kritik berisiko kehilangan kemampuan untuk melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.
Di tengah kondisi tersebut, muncul gagasan mengenai gerakan rimpang. Istilah ini merujuk pada konsep rhizome yang diperkenalkan Gilles Deleuze dan Félix Guattari. Secara sederhana, rimpang menggambarkan jaringan yang tumbuh secara horizontal dan tidak bergantung pada satu pusat. Jahe, kunyit, dan beberapa jenis rumput merupakan contoh tumbuhan yang berkembang melalui pola semacam ini.
Dalam konteks gerakan sosial, gagasan tersebut dapat dibaca sebagai model kolektif yang tidak menjadikan struktur sebagai pusat kehidupan gerakan. Tidak ada satu titik yang sepenuhnya menjadi sumber komando. Individu dapat mengambil inisiatif, terhubung dengan individu lain, lalu membangun simpul-simpul kerja berdasarkan kesamaan keresahan dan nilai.
Paradigmanya pun berubah. Individu tidak lagi sekadar masuk organisasi, menerima struktur, menerima instruksi, lalu bergerak. Sebaliknya, individu menemukan persoalan, mengambil inisiatif, bertemu dengan orang yang memiliki keresahan serupa, kemudian membentuk gerakan secara kolektif.
Dalam model seperti ini, individualitas bukan lawan dari kolektivitas. Justru, individualitas dapat menjadi akar kesadaran untuk membangun kolektivitas. Seseorang tetap dapat memiliki otonomi dalam menentukan pilihan, tetapi pada saat yang sama mampu bekerja bersama ketika menemukan tujuan dan prinsip yang sama.
Gerakan rimpang juga membuka ruang yang lebih egaliter. Seorang koordinator tetap mungkin diperlukan, tetapi perannya bukan sebagai pusat kekuasaan. Ia berfungsi menghubungkan simpul, menjaga komunikasi, dan membantu memastikan gerakan tetap berjalan. Semangatnya bukan “siapa yang paling berkuasa”, melainkan bagaimana setiap individu dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya.
Organisasi sebagai Ekosistem
Perubahan cara bergerak tersebut tidak berarti organisasi harus ditinggalkan. Justru, organisasi masih memiliki peran penting dalam membangun pengorganisasian yang terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan. Yang perlu dipikirkan kembali adalah bagaimana struktur tersebut digunakan.
Jika melihat perjalanan gerakan secara temporal, setidaknya terdapat tiga fase. Pertama, organisasi sebagai mesin: orang berkumpul karena membutuhkan struktur. Kedua, organisasi sebagai institusi: struktur dipertahankan karena telah menjadi identitas. Ketiga, organisasi sebagai ekosistem: individu dan kelompok terhubung karena memiliki nilai serta keresahan yang sama.
Pada fase ketiga, organisasi tidak harus menjadi satu-satunya rumah gerakan. Ia dapat menjadi salah satu simpul dalam jaringan yang lebih luas. Mahasiswa, kelompok musik, komunitas lingkungan, karang taruna, maupun kelompok masyarakat lainnya dapat terhubung tanpa harus meleburkan identitas masing-masing.
Tentu model rimpang bukan tanpa risiko. Gerakan yang terlalu cair dapat menghadapi persoalan konsistensi, keberlanjutan, dan akuntabilitas. Ia juga berpotensi terjebak pada agenda yang hanya bersifat momentum tanpa komitmen jangka panjang. Karena itu, gerakan rimpang tetap membutuhkan pengorganisasian, pembacaan situasi, pembagian peran, dan memori kolektif.
Dengan demikian, tantangannya bukan memilih antara struktur atau kebebasan secara mutlak. Yang dibutuhkan adalah menemukan titik temu antara struktur, otonomi, jejaring, inisiatif, dan memori kolektif.
Organisasi mungkin membutuhkan struktur untuk bertahan, tetapi gerakan membutuhkan kebebasan untuk tumbuh. Karena itu, pertanyaan apakah yang harus diubah adalah struktur atau individunya mungkin tidak tepat jika ditempatkan secara berhadap-hadapan. Keduanya perlu bertransformasi secara bersamaan.
Organisasi masa depan bukan hanya tentang siapa yang berada di barisan paling depan, tetapi siapa yang mampu memperbanyak simpul, merawat perbedaan, dan mempertemukan individu melalui nilai yang sama. Sebab, kekuatan gerakan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya anggota, melainkan oleh seberapa kuat hubungan antarsimpul yang membentuknya.
Pada akhirnya, masa depan gerakan mungkin bukan lagi tentang membangun piramida yang semakin tinggi, melainkan menumbuhkan jaringan yang semakin luas. Bukan menghilangkan organisasi, tetapi melampaui batas-batas strukturalnya agar manusia tetap memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri sekaligus bergerak bersama.
*) Penulis: Nara Rizal As’sae
Ketua Umum Koorkom IMM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)













