Dari Pasuruan, ‘Aisyiyah Siapkan Hutan Wakaf untuk Pemberdayaan Perempuan

hutan wakaf

MAKLUMAT — Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur bersama Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) dan Eco Bhinneka Muhammadiyah menyiapkan program hutan wakaf yang menggabungkan pengelolaan lingkungan dengan pemberdayaan perempuan. ‘Aisyiyah Training Center (ATC) Jawa Timur di Pasuruan dipilih sebagai lokasi percontohan program tersebut.

Program yang diberi nama Hutan Wakaf SITI KANAYA (Sinergi Inovasi Transformasi dan Inklusi untuk Masyarakat Sejahtera) itu akan dimulai dari lahan wakaf sekitar 3.300 meter persegi di kawasan ATC. Tim LATIN dan Eco Bhinneka Muhammadiyah sebelumnya telah melakukan koordinasi, survei, dan pre-assessment terhadap lahan tersebut pada Ahad (30/8/2026).

Ketua PWA Jawa Timur, Rukmini Amar, mengatakan pengembangan tahap awal akan berlangsung selama lima bulan dengan ATC sebagai lokasi percontohan. Setelah model pengelolaannya terbentuk, program tersebut diharapkan dapat dikembangkan ke wilayah lain.

“Harapannya, pengembangan hutan wakaf ini dapat memperkaya pemanfaatan kawasan ATC sehingga keberadaannya semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Rukmini.

Rukmini melihat kawasan ATC memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan bersama program hutan wakaf. Pengelolaan lahan nantinya dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan pemberdayaan perempuan, sekaligus membuka peluang pengembangan ekowisata berbasis potensi lokal.

Baca Juga  ‘Aisyiyah Gelar Konsolidasi Nasional, Kokohkan Dakwah Kesehatan untuk Umat

Kepala ‘Aisyiyah Training Center (ATC) Jawa Timur, Aminah Asminingtyas, juga menilai program tersebut dapat memperluas pemanfaatan kawasan ATC. Menurutnya, lahan dan fasilitas yang sudah tersedia dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Dengan adanya hutan wakaf ini, mudah-mudahan semakin memperkaya apa yang sudah kita manfaatkan di kawasan ATC, sehingga seluruh fasilitas dan lahan yang ada dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Aminah.

Wakil Ketua PWA Jawa Timur Koordinator Bidang Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB), Nelly Asnifati, menilai keterlibatan ‘Aisyiyah perlu dimulai sejak tahap perencanaan. Ia menekankan pentingnya tim lokal yang memahami kondisi tanah dan masyarakat di sekitar lokasi agar program dapat berjalan dalam jangka panjang.

“Yang penting ada orang yang memahami betul kondisi di sini, mulai dari kondisi tanah hingga situasi masyarakat. Tim ini juga harus mampu menggerakkan ibu-ibu, kader, dan relawan yang sudah ada,” ujar Nelly.

Nelly menilai keterlibatan perempuan dan kader lokal menjadi bagian penting dalam pengelolaan hutan wakaf. Tim kerja nantinya akan melibatkan unsur ‘Aisyiyah, pengelola ATC, kader, dan masyarakat setempat.

Sementara itu, Novan Aji Imron dari LATIN menjelaskan program lima bulan akan digunakan untuk membangun dasar pengelolaan hutan wakaf. Tahap tersebut mencakup penyusunan rencana kerja dan site plan, pembentukan kelembagaan pengelola, penanaman dan perawatan, serta peningkatan kapasitas pengelola.

Baca Juga  Lentera Perubahan dari Buku Spiritual Changemakers

Pengembangan lahan juga akan mempertimbangkan potensi agroforestri, tanaman pangan, dan tanaman obat. LATIN menggunakan pendekatan landscape agar pengelolaan hutan wakaf tidak berhenti pada lahan wakaf, tetapi dapat terhubung dengan kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun model pengelolaan hutan wakaf yang menempatkan pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan, sebagai salah satu fokusnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin (31/8/2026) itu, Ketua LLHPB PWA Jawa Timur, Sumiati, ditunjuk sebagai koordinator pengelolaan program. Tim kerja lokal selanjutnya akan dibentuk untuk menjalankan program di kawasan ATC.

Hutan Wakaf SITI KANAYA di Pasuruan ditargetkan menjadi model yang dapat diterapkan di wilayah lain. Setelah tahap awal di Jawa Timur, inisiatif tersebut direncanakan diperluas ke Jawa Barat.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki