Fanatisme Buta: Racun Peradaban Bangsa

Penulis: Hery Purnobasuki. *)

MAKLUMAT — Politik itu ibarat bumbu dalam masakan. Kalau pas, rasanya jadi nikmat. Kalau kebanyakan, malah bikin mual. Nah, yang bikin pusing kepala itu bukan politiknya, tapi orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat karena terlalu fanatik. Mereka ini bukan lagi pendukung, tapi sudah jadi semacam zombie yang rela menelan apa saja asal datang dari kubu yang sama.

Fanatik buta politik itu seperti penyakit menular yang pelan-pelan menggerogoti nalar sehat bangsa ini, dan kalau dibiarkan, kita semua bisa terjerumus ke jurang kesesatan yang dalam banget.

Ketika Logika Mati dan Emosi Berkuasa

Bayangkan ada dua orang teman dulu sangat akrab, tapi tiba-tiba jadi musuh hanya karena beda pilihan politik. Ini bukan cerita fiksi, ini kenyataan yang terjadi di sekitBerkuasa

Fanatisme politik sudah membuat orang lupa bahwa sebelum jadi pendukung partai A atau B, mereka itu manusia yang punya nalar, hati, dan akal sehat. Sekarang, yang terjadi justru sebaliknya. Logika dimatikan, emosi yang berkuasa. Orang tidak lagi mau mendengar argumen yang berbeda, apalagi kalau itu datang dari “lawan politik”.

Yang lebih parah lagi, fanatik buta itu sudah tidak peduli lagi dengan fakta. Hoaks disebar, fitnah dilempar, dan semua itu ditelan mentah-mentah asal sesuai dengan narasi kubu mereka. Mereka seperti hidup di dunia paralel di mana kebenaran itu relatif, tergantung siapa yang ngomong. Kalau yang ngomong dari kubu sendiri, meski jelas-jelas bohong, tetap dianggap suci. Tapi kalau dari kubu lawan, meski sudah dibuktikan benar, tetap dibilang fitnah. Ini bukan lagi politik, ini sudah masuk ranah kesesatan berpikir yang berbahaya.

Dampak Nyata: Dari Media Sosial ke Jalan Raya

Kita bisa lihat dampaknya di mana-mana. Di media sosial, kolom komentar jadi ajang saling serang yang tidak sehat. Orang tidak lagi berdiskusi, tapi saling menghujat. Kritik yang seharusnya membangun malah dianggap sebagai serangan personal. Yang lebih mengkhawatirkan, fanatisme ini tidak berhenti di dunia maya. Ia merembes ke dunia nyata, memicu aksi-aksi anarkis, bahkan kekerasan. Demo Agustus 2025 yang terus bergema sampai 2026 adalah contoh nyata bagaimana akumulasi kekecewaan yang dipicu oleh polarisasi politik bisa meledak jadi kerusuhan.

Baca Juga  Baperan dalam Politik Itu Artinya Tidak Meneladani KH Ahmad Dahlan

Tahun 2025 lalu, kita menyaksikan bagaimana ribuan orang turun ke jalan memprotes kebijakan yang dianggap tidak adil. Tapi di balik tuntutan yang sah itu, ada juga elemen-elemen yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan politik sempit. Mereka membakar pos polisi, merusak fasilitas umum, dan bahkan menewaskan orang. Semua ini terjadi karena ada kelompok yang sudah terlalu fanatik, sampai lupa bahwa cara mereka justru merugikan bangsa sendiri. Mereka merasa sedang berjuang untuk kebenaran, padahal sebenarnya sedang menjerumuskan bangsa ke jurang yang lebih dalam.

Demokrasi yang Sakit

Indonesia sudah 28 tahun berdemokrasi, tapi sepertinya kita masih belum belajar dari kesalahan. Demokrasi seharusnya jadi ajang adu gagasan, bukan adu jotos. Tapi apa yang terjadi? Demokrasi kita malah sakit karena terlalu banyak orang yang fanatik buta. Mereka tidak lagi menghargai perbedaan pendapat, tidak lagi mau bermusyawarah, dan yang paling parah, tidak lagi percaya pada institusi-institusi demokrasi itu sendiri.

Lihat saja bagaimana respons pemerintah terhadap protes. Alih-alih mendengarkan dan memperbaiki kebijakan, yang terjadi justru represi. Ratusan orang ditangkap, diadili, dan dipidana hanya karena menyampaikan kritik. Ini jelas tanda bahwa demokrasi kita sedang mengalami kemunduran. Pakar hukum tata negara bahkan menyebut Indonesia sedang mengarah ke otoritarianisme. Dan siapa yang paling diuntungkan dari situasi ini? Tentu saja mereka yang punya kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan, meski harus mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi.

Baca Juga  Pembaharuan Islam: Antara Pemurnian Iman dan Dinamisasi Kehidupan

Generasi Muda yang Terjebak

Yang paling menyedihkan adalah melihat generasi muda terjebak dalam pusaran fanatisme ini. Mereka yang seharusnya jadi agen perubahan, malah jadi korban propaganda politik yang tidak sehat.

Banyak anak muda yang sudah kehilangan kemampuan berpikir kritis. Mereka lebih percaya pada narasi-narasi simplistis yang disebar di media sosial daripada mencari fakta sendiri. Ini bukan salah mereka sepenuhnya, karena memang ada kekuatan-kekuatan yang sengaja menciptakan iklim ketakutan dan kebingungan.

Kasus-kasus seperti penangkapan warganet yang mengkritik pidato presiden, atau pemidanaan pekerja kantoran hanya karena mengunggah kritik di media sosial, semua ini menciptakan efek ketakutan. Orang jadi takut untuk berbicara, takut untuk berbeda pendapat. Dan dalam iklim seperti ini, fanatisme justru tumbuh subur. Karena hanya suara-suara yang sesuai dengan narasi penguasa yang dianggap aman.

Jalan Keluar: Kembali ke Nalar Sehat

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Pertama-tama, kita harus sadar bahwa fanatisme buta itu adalah musuh bersama. Ia tidak mengenal kubu, tidak mengenal partai. Ia hanya mengenal satu hal: kehancuran. Kita harus belajar untuk kembali menggunakan nalar sehat. Berpikir kritis bukan berarti tidak punya prinsip, tapi justru itu tanda bahwa kita menghargai kebenaran lebih dari sekadar loyalitas buta.

Kedua, kita perlu membangun budaya diskusi yang sehat. Berbeda pendapat itu wajar, bahkan perlu. Tapi berbeda bukan berarti bermusuhan. Kita bisa belajar dari para pendiri bangsa ini, yang meski berbeda ideologi, tetap bisa duduk bersama dan merumuskan dasar negara. Mereka tidak fanatik buta, mereka fanatik pada kebenaran dan keadilan untuk semua.

Baca Juga  Survei Puspoll: Lebih dari 80 Persen Masyarakat Masih Mendukung Pilkada Langsung

Ketiga, kita harus lebih cermat dalam menerima informasi. Jangan telan mentah-mentah apa yang kita baca di media sosial. Cek dulu faktanya, konfirmasi ke sumber yang terpercaya. Jangan jadi bagian dari rantai penyebar hoaks, karena itu sama saja dengan ikut menjerumuskan bangsa ke jurang kesesatan.

Politik Itu Sarana, Bukan Tujuan

Pada akhirnya, kita harus ingat bahwa politik itu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar: kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan kemajuan bangsa. Politik bukan tujuan itu sendiri. Ketika kita sudah melupakan ini, ketika kita sudah terlalu fanatik pada partai atau tokoh tertentu, kita sebenarnya sudah kehilangan arah. Kita seperti orang yang sibuk memperdebatkan warna mobil, tapi lupa bahwa tujuan sebenarnya adalah sampai ke destinasi dengan selamat.

Fanatik buta politik itu ibarat racun yang pelan-pelan membunuh nalar sehat bangsa ini. Kalau kita tidak segera sadar dan berubah, kita semua akan terjerumus ke jurang kesesatan yang dalam. Dan yang paling rugi? Tentu saja rakyat biasa, yang hanya ingin hidup tenang, sejahtera, dan damai.

Sudah saatnya kita berhenti jadi zombie politik, dan kembali jadi manusia yang berakal sehat. Karena hanya dengan cara itu, bangsa ini bisa keluar dari jurang kesesatan dan kembali ke jalan yang benar.***

*) Penulis: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga; Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga