Menyiapkan Generasi Masa Depan: dari “Safe AI” Menuju “Developmental AI”

Penulis: Dr. Suyoto, M.Si. *)

MAKLUMAT — Suatu hari, saya melihat cucu saya yang baru berusia lima setengah tahun sedang bercakap-cakap dengan antusias. Lawan bicaranya? Bukan boneka, juga bukan teman sebayanya. Dia sedang berbicara dengan Gemini, sebuah Model Bahasa Besar (LLM) bertenaga kecerdasan buatan (AI). Bagi generasi ini, AI bukanlah fiksi ilmiah; ia adalah kenyataan sehari-hari, seorang teman belajar yang selalu siap. Ini adalah pernyataan tak terbantahkan: AI tidak dapat dielakkan.

Sebagai orang tua, pendidik, dan pengurus pendidikan, kita tidak bisa lagi berdebat tentang apakah AI harus masuk ke dunia anak-anak kita. Pertanyaannya sekarang adalah: Bagaimana kita memastikan adopsi AI ini benar-benar untuk kebaikan hidup mereka, baik sekarang maupun di masa depan?

Kita memerlukan paradigma baru. Kita tidak bisa lagi sekadar memikirkan “Safe AI” (AI yang Aman)—sebuah pendekatan defensif yang berfokus pada apa yang tidak boleh dilakukan AI (memblokir, menyensor, membatasi). Kita harus beralih menuju “Developmental AI” (AI yang Mendukung Tumbuh Kembang)—sebuah pendekatan proaktif yang berfokus pada bagaimana AI dapat memungkinkan potensi terbaik anak.

Lima Prinsip Utama

Terdapat setidaknya lima prinsip utama dalam mendampingi anak untuk berdaptasi dengan AI, bagaimana panduan kita dalam beralih ke era AI yang mendukung tumbuh kembang dan satu tolak ukur penting dalam penggunaan AI.

Pertama, pengembangan. Keterlibatan dalam perkembangan anak (development and engagement). Dalam dunia pemasaran digital, kesuksesan sering diukur dari berapa lama seorang pengguna “terlibat” atau terpaku pada sebuah layar (metrik durasi), semakin lama dianggap semakin berhasil. Di era AI, tolak ukur ini tidak valid. Tujuan utamanya bukanlah agar anak terus-menerus menggunakan AI sebagai hiburan atau teman bicara tanpa akhir. Tugas Kita mengoptimalkan AI untuk memacu pembelajaran, ketahanan, regulasi emosi, kreativitas, dan kemandirian.

AI yang baik tidak hanya memberikan jawaban, tetapi mengajukan pertanyaan. Ia membantu anak memahami perasaan mereka melalui percakapan, menawarkan strategi koping, dan menantang kreativitas mereka untuk menciptakan sesuatu yang baru, bukan sekadar mengonsumsi konten.

Baca Juga  Siyasah Syar'iyyah, Tata Kelola Pemerintahan Dalam Kerangka Islam

Kedua, connection and not substitution (hubungan dan bukan menggantikan). Ini adalah prinsip yang sangat krusial. AI, seberapa pintarnya pun, tidak boleh menggantikan (mensubstitusi) hubungan manusiawi yang sejati.

Saat cucu saya menggunakan Gemini, ia tidak sedang menggantikan waktunya bersama saya, melainkan sedang mempelajari hal baru yang kemudian akan ia diskusikan dengan saya.

Maka tugas kita, memastikan penggunaan AI sebagai alat untuk memperkuat hubungan antara orang tua-anak, guru-murid, pertemanan, konselor-klien, dan komunitas. AI dapat memberikan alat bantu bagi guru untuk memahami profil belajar siswa, atau memberikan ide aktivitas bagi orang tua untuk dilakukan bersama anak. Jika AI menyebabkan isolasi, itu adalah tanda penggunaan yang salah. Sisi manusia yang tidak dapat digantikan AI harus dilatih lebih baik: empty, kolaborasi, imaginasi masa depan, trust dan penghayatan nilai hidup.

Ketiga, agensi bukan ketergantungan. Kita tidak ingin menciptakan generasi yang tidak bisa berpikir sendiri tanpa AI. Tujuan kita adalah memberdayakan anak, memberi mereka “agensi” (kemampuan untuk bertindak dan memilih secara sadar).

Tugas kita, gunakan AI untuk membantu anak menjadi lebih mampu (capable), yang pada akhirnya membuat AI menjadi kurang diperlukan seiring berjalannya waktu untuk tugas-tugas dasar berpikir. Ajarkan mereka untuk menggunakan AI sebagai mitra berpikir (sparring partner) untuk mempertajam kualitas penalaran mereka, bukan sebagai “joki” tugas sekolah.

Sukses bukanlah saat anak bisa menghasilkan gambar bagus dengan prompt sederhana, tetapi saat anak bisa menjelaskan mengapa mereka memilih visual tersebut dan AI membantu mewujudkannya. Pengetahuan dan saran yang dihasilkan AI hanyalah petunjuk awal hang memerlukan penilaian dan kebermanfaatan nyata dalam hidup. Anak-anak harus dipersiapkan berpikir kritis, mengenal ekosistem, dan kebermanfatan bagi semua.

Baca Juga  Pendidikan Bermutu untuk Semua: Menguji Janji di Pinggiran

Keempat, privasi bukan eksploitasi. Data anak-anak adalah data yang paling sensitif, terutama data emosional. Anak-anak sangat rentan. Kerangka berpikir Developmental AI menuntut standar etika tertinggi.

Tugas kita, sebagai pengasuh dan pendidik, kita harus menuntut agar penyedia AI memperlakukan data emosional anak sebagai data yang sangat sensitif dan sangat rahasia. Kerentanan emosional anak tidak boleh dijadikan model bisnis untuk iklan bertarget atau profil kepribadian yang komersial.

Kelima, transparansi dan akuntabilitas (transparency and accountability). Sistem AI tidak boleh menjadi “kotak hitam” yang misterius.

Maka tugas kita, harus ada pengungkapan AI yang jelas. Anak-anak harus tahu kapan mereka sedang berinteraksi dengan AI, bukan manusia. Kebijakan retensi data harus transparan. Dan yang terpenting, harus ada jalur eskalasi dan intervensi manusia yang jelas. Jika AI memberikan rekomendasi yang meragukan atau memicu kecemasan, harus ada sistem di mana orang tua atau pendidik dapat segera mengambil alih kendali.

Tolak Ukur Pamungkas (The Ultimate Measure)

Semua prinsip di atas bermuara pada satu pertanyaan tunggal: Siapa yang kita layani?

Dalam dunia nyata, real-world best practice, paradigma kita haruslah: “AI-in-the-loop, human-in-charge.” (AI di dalam lingkaran proses, Manusia yang memegang kendali).

AI adalah kecerdasan (intelligence) yang bisa diskalakan, tetapi tanggung jawab, penilaian (judgment), dan hubungan tetap menjadi tugas manusiawi kita.

Tolak ukur kesuksesan bukan lagi tentang seberapa canggih teknologi tersebut. Ujian pamungkasnya adalah “Don’t optimize children for technology. Optimize technology for the healthy development of children.” (Jangan optimalkan anak-anak untuk teknologi. Optimalkan teknologi untuk tumbuh kembang anak-anak yang sehat). Meminjam kalimat John Yu, Co founder, Chief scientist meridian AI medics, China, dalam XI International  Scholas Chairs Congress, di United Bali Campus, 4 – 6 September 2026.

Baca Juga  Gaji DPR Melambung, Masyarakat Kian Buntung

Amanah Generasi: Perspektif Islam

Sebagai penutup, mari kita renungkan amanah yang kita emban sebagai orang tua dan generasi tua, khususnya dari sudut pandang Islam.

Tanggung jawab kita bukan hanya untuk memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi juga untuk membekali mereka menghadapi zaman yang jauh berbeda dari zaman kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)

Anak-anak yang “lemah” bukan hanya lemah secara fisik atau ekonomi, tetapi juga lemah secara intelektual dan spiritual dalam menghadapi tantangan zamannya. AI adalah salah satu tantangan dan sekaligus peluang intelektual terbesar zaman ini.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan, yang maknanya: “Ajarilah anak-anakmu, sesungguhnya mereka diciptakan untuk suatu zaman yang bukan zamanmu.”

Kita, generasi tua, bertanggung jawab untuk tidak bersikap naif atau menyangkal keberadaan AI. Kita tidak bisa membiarkan mereka “dioptimalkan oleh teknologi.” Sebaliknya, kita mengemban amanah untuk menuntun mereka menggunakan AI sebagai alat bantu yang meningkatkan kualitas berpikir, bekerja, dan berhubungan dengan sesama, dengan tetap menjaga agensi manusiawi dan nilai-nilai ketuhanan di dalam diri mereka. Inilah bentuk pertanggungjawaban kita untuk menyiapkan masa depan mereka agar mereka tidak menjadi generasi yang lemah.

United in Diversity Bali Campus, 5 September 2026

(Catatan dibuat dalam interaksi XI International Scholas Chairs Congress 2026. AI and Human Meaning)

*) Penulis: Dr. Suyoto, M.Si.
Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG); Bupati Bojonegoro 2008-2018; Chancellor United in Diversity