Melanjutkan Perjuangan Rasulullah: Kewajiban dan Tantangan

Prof Bayu Widjaya Putera STP MAg PhD, saat menyampaikan materinya dalam Sesi Pengajian Interaktif Al-Manar alias SIPINTAR, pada Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Manar Perumnas Panji Permai Situbondo, Ahad (6/9/2026) bertepatan 24 Rabiul Awal 1448 H. (Foto: Agus/ IST)

MAKLUMAT — Bulan Rabiul Awal tidak hanya dipandang sebagai bulan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan perjuangan dan nilai-nilai yang dapat diterapkan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Jember (Unej), Prof Bayu Widjaya Putera STP MAg PhD, dalam Sesi Pengajian Interaktif Al-Manar alias SIPINTAR, pada Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Manar Perumnas Panji Permai Situbondo, Ahad (6/9/2026) bertepatan 24 Rabiul Awal 1448 H.

Mengangkat tema “Melanjutkan Perjuangan Rasulullah: Kewajiban dan Tantangan”, Bayu Widjaya menguraikan sejumlah peristiwa penting yang berkaitan dengan perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW dan mengambil sejumlah pelajaran yang relevan bagi umat Islam saat ini.

Lima Peristiwa Besar

Menurut Bayu, terdapat lima peristiwa besar yang menjadi bagian penting dalam sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad SAW dan berkaitan dengan momentum Rabiul Awal.

Pertama, kelahiran Rasulullah SAW yang dalam sejumlah riwayat disebut terjadi pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah di Makkah. Rasulullah lahir dalam kondisi yatim. Ibunda Siti Aminah kemudian wafat saat ia berusia 6 tahun, sehingga ia diasuh oleh sang kakek Abdul Muthalib, sebelum berada dalam pengasuhan pamannya, Abu Thalib.

Baca Juga  Maulid Nabi di Unimus: Jangan Biarkan Algoritma Menjadi Guru Agama

Muhammad juga terlahir di tengah masa Jahiliyah dan penindasan kaum lemah. Meski begitu, Bayu menekankan bahwa kondisi seseorang ketika lahir tidak menjadi penentu kemuliaan hidupnya. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah misi yang dijalankan dalam kehidupan.

“Ibrah untuk kita: Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kemewahan saat lahir, tetapi oleh misi hidupnya,” ujar Bayu.

Ia juga mengaitkan peringatan kelahiran Rasulullah dengan hadis riwayat Muslim nomor 1162 tentang keutamaan puasa Senin, yang juga hari kelahirannya: “Itulah hari aku dilahirkan, dan hari itu aku diutus, atau hari diturunkannya wahyu kepadaku.”

Kedua, Bayu menyebut peristiwa pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah RA pada usia 25 tahun. Sebagian riwayat sirah, kata dia, menyebut bahwa pernikahan itu terjadi pada bulan Rabiul Awal.

“Khadijah adalah orang pertama yang beriman dan menjadi penopang utama saat wahyu pertama turun. Selama Khadijah hidup, beliau tidak menikah dengan perempuan lain,” jelasnya.

Dari kehidupan rumah tangga Rasulullah dan Khadijah, Bayu menekankan pelajaran mengenai pentingnya keluarga sebagai basis kehidupan dan perjuangan.

Menurutnya, keluarga adalah madrasah pertama dan basis logistik dakwah. Standar rumah tangga, lanjut Bayu, adalah kasih sayang dan kebaikan, sedangkan kesetiaan adalah ruh yang menghidupkan rumah tangga.

Baca Juga  Muhammadiyah Asembagus Gelar Pengajian Maulid, Teladani Akhlak Rasulullah

“Setia pada orangnya, bukan masanya. Kesetiaan diuji saat sempit,” tandanya.

Ketiga, momentum peristiwa hijrah Rasulullah SAW ke Madinah, yang disebut sebagai salah satu titik balik dalam perkembangan peradaban Islam.

Setelah tiba di Quba pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun 1 Hijriah, Rasulullah menjalankan sejumlah langkah penting, antara lain membangun masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, hingga penyusunan Piagam Madinah yang legendaris.

Bayu menilai, perubahan besar membutuhkan fondasi yang kuat, di antaranya berupa masjid, persaudaraan, dan aturan bersama. Ia juga menekankan bahwa perencanaan tidak bertentangan dengan sikap tawakal. Hijrah, kata dia, bukan lari, melainkan pindah menuju strategi yang lebih baik

“Hijrah adalah seni meninggalkan apa yang dilarang Allah, dan ia selalu dimulai dari niat yang lurus,” seloroh Bayu.

Menurutnya, konsep hijrah juga masih relevan dilakukan umat Islam saat ini. Ia menyebut sejumlah bentuk hijrah, mulai dari hijrah lisan, hijrah harta dari sesuatu yang haram atau syubhat menuju rezeki yang jelas kehalalannya, hingga hijrah waktu dari penggunaan layar tanpa batas menuju pengaturan waktu yang menyediakan ruang untuk membaca Al-Qur’an.

Selain itu, Bayu mengajak umat melakukan hijrah dalam relasi sosial, yakni meninggalkan lingkungan yang melalaikan menuju majelis ilmu dan jamaah.

Baca Juga  Mengenal Endhog-endhogan, Tradisi Maulid Nabi di Banyuwangi

Keempat, ia membahas peristiwa pelaksanaan salat Jumat pertama dalam sejarah Islam, yang disebut dilaksanakan di Kampung Bani Salim bin Auf, sebelum Rasulullah mendirikan Masjid Nabawi di Madinah. Di sanalah pertama kalinya Rasulullah Muhammad SAW menjadi imam dan berkhutbah Jumat.

Kelima, adalah peristiwa wafatnya Rasulullah SAW pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun 11 Hijriah dalam usia 63 tahun di rumah Aisyah RA.

Bayu menjelaskan bahwa Rasulullah sempat mengalami sakit sekitar dua pekan sebelum wafat, yang juga mengingatkan umatnya terkait pentingnya menjaga salat “Jangan pernah meninggalkan shalat,” ucapnya.

Melalui kajian tersebut, Bayu mengajak jamaah menjadikan momentum Rabiul Awal bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan kembali nilai perjuangan Rasulullah SAW dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.***

*) Penulis: Agus Ariyanto