Mudzakkir: Hadapi Era AI dengan Terus Belajar dan Mempertanyakan Pengetahuan

mudzakkir

MAKLUMAT — Koordinator Program Studi S2 Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Moh. Mudzakkir Ph.D mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat masyarakat perlu terus belajar dan meninjau kembali pengetahuan yang dimiliki.

Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Magister Sosiologi UNESA bersama MGMP Sosiologi Sidoarjo bertema Optimalisasi AI untuk Pembelajaran Sosiologi dan Kinerja Profesional Guru di FISIPOL UNESA, Senin (28/9/2026).

Mudzakkir mengatakan masyarakat saat ini hidup dalam situasi ketika teknologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terlebih soal AI. Kondisi tersebut membuat kemampuan belajar dan memahami perubahan menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan teknologi.

“Kita hidup di era AI. Ini menjadi sebuah kenyataan dalam masyarakat kita hari ini. Kita berhadapan dengan orang-orang yang sangat dekat dengan teknologi, bahkan sangat bergantung pada teknologi,” katanya.

Menurutnya, perkembangan teknologi juga perlu dilihat dari cara seseorang memahami dunia yang terus berubah. Ia mengaitkan hal tersebut dengan pemaknaan buta huruf yang tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis.

“Terjadi pergesaran di mana buta huruf di masa kini tidak lagi sekadar ketidakmampuan seseorang dalam membaca dan menulis aksara, melainkan juga kegagalan dalam menguasai, memahami, dan mengolah informasi secara luas,” jelasnya.

Baca Juga  Kader Muhammadiyah Harus Paham Politik Sejak Dini

Mudzakkir menyampaikan bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan perlu terus menguji pemahamannya ketika berhadapan dengan konteks baru. Pengetahuan yang sudah dimiliki, katanya, tidak semestinya dianggap selesai atau tidak perlu dipertanyakan kembali.

“Jadi, orang yang dianggap tahu bukan hanya mereka yang bisa membaca atau memiliki banyak pengetahuan. Yang lebih penting adalah mereka yang memiliki spirit untuk terus belajar, kemudian mencoba menguji kembali pengetahuan yang mereka miliki dalam konteks yang berbeda,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak seluruh insan pendidikan untuk menempatkan proses belajar sebagai bagian dari pekerjaan mereka. Menurutnya, proses tersebut juga berlangsung ketika pengajar berinteraksi dengan mahasiswa atau peserta didik dan menemukan pengetahuan baru.

Mudzakkir menilai kemampuan untuk terus mengembangkan diri penting dalam proses pendidikan. Ia mempertanyakan bagaimana seorang pengajar dapat mendidik peserta didik apabila dirinya sendiri berhenti belajar.

“Bagaimana kita mendidik mahasiswa atau mendidik murid kalau kita sendiri tidak terus mengembangkan diri?” pesannya.

Ia lalu mengatakan kegiatan bersama mahasiswa dan guru dalam PKM tersebut menjadi bagian dari refleksi terhadap perubahan yang berlangsung. Pembelajaran, diskusi, dan kerja profesional perlu terus disesuaikan dengan konteks serta perkembangan teknologi.

Baca Juga  KF-21 Boramae Jadi Simbol Kemitraan Strategis RI-Korsel, Kemlu Soroti AI hingga Pertahanan

Pada kesempatan itu, Mudzakkir berharap kegiatan belajar bersama dapat terus berlangsung. Ia menekankan pentingnya kesadaran terhadap perubahan konteks dalam proses adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

“Saya berharap kegiatan bersama-sama ini dapat terus berlangsung, tetapi dengan kesadaran terhadap konteks, adaptasi, dan juga perkembangan teknologi,” katanya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki