MAKLUMAT — Pengukuhan Pengurus ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Organisasi Wilayah Jawa Timur periode 2026–2031 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, 19 September 2026 lalu, rasanya tidak cukup dimaknai sebagai pergantian kepengurusan organisasi dan tidak pula hanya menandai mulainya aktivitas pengurus baru.
Ada pesan yang lebih besar. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak menjadikan Jawa Timur sebagai living laboratory bagi riset, inovasi, dan ilmu pengetahuan. Ketua Umum ICMI Prof. Arif Satria mendorong lahirnya kebijakan berbasis scientific evidence.
Sementara Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak mengingatkan bahwa ICMI bukan hanya harus besar sebagai organisasi, tetapi juga besar dampaknya bagi masyarakat. Bahkan Pitono Nugroho, Ketua ICMI Orwil Jawa Timur menegaskan bahwa ICMI harus mampu menjadi penyambung dalam membangun sebuah ekosistem kolaborasi yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, profesional, dunia usaha, pesantren, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan.
Pesan-pesan itu seperti membawa kita pada sebuah pertanyaan mendasar: Untuk apa sebenarnya ICMI dahulu dilahirkan, dan untuk apa ICMI harus tetap ada hari ini?
Berawal dari Kegelisahan
ICMI lahir di Malang pada Desember 1990. Embrionya menarik karena bukan bermula dari keputusan elite politik, melainkan kegelisahan sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya yang melihat banyaknya cendekiawan Muslim Indonesia yang tersebar di kampus, birokrasi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan berbagai profesi. Banyak orang pintar. Banyak kepakaran. Tetapi belum terhubung menjadi kekuatan pengetahuan bersama.
Dari sana muncul gagasan Simposium Nasional Cendekiawan Muslim yang kemudian melahirkan ICMI pada 7 Desember 1990 dengan B.J. Habibie sebagai Ketua Umum pertamanya. Pemilihan Habibie memiliki simbolisme kuat. Habibie adalah ilmuwan dan teknokrat dengan reputasi internasional.
Tetapi pada saat yang sama ia tampil terbuka sebagai seorang Muslim. Dalam dirinya, identitas keagamaan, sains, teknologi, modernitas, dan nasionalisme tidak dipertentangkan. Di kemudian hari, gagasan mempertemukan IMTAK—iman dan takwa—dengan IPTEK—ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu identitas kuat ICMI pada masa awal.
Pesannya sederhana tetapi mendalam: umat Islam tidak cukup hanya besar secara demografis. Ia harus unggul secara intelektual, profesional, teknologi, ekonomi, dan moral. Dengan cara pandang seperti itu, keberadaan cendekiawan Muslim tidak berhenti pada kepentingan umat semata. Pengetahuan harus dikonversi menjadi kontribusi bagi bangsa. Inilah salah satu cita-cita awal ICMI yang terasa tetap relevan lebih dari tiga dekade kemudian.
Ketika Dunia Membaca ICMI
Menariknya, kebangkitan ICMI ketika itu tidak hanya diperhatikan di Indonesia. Robert W. Hefner dalam artikelnya, Islam, State, and Civil Society: ICMI and the Struggle for the Indonesian Middle Class, yang terbit dalam jurnal Indonesia Cornell University pada 1993, membaca ICMI sebagai bagian dari tumbuhnya kelas menengah Muslim Indonesia.
Artinya, ICMI tidak semata-mata dipahami sebagai produk kedekatan baru antara pemerintah Orde Baru dan kelompok Islam. Di belakangnya berlangsung transformasi sosial yang lebih dalam: lahirnya generasi Muslim terdidik, profesional, modern, dan semakin percaya diri mengambil bagian dalam pembangunan bangsa. Douglas E. Ramage bahkan menyediakan satu bab khusus tentang ICMI dalam bukunya Politics in Indonesia: Democracy, Islam and the Ideology of Tolerance, terbitan Routledge tahun 1995.
Setahun kemudian, R. William Liddle melalui artikel The Islamic Turn in Indonesia: A Political Explanation di The Journal of Asian Studies tahun 1996 mencatat bagaimana hanya dalam beberapa tahun ICMI berkembang menjadi jaringan nasional yang memiliki puluhan ribu anggota dan penetrasi kuat ke kalangan akademik, profesional, birokrasi, hingga pemerintahan. Ada masa ketika untuk memahami perubahan Indonesia, para akademisi internasional merasa perlu membaca ICMI.
Bagaimana dengan CSIS
Generasi 1990-an mungkin masih mengingat cerita bahwa ICMI dibentuk untuk mengimbangi CSIS (Centre for Strategic and International Studies) yang berkiprah sejak tahun 1971. Pernyataan itu perlu ditempatkan secara lebih presisi. ICMI memang tidak secara formal didirikan sebagai tandingan CSIS. Akar kelahirannya jauh lebih luas: konsolidasi cendekiawan Muslim dan keinginan memperbesar kontribusi umat dalam pembangunan.
Namun cerita tentang CSIS bukan sepenuhnya mitos. Dalam lingkungan ICMI kemudian berkembang Center for Information and Development Studies (CIDES) sebagai think tank. John T. Sidel, dalam artikelnya Macet Total: Logics of Circulation and Accumulation in the Demise of Indonesia’s New Order di jurnal Indonesia Cornell University tahun 1998, mencatat CIDES sebagai lembaga kajian yang berafiliasi dengan ICMI dan mulai berkompetisi dengan CSIS.
Pelajaran pentingnya bukanlah siapa melawan siapa. Pelajarannya adalah bahwa generasi awal ICMI memahami satu hal penting: Gagasan memerlukan institusi. Kepakaran memerlukan jaringan. Jaringan memerlukan pusat pengetahuan. Dan pusat pengetahuan harus mampu menerjemahkan hasil pemikiran menjadi alternatif kebijakan.
Bukan Sejarah yang Tanpa Kritik
Tentu sejarah ICMI bukan kisah tunggal tentang kejayaan. Martin van Bruinessen dalam Islamic State or State Islam? Fifty Years of State-Islam Relations in Indonesia (1996) menunjukkan adanya perdebatan tentang ICMI: apakah ia merepresentasikan menguatnya masyarakat sipil Muslim atau justru terlalu dekat dengan kekuasaan.
Yudi Latif bahkan memberi judul salah satu bab bukunya Indonesian Muslim Intelligentsia and Power yang diterbitkan ISEAS pada 2008: The Rise and Decline of the Association of Indonesian Muslim Intelligentsia (ICMI). Ada rise. Ada decline. Tetapi sejarah tidak harus berhenti di sana. Selalu terbuka ruang untuk renewal.
Menuju “Kejayaan Kedua”
Tantangan ICMI hari ini tentu berbeda dengan 1990. Pertanyaannya bukan lagi apakah orang-orang ICMI dekat dengan pusat kekuasaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah gagasan ICMI dibutuhkan ketika bangsa sedang mencari jawaban atas banyak permasalahan?
Dekat dengan kekuasaan menghasilkan akses. Tetapi didengar karena mutu pemikiran menghasilkan otoritas intelektual. Di sinilah ICMI perlu kembali menghidupkan mesin pengetahuannya. Bayangkan jejaring profesor, peneliti, dokter, insinyur, ekonom, ulama, pengusaha, birokrat, teknolog, dan profesional yang dimiliki ICMI benar-benar bekerja sebagai collective intelligence.
Ketika pendidikan menghadapi masalah, ada gagasan ICMI. Ketika kecerdasan artifisial mengubah dunia kerja, ada peta jalan ICMI. Ketika bangsa menghadapi persoalan pangan, energi, kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan demografi, ada kajian dan rekomendasi ICMI.
Bukan hanya seminar. Tetapi knowledge, evidence, policy recommendation, action, dan impact. Barangkali ukuran kebesaran organisasi cendekiawan bukan seberapa sering ia berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan seberapa penting gagasannya sehingga orang lain merasa perlu mendengarkannya. ICMI pernah berada pada titik itu.
Ada masa ketika Cornell menulis tentang ICMI. The Journal of Asian Studies membahasnya. Routledge menyediakan bab khusus tentangnya. Para ilmuwan internasional menjadikannya bagian penting dalam memahami Indonesia. Pertanyaannya sekarang sederhana: Gagasan apa yang membuat orang kembali merasa perlu membaca ICMI?
Pengukuhan ICMI Jawa Timur 2026–2031 dapat menjadi momentum untuk menjawabnya. Bukan dengan kembali ke masa lalu, tetapi dengan menemukan kembali semangat intelektual yang sama untuk menghadapi zaman yang berbeda. Bukan nostalgia kejayaan pertama. Melainkan ikhtiar menuju kejayaan kedua. Sebab sejarah bukan tempat untuk tinggal. Sejarah adalah tempat mengambil energi untuk melangkah kembali menuju kejayaan yang berkesinambungan.
*) Penulis: Ramliyanto
Anggota Dewan Pakar ICMI Orwil Jawa Timur Periode 2026–2031












