Anak Petani Bisa Apa? Cara Anis Nur Istiqomah Menjawab Lewat “Maja Labo Dahu”

anak petani

MAKLUMAT — Kalimat itu masih diingat Anis Nur Istiqomah. “Anak petani seperti kamu bisa apa?” katanya, mengenang ucapan yang pernah sempat membuatnya merasa rendah diri ketika duduk di bangku SMA.

Anis tumbuh di Nipa, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, NTB. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Nipa 1 Ambalawi, kemudian melanjutkan ke MTs Al-Falah Nipa dan SMAN 1 Ambalawi. Setelah itu, ia memilih Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima) untuk melanjutkan S1 Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Masa SMA menjadi salah satu periode ketika Anis banyak menyimpan keraguan terhadap dirinya sendiri. Ia mengaku tidak banyak mengikuti perlombaan karena merasa takut gagal. Bahkan, ucapan yang membawa latar belakang keluarganya ke dalam penilaian terhadap dirinya membuat rasa minder itu semakin kuat.

“Rasa takut dan minder itu ada, sangat ada. Saya juga sering merasakan kegagalan,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id, Rabu (30/9/2026).

Ketika memasuki perguruan tinggi, Anis mulai mencoba keluar dari kebiasaan tersebut. Pada 2023, ia bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan mengikuti dengan serius proses perkaderan di dalamnya. Ia juga aktif di Ikatan Mahasiswa Ambalawi.

Masuk organisasi membuat lingkungan Anis berubah. Ia bertemu lebih banyak orang dan mulai mencari tahu kemampuan yang bisa ia kembangkan. Dari proses itu, ia menemukan ketertarikannya pada desain.

Kemampuan tersebut kemudian membuatnya dipercaya menjadi Ketua Bidang Media dan Komunikasi PK IMM FAI UM Bima. Desain yang ia buat juga mulai digunakan oleh sejumlah komisariat.

Baca Juga  Wakil Ketua Komisi X DPR Dorong Immawati Jakarta Bersaing dalam Kebaikan

“Dari situ semangat saya mulai tumbuh. Saya mulai mencari tahu jati diri saya, apa yang saya bisa saat ini, dan saya menemukan kelebihan saya di desain,” jelasnya.

Kemampuan desain kemudian membawanya mengikuti sayembara desain logo yang diselenggarakan PC IMM Bima. Logo buatannya terpilih sebagai juara pertama. Pengalaman itu membuat Anis semakin berani mencoba hal lain.

Ia kemudian mengikuti lomba penulisan puisi dan karya tulis ilmiah. Dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat Kota Bima yang diselenggarakan BRIDA Kota Bima, ia berhasil masuk finalis. Pada 2026, ia kembali mengikuti lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan organisasinya dan meraih juara kedua.

“Awalnya saya ikut lomba itu coba-coba. Setelah itu saya semakin bersemangat untuk ikut lomba yang lain,” katanya.

Dunia menulis kemudian menjadi bagian lain dari perjalanan Anis. Ia pernah ikut dalam penulisan buku kolaborasi dengan peserta dari berbagai daerah melalui buku Menuju Indonesia Emas 2045. Pengalaman itu sempat membuatnya minder karena merasa menjadi peserta paling muda di antara orang-orang yang menurutnya sudah memiliki pengalaman dan gelar akademik.

Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya terdorong untuk menulis secara mandiri. Ia telah menyiapkan dua buku berjudul Sebelum Semesta Menjadikan Kita Asing dan Tuhan Ini Arahnya ke Mana. Buku ketiganya yang sedang ditulis berjudul IMMawati Berkemajuan: Rekonstruksi Identitas Perempuan Muhammadiyah dalam Gerakan Intelektual, Digital, dan Sosial.

Perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Anis bercerita bahwa pada 2025, ketika namanya mulai dikenal, ia pernah mengalami persoalan dengan lingkungan pertemanannya. Situasi itu membuatnya sempat kehilangan arah.

Baca Juga  Wakil Ketua DPRD Jatim: Kesetaraan Akses dan Kesempatan Masih Jadi Hambatan Kiprah Perempuan

“Setiap hari saya harus mendengar gosip yang bahkan tidak pernah saya lakukan. Sempat hilang arah. Saya bertanya, ini harus bagaimana, ya Allah. Alhamdulillah, saya bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Setelah melewati pengalaman tersebut, Anis semakin sering menulis opini dan narasi di sejumlah situs, terutama mengenai isu perempuan. Ia juga mulai melihat ruang publik sebagai tempat untuk belajar dan mengembangkan kemampuan, bukan sekadar tempat untuk menunjukkan pencapaian.

Menurut Anis, perempuan perlu memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan dan mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Ia sendiri pernah berada dalam posisi ketika rasa takut membuatnya memilih tidak mencoba. Pengalaman itu membuatnya melihat bahwa latar belakang keluarga tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi diri.

“Ruang publik bukan hanya tentang siapa yang paling hebat atau siapa yang paling banyak mendapatkan penghargaan. Ruang publik adalah tempat bagi kita untuk belajar, berproses, menyampaikan gagasan, dan memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan yang kita miliki,” jelasnya.

Pengalaman berorganisasi dan mengikuti berbagai kegiatan kemudian mempertemukan Anis dengan kesempatan lain. Ia sempat lolos seleksi administrasi Duta Inspiratif Indonesia Batch 3. Ia juga mencoba mengikuti Duta Hijab Nusantara.

Awalnya ia merasa minder karena melihat peserta lain memiliki penampilan yang menurutnya lebih menarik. Namun, ia kemudian dinyatakan sebagai winner dalam ajang tersebut.

Baca Juga  Anggota DPR Tegaskan Pentingnya Pemberdayaan Peran Perempuan Menuju Indonesia Emas 2045

Bagi Anis, pencapaian tersebut tidak berhenti sebagai penghargaan. Ia ingin terus belajar dan mengambil lebih banyak peran di ruang publik. Ia juga ingin berbagi pengalaman dengan perempuan muda yang masih merasa minder atau takut gagal.

“Saya ingin mereka tahu bahwa kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai mencoba. Mulailah dari hal kecil yang kita bisa, karena terkadang potensi kita baru akan terlihat ketika kita berani memberikan kesempatan kepada diri sendiri,” katanya.

Ia juga ingin perempuan muda memiliki ruang untuk belajar, berkarya, berorganisasi, dan menyampaikan gagasan. Baginya, keberhasilan perempuan lain tidak perlu menjadi alasan untuk merasa rendah diri. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktu yang berbeda.

Anis membawa pesan orang tuanya dalam perjalanan tersebut. Ia memegang prinsip maja labo dahu, falsafah dan semboyan hidup masyarakat Bima yang ia pahami sebagai sikap malu dan takut melakukan hal yang tidak baik. Prinsip itu juga menjadi pengingat agar tetap rendah hati setelah mencapai sesuatu.

“Saya ingin terus membawa prinsip yang selalu diajarkan orang tua saya, yaitu maja labo dahu, malu dan takut melakukan hal yang tidak baik, sekaligus tetap rendah hati ketika sudah mencapai sesuatu. Bagi saya, semakin tinggi pencapaian yang kita raih, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memberikan manfaat kepada orang lain,” pungkasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki