Home Care untuk Nenek Misti: Tak Bisa Melihat, Tinggal di Pelosok Jelbuk

jelbuk

MAKLUMAT – Di ujung jalan setapak yang sempit dan terjal di Dusun Gujuran Timur, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, tinggal seorang perempuan lanjut usia bernama Misti (76). Ia sudah kehilangan penglihatannya. Saudara perempuan yang tinggal bersamanya juga mengalami gangguan pendengaran.

Keduanya tinggal berdua dalam rumah sederhana yang berada cukup jauh dari akses kendaraan. Jalan menuju rumah mereka begitu sempit dan terjal. Mobil maupun sepeda motor tidak dapat melintas. Harus berjalan kaki untuk mencapai rumah Misti.

Kondisi tersebut membuat akses terhadap pelayanan dasar, termasuk kesehatan, menjadi persoalan bagi Misti.

Minggu (4/10/2026), pelayanan kesehatan datang ke rumah Misti. Bupati Jember Muhammad Fawait bersama jajaran organisasi perangkat daerah dan tim kesehatan Puskesmas Jelbuk turun langsung memberikan pelayanan melalui program Home Care.

Bagi Misti, kedatangan tenaga kesehatan berarti pemerintah tidak hanya menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan. Ketika warga memiliki keterbatasan untuk mendatangi puskesmas, pelayananlah yang bergerak mendekati warga.

”Saya setiap hari tidak ada pekerjaan. Kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan pemberian dari saudara, tetangga, maupun bantuan dari pemerintah karena saya tidak bisa melihat,” tutur Misti.

Keterbatasan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan. Rumah yang ditempati juga membutuhkan perbaikan. Bagian atap mulai rusak. Beberapa genteng sudah runtuh dan berlubang.

”Saya ingin rumah saya di depan bisa diperbaiki meskipun bukan dari dinding tembok karena gentengnya sudah mulai runtuh dan bolong,” ungkap Misti.

Baca Juga  Program Bina Desa 3T LKSA Nurul Husna Jember: Intervensi Sosial di Desa Bedean

Misti tidak meminta rumahnya diubah menjadi bangunan permanen. Ia hanya berharap bagian rumah yang rusak dapat diperbaiki agar tetap bisa menjadi tempat tinggal yang layak.

Untuk kebutuhan listrik, Misti masih menumpang dari rumah tetangga. Kebutuhan air untuk mandi dibantu pemerintah kecamatan dengan memasang pipa agar air dapat mengalir ke rumahnya.

”Saya tidak mempunyai keluarga maupun anak, hanya tinggal berdua sama saudara perempuan. Saya tidak bisa melihat. Saudara kandung saya tidak bisa mendengar,” ungkapnya.

Turun Langsung Berikan Pelayanan

Kondisi Misti menjadi salah satu gambaran warga yang membutuhkan pendekatan pelayanan berbeda. Ketika kondisi fisik dan akses jalan membuat warga kesulitan mendatangi fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan harus datang ke rumah.

Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, program Home Care dijalankan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan, para kepala organisasi perangkat daerah dijadwalkan turun memberikan pelayanan kepada masyarakat setiap Jumat.

”Maka saya sebagai bupati tentu juga harus turun ke bawah,” kata Gus Fawait ditemui di lokasi.

Saat turun itulah Gus Fawait menemukan dua lansia yang tinggal dalam kondisi cukup rentan. ”Satu punya gangguan pendengaran, yang satu punya gangguan penglihatan,” ujarnya.

Selain kondisi kesehatan, rumah yang ditempati kedua lansia tersebut juga dinilai kurang layak. Namun, menurut Gus Fawait, warga tersebut tidak ingin rumahnya diubah menjadi bangunan permanen dengan tembok karena sudah terbiasa dengan kondisi rumah yang ada.

Baca Juga  Memahami Cara Kerja Home Care Jember, dari Kunjungan hingga Tindak Lanjut

Karena itu, Pemkab Jember memilih melakukan perbaikan yang disesuaikan dengan kebutuhan warga. Yakni, memperbaiki lantai dan bagian rumah lainnya agar kehidupan mereka menjadi lebih layak.

”Setiap bulan akan didatangi. Ini sudah didatangi selama tiga kali. Kemudian, kondisi rumahnya juga tidak baik-baik. Kita akan perbaiki. Kita juga cek kesehatannya,” katanya.

jelbuk
Bupati Jember Muhammad Fawait bersama tim program Home Care menemui Nenek Misti di kawasan pelosok Jelbuk, Jember.

Gus Fawait mengatakan, pemerintah mungkin belum dapat menyelesaikan masalah warga secara langsung. Namun, setidaknya pemerintah hadir dan mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat.

Kondisi jalan yang ekstrem menuju rumah Misti menjadi salah satu alasan pentingnya program Home Care. Tidak semua warga yang sakit mampu datang sendiri ke puskesmas untuk mendapatkan pelayanan.

”Tadi lihat ternyata di daerah Kecamatan Jelbuk ada di atas, jalannya setapak. Maka ada Home Care, para nakes dan tim yang turun,” katanya.

Ia mengapresiasi para tenaga kesehatan dan jajaran pemerintah yang tetap mendatangi warga meski harus menempuh akses jalan yang sulit. ”Adanya Home Care ini untuk meminimalisir warga yang tidak datang ke Puskesmas, yang mereka sebetulnya sakit atau sakitnya berkepanjangan. Tim jemput bola, sampai naik jalan sangat terjal,” ujarnya.

Bantu Perbaikan Jalan Desa

Kunjungan tersebut juga membuat Gus Fawait menyoroti kondisi infrastruktur di wilayah pelosok Jelbuk. Menurut dia, sejumlah jalan kabupaten saat ini sudah dalam kondisi baik. Namun, masih terdapat jalan desa di pelosok yang membutuhkan perhatian.

Baca Juga  Ikuti Pelatihan BTCLS, Karyawan RSM Kalikapas Lamongan Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan

”Tadi kita lihat, kalau jalan kabupaten sudah bagus, tinggal jalan-jalan desa. Mungkin nanti tahun depan, karena kita sudah mau bantu jalan desa,” ujarnya.

Pemkab Jember telah berkomitmen membantu pemerintah desa dalam memperbaiki akses jalan di wilayah pelosok. Menurut dia, perbaikan jalan desa memang menjadi kewajiban pemerintah desa. Namun, Pemkab Jember tidak ingin berpangku tangan dan akan ikut membantu.

”Itu kewajiban Pemerintah Desa, tetapi kami tidak berpangku tangan. Kami akan ikut serta membantu pemerintah desa untuk memperbaiki jalan-jalannya,” kata Gus Fawait.

Selain persoalan akses jalan dan rumah tidak layak huni, Gus Fawait juga melihat fasilitas pelayanan kesehatan yang masih membutuhkan pembenahan. Ke depan, agenda turun langsung ke bawah akan menjadi prioritas.

”Mudah-mudahan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia bisa kami mulai terapkan di Kabupaten Jember sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto,” pungkasnya.

Bagi Misti, hari itu bukan sekadar tentang pemeriksaan kesehatan. Di rumah yang hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki, pelayanan datang menghampirinya.

Di tengah keterbatasan penglihatan, kondisi rumah yang membutuhkan perbaikan, serta akses jalan yang sulit, Home Care menjadi cara pemerintah mendekatkan layanan kepada warga yang selama ini menghadapi hambatan untuk datang sendiri ke fasilitas kesehatan. (*)