Hadir di SMK Mutia Ngoro, Direktorat SMK Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Sertifikasi Kompetensi

Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMK Kemendikdasmen RI, Adrianus Patiung SE MM, menyampaikan laporannya dalam Opening Ceremony Sertifikasi Kompetensi 2026 di SMK Mutia Ngoro, Mojokerto, Selasa (6/10/2026). (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Adrianus Patiung SE MM, menekankan pentingnya sertifikasi kompetensi bagi lulusan sekolah vokasi di dunia kerja. Sertifikat kompetensi, kata dia, merupakan bukti keahlian yang akan membuat perusahaan yakin terhadap kompetensi calon tenaga kerja.

Hal itu ia sampaikan ketika menghadiri Opening Ceremony Sertifikasi Kompetensi 2026 SMK Muhammadiyah 3 (Mutia) Ngoro, Mojokerto, yang dilaksanakan di Cordoba Ballroom Mutia Exhibition Center, pada Selasa (6/10/2026).

Ijazah Kelulusan Saja Belum Cukup

Membuka paparannya, Adrian—panggilan akrabnya—mengajak para siswa SMK Mutia yang menjadi peserta Sertifikasi Kompetensi berinteraksi dengan menanyakan bagaimana jawaban mereka jika saat interview kerja ditanyakan soal kebisaan atau keahliannya. Beberapa siswa pun menjawab dengan menjelaskan keahlian mereka sesuai bidangnya.

“Kemudian akan muncul lagi wawancara yang berikutnya, bagaimana caranya kami bisa membuktikan bahwa adik-adik itu mampu?” sahut Adrian.

Adrian menyebut bahwa ijazah kelulusan belum benar-benar cukup untuk meyakinkan perusahaan terkait keahlian atau kompetensi lulusan. Sebab itu, ia menegaskan pentingnya sertifikat kompetensi yang didapatkan dari ujian atau tes sertifikasi kompetensi sebagai bukti bahwa lulusan benar-benar menguasai kompetensi di bidang yang dimaksud.

“Bahwa ijazah itu belum benar-benar cukup. Ijazah itu menyatakan bahwa adik-adik sudah menyelesaikan sekolah. Sertifikasi kompetensi itu menyatakan sesuatu yang lain,” ujarnya.

Baca Juga  Lantik Sejumlah Pejabat Baru, Mendiktisaintek Dorong Penguatan Standardisasi dan Pendidikan Vokasi

Adrian mengungkapkan, pada tahun 2026 ini Kemendikdasmen melalui Direktorat SMK menyiapkan program sertifikasi kompetensi untuk 150.000 murid SMK. Salah satunya yang diselenggarakan di SMK Mutia Ngoro.

Kompetensi dan Karakter Berjalan Beriringan

Lebih jauh, Adrian berpesan kepada para peserta untuk melaksanakan tes kompetensi secara jujur dan percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri.

“Yang pertama, karena ini adalah proses sertifikasi. Yang pertama, jujur pada kemampuan sendiri. Asesor tidak mencari yang paling cepat. Asesor mencari siapa yang bekerja secara standar. Jadi urut, aman, dan rapi,” kata dia.

Apabila terdapat peserta yang belum dinyatakan kompeten setelah melaksanakan tes, Adrian berharap agar tidak patah semangat. Menurutnya, hal tersebut juga bisa menjadi peta terkait aspek-aspek apa saja yang perlu dilatih lagi hingga dapat dinyatakan kompeten.

“Kalau hari ini ada unit yang belum kompeten, itu bukan aib. Itu adalah peta. Peta untuk bisa memetakan, kira-kira adik-adik bagian mana lagi yang harus dilatih. Jadi jangan sampai pengen lulus, tapi itu bukan dengan menggunakan kemampuan sendiri. Karena di situ ada karakter kejujuran,” terangnya.

Selain itu, Adrian menekankan bahwa sertifikasi kompetensi bukanlah akhir, melainkan awal. Sebab, lanjutnya, teknologi industri berkembang dengan sangat cepat. Ia berpesan supaya para siswa SMK Mutia yang menjadi peserta Sertifikasi Kompetensi terus giat belajar meskipun nanti telah memasuki dunia kerja.

Baca Juga  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Resmikan Galeri Kejuruan, Dorong Inovasi dan Kemitraan Industri

“Yang kedua, sertifikasi itu adalah awal dan bukan akhir. Teknologi industri itu berubah sangat cepat. Adik-adik sudah tahu. Sangat cepat dibanding buku pelajaran yang ada. Yang hari ini kita kuasai, tiga tahun lagi mungkin sudah berganti. Maka teruslah belajar dan biasakan mencatat apa yang adik-adik kerjakan,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan soal ekosistem DigiSkill Badge yang diluncurkan Direktorat SMK Kemendikdasmen RI pada Agustus 2026 lalu. DigiSkill Badge, kata dia, merupakan platform yang dimaksudkan sebagai wadah portofolio digital bagi para siswa SMK.

Ia menjelaskan portofolio di DigiSkill Badge direkam sejak siswa berasa di kelas 10 hingga kelas 12, sehingga seluruh portofolio, sertifikat, prestasi, pengalaman proyek, dan sebagainya dari para siswa terangkum di sana.

“Portfolio digital itu adalah riwayat terkait dengan kompetensi yang adik-adik sudah lakukan. Umpamanya di Tata Boga, pernah membuat proyek apa? Pokoknya masakan A, B, C, D, itu ditulis semua di situ. PKL (Praktik Kerja Lapangan) adik-adik, diminta PKL di mana. Jangan sampai PKL hanya disuruh fotokopi saja. Jangan mau! Karena itu tidak sesuai dengan kompetensi. Karena di dalam portfolio yang adik-adik akan tulis, itu semua riwayat. Jadi riwayat apa yang sudah dilakukan, dan sebagainya,” jelasnya.

Baca Juga  Menteri Perdagangan Buka Job Fair SMK Mutia Ngoro, Dorong Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri

“Dari DigiSkill Badge itu sudah tahu, oh anak ini ternyata kompetensinya bisa membuat A, B, C, D. Tinggal divalidasi saja,” tambah Adrian.

Tak cuma itu, Adrian juga menegaskan bahwa kompetensi harus berjalan beriringan dengan karakter. Menurutnya, pendidikan di lingkungan Muhammadiyah mengajarkan keselarasan antara ilmu dan amal, dan itulah yang harus menjadi karakter para siswa SMK Mutia Ngoro.

“Kemudian yang berikutnya adalah kompetensi itu harus berjalan sejalan dengan karakter. Kalian bersekolah di lingkungan Muhammadiyah, yang sejak awal mengajarkan bahwa ilmu itu harus menjadi amal,” tegasnya.

“Industri boleh melatih ulang keterampilan seseorang. Tetap sangat sulit melatih ulang, terkait dengan apa? Terkait dengan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Itu adalah perkara yang kalian bawa dari sekolah ini,” imbuh Adrian.

Diketahui, total terdapat 540 siswa dari lima jurusan di SMK Mutia yang mengikuti Sertifikasi Kompetensi 2026, yakni dari jurusan Desain Komunikasi Visual, Teknik Elektronika Industri, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Mekanika Industri, serta Kuliner.

Sertifikasi kompetensi tersebut melibatkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) serta mitra industri, di antaranya LSP Pariwisata Semesta Nusantara, LSP Perkapalan, LSP Media Informatika, LSP Elektronika Nasional, serta PT Datek Inovasi Nusantara.***

*) Penulis: Ubay NA