MAKLUMAT – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Hidayat mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperluas jaringan Trans Jatim hingga menghubungkan Mojokerto dengan Jombang. Usulan ini dinilai penting untuk menjawab tingginya mobilitas masyarakat sekaligus mendukung kawasan pesantren dan wisata religi di Jombang.
Hidayat mengatakan, usulan pembukaan koridor Mojokerto-Jombang telah disampaikan kepada Dinas Perhubungan Jawa Timur. Menurutnya, Jombang memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi dan menjadi salah satu kawasan strategis di sekitar Surabaya.
“Saya sudah mengusulkan ke Dinas Perhubungan. Karena Jombang ini bagian dari lingkar Surabaya,” kata Hidayat, Rabu (7/10/2026).
Tingginya mobilitas tersebut, kata Hidayat, terlihat dari bus antarkota yang mulai dipenuhi penumpang sejak memasuki Jombang.
“Bus-bus antarkota itu mulai penuh dari Jombang,” ujarnya.
Selain mobilitas masyarakat umum, Hidayat menilai kebutuhan transportasi publik di Jombang juga dipengaruhi aktivitas pendidikan pesantren dan wisata religi. Sejumlah pondok pesantren besar serta makam tokoh agama menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah.
“Ada banyak titik wisata religi. Ada lima pondok besar di sana, ada makam-makam para muassis maupun ulama,” jelasnya.
Hidayat menyebut aktivitas pesantren turut menghasilkan pergerakan masyarakat dalam jumlah besar. Ribuan santri dan wali santri datang dari luar daerah, terutama ke sejumlah pesantren besar seperti Peterongan, Tebuireng, Tambakberas, dan Denanyar.
“Per pondok ribuan jumlahnya. Misalnya di Peterongan itu lebih dari 10 ribu dari luar daerah. Apalagi di Tebuireng, Tambakberas, Denanyar dan tempat-tempat lain, itu luar biasa,” katanya.
Karena itu, Hidayat menilai perluasan Trans Jatim hingga Jombang dapat memudahkan mobilitas masyarakat, termasuk wali santri yang menuju kawasan pesantren.
“Kalau Trans Jatim sampai ke sana, saya kira akan sangat membantu mobilisasi para wali santri yang pondok di Jombang,” tegasnya.
Usulan tersebut juga berkaitan dengan pembahasan Raperda Penyelenggaraan Transportasi Publik Terintegrasi Jawa Timur di DPRD Jatim. Hidayat menekankan pentingnya membangun sistem transportasi yang terintegrasi antarmoda.
“Transportasi publik hari ini sangat dibutuhkan masyarakat. Tetapi juga harus terintegrasi, terpadu. Seluruh intermodal transportasi harus ditata dan dikelola agar efektif dan efisien,” ujarnya.
Menurut Hidayat, sistem tersebut harus menghubungkan perjalanan masyarakat sejak dari lingkungan tempat tinggal, feeder, transportasi publik utama, terminal, hingga moda lanjutan menuju tujuan akhir.
Dengan konektivitas tersebut, masyarakat diharapkan memiliki alternatif transportasi yang aman dan nyaman sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi secara bertahap.
“Tujuannya agar masyarakat berbondong-bondong beralih dari transportasi pribadi, dari kendaraan roda dua kepada transportasi publik yang lebih aman dan nyaman,” katanya.
Hidayat juga meminta pengembangan Trans Jatim tetap melibatkan pelaku angkutan yang selama ini melayani masyarakat. Menurutnya, angkutan eksisting dapat diintegrasikan sebagai feeder dengan dukungan subsidi pemerintah.
“Kalaupun ada, harus berkolaborasi. Memanfaatkan sumber daya manusia yang sudah ada untuk mendukung transportasi publik ini,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pengemudi angkutan yang terdampak perubahan rute Trans Jatim dapat dialihkan untuk mengoperasikan feeder. Pemerintah, kata dia, dapat memberikan subsidi agar layanan tersebut tetap berjalan.
“Misalnya butuh feeder, maka feeder ini disubsidi oleh pemerintah. Mereka yang dulu bekerja di jalur yang dilalui Trans Jatim bisa beralih ke situ. Selama tidak ada yang dikorbankan, saya kira masyarakat tidak akan protes,” pungkas Hidayat.











