PKM UM Jember Dorong Dapur Shincan Berinovasi hingga Kelola Limbah

dapur

MAKLUMAT — Dapur Shincan, usaha kuliner di Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, mulai mengembangkan produk dan memperbaiki pengelolaan usaha melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Jember (UM Jember). Pendampingan tersebut mencakup inovasi produk, peningkatan kapasitas produksi, manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pengelolaan limbah.

Program tersebut merupakan bagian dari Skema Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat UM Jember yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sebelum mendapatkan pendampingan, Dapur Shincan masih mengandalkan ayam ungkep siap goreng sebagai produk utama. Usaha tersebut juga menghadapi keterbatasan peralatan produksi, belum memiliki standar produksi tertulis, dan masih minim diversifikasi produk.

“Dari ayam ungkep siap goreng, sekarang kami mengembangkan beberapa produk baru, antara lain ayam bumbu merah, ayam dada bawang putih, ayam kecap, ayam pedas, ayam kare, ayam bumbu rujak, nugget ayam, hingga produk frozen ready-to-cook,” kata Latifa Mirzatika Al-Rosyid, ketua tim pengusul PKM UM Jember dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).

Pengembangan produk tersebut dibarengi penggunaan sejumlah peralatan produksi. Tim memperkenalkan presto, blender bumbu, deep fryer, vacuum sealer, freezer, timbangan digital, serta peralatan pendukung lainnya. Peralatan tersebut digunakan untuk mempercepat proses produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.

Baca Juga  Pelari Asal Kenya Terlunta-lunta di Jember, Kehabisan Uang Usai Lomba, Warga Bergotong Royong Menolong

Pengemasan Dapur Shincan juga mulai diperbarui. Produk menggunakan kemasan berbahan food grade dengan sistem vacuum packaging. Labelnya mencantumkan nama produk, logo, komposisi, berat bersih, tanggal produksi, petunjuk penyimpanan, dan identitas produsen.

“Penggunaan peralatan tersebut tidak hanya membantu mempercepat proses produksi, tetapi juga meningkatkan konsistensi kualitas dan mendukung pengemasan produk secara lebih higienis melalui sistem vakum,” ujarnya.

Pendampingan tidak berhenti pada proses produksi. Dapur Shincan juga mulai diarahkan memanfaatkan kanal digital untuk pemasaran. Instagram, WhatsApp Business, TikTok, dan marketplace diperkenalkan sebagai saluran untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Pemanfaatan media digital ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran sekaligus membangun citra Dapur Shincan sebagai produk olahan pangan lokal yang memiliki kualitas, kemasan, dan identitas produk yang lebih profesional,” jelasnya.

Seiring dengan pengembangan produksi, tim juga melihat persoalan limbah yang dihasilkan Dapur Shincan. Limbah tersebut terdiri atas limbah cair, minyak jelantah, limbah organik, dan bulu ayam.

Untuk limbah cair, tim memperkenalkan grease trap yang berfungsi membantu menyaring lemak dan padatan sebelum limbah dialirkan menuju saluran pembuangan. Minyak jelantah mulai dipisahkan dan dikumpulkan sehingga tidak langsung dibuang ke lingkungan.

Baca Juga  Liburan ke Jember? Yuk, Jelajahi Street Food Kartini

Bulu ayam juga dipisahkan, dikeringkan, dan disimpan dengan cara yang lebih higienis. Pengelolaan tersebut menjadi bagian dari pendampingan agar perkembangan usaha tetap memperhatikan persoalan yang muncul dari proses produksi.

“Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan usaha yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan keuntungan, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Aspek manajemen usaha kemudian menjadi bagian lain dari program. Dapur Shincan mendapatkan pendampingan dalam pembukuan sederhana menggunakan Microsoft Excel dan aplikasi pencatatan keuangan UKM. Pencatatan tersebut mencakup arus kas, pembelian bahan baku, stok, hingga perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).

Tim juga membantu mitra menyusun struktur organisasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Langkah tersebut ditujukan untuk membuat pengelolaan usaha lebih sistematis dan membantu pelaku usaha mengetahui alur kerja yang perlu dijalankan.

Hasil evaluasi terhadap delapan responden menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai keberdayaan. Nilai pre-test yang berada pada angka 51,50 meningkat menjadi 86,38 pada post-test. Peningkatan tersebut tercatat sebesar 67,88 persen.

Nilai keberdayaan tersebut mencakup kemampuan menggunakan teknologi produksi, mengembangkan produk, melakukan pembukuan dan menghitung HPP, memanfaatkan media digital untuk pemasaran, serta mengelola limbah hasil produksi.

Baca Juga  Petani dalam Pusaran Kekuasaan: Pseudo-Empowerment di Balik Skandal KUR Fiktif Jember

“Pendekatan yang kami gunakan bersifat partisipatif. Mitra tidak hanya menjadi penerima program, tetapi terlibat langsung dalam proses identifikasi masalah, pelatihan, praktik penggunaan teknologi, penerapan inovasi, hingga evaluasi,” kata Latifa.

Pendekatan partisipatif tersebut diarahkan agar Dapur Shincan tidak bergantung pada pendampingan dari luar. Mitra diharapkan dapat melanjutkan inovasi dan pengembangan usaha setelah program selesai.

Tim pengusul program diketuai Latifa Mirzatika Al-Rosyid dengan anggota Feti Fatimah dan Nely Ana Mufarida. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Bela Pitaloka, Muhammad Raihandy Alfiansyah, dan Mochammad Waris Ramadhani.

Melalui pendampingan tersebut, perubahan yang dilakukan Dapur Shincan mencakup pengembangan produk, penggunaan teknologi produksi, pembaruan kemasan, pemasaran digital, pembukuan, perhitungan HPP, penyusunan SOP, hingga pengelolaan limbah.

“Melalui program ini, Dapur Shincan tidak sekadar didorong untuk meningkatkan produksi, tetapi juga diarahkan menjadi usaha yang lebih tertata dari sisi produk, teknologi, manajemen, pemasaran, dan lingkungan,” kata Latifa.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki