13 Tahun PTM Maumere: Evaluasi Keberpihakan terhadap Kaderisasi IMM

PTM Maumere

MAKLUMAT — Sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sikka, saya merasa perlu menyampaikan refleksi sekaligus kritik terhadap perjalanan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Maumere, khususnya dalam menjalankan amanah Persyarikatan di bidang dakwah, perkaderan, dan keberpihakan terhadap Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Kritik ini bukan lahir dari keinginan untuk melemahkan institusi Muhammadiyah. Sebaliknya, kritik ini lahir dari kecintaan terhadap Muhammadiyah. Sebab, mencintai Muhammadiyah bukan hanya berarti memuji ketika keadaan terlihat baik, melainkan juga berani mengingatkan ketika ada amanah Persyarikatan yang perlu diperkuat.

Perjalanan PTM Maumere, sejak masih bernama IKIP Muhammadiyah Maumere hingga berkembang menjadi Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF), merupakan bagian dari sejarah perjuangan Muhammadiyah di Kabupaten Sikka. Selama kurang lebih 13 tahun, perjalanan tersebut tentu telah memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan.

Namun, keberhasilan sebuah Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya diukur dari perkembangan akademik, jumlah lulusan, pembangunan fasilitas, maupun capaian administratif. Ada pertanyaan yang lebih mendasar yang perlu dijawab bersama: sejauh mana PTM Maumere telah menjalankan amanah Muhammadiyah sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan perkaderan?

PTM bukan sekadar lembaga pendidikan. PTM merupakan bagian dari gerakan Muhammadiyah yang memiliki tanggung jawab untuk melahirkan manusia berkemampuan akademik sekaligus memiliki ideologi, komitmen, dan semangat perjuangan Persyarikatan.

Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui gedung-gedung besar, tetapi juga melalui kader-kader yang siap menjaga dan meneruskan perjuangannya.

Karena itu, setelah 13 tahun perjalanan PTM Maumere, evaluasi terhadap proses kaderisasi menjadi penting, khususnya melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak dalam ranah kemahasiswaan dan perkaderan.

Baca Juga  Partai Golkar Bangun Kompleks Baru Mu’allimin, Bahlil: Tidak Ada Transaksional

IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa yang menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan. IMM merupakan wadah perkaderan untuk melahirkan kader intelektual, kader dakwah, dan calon pemimpin Muhammadiyah.

Namun, kaderisasi tidak akan berjalan optimal jika hanya dibebankan kepada kader. Mereka tidak bisa terus-menerus dituntut untuk aktif, bergerak, dan berkompetisi tanpa memperoleh proses pembinaan yang memadai.

Seorang ayah tidak semestinya menyalahkan anaknya ketika sang anak belum mampu berjalan jauh. Ia perlu membimbing, melatih, dan menguatkannya agar kelak mampu berdiri sendiri. Begitu pula pemimpin Muhammadiyah: tugasnya bukan hanya menilai kader, melainkan juga membina dan memberi ruang bagi mereka untuk berkembang.

Jika hari ini muncul pertanyaan mengapa peran IMM belum maksimal, pertanyaan itu perlu dijawab bersama. Apakah kader telah memperoleh ruang pembinaan yang memadai? Apakah mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar memimpin? Apakah tersedia ruang bagi mereka untuk mengambil peran strategis?

Ada satu pertanyaan sederhana, tetapi penting untuk direnungkan: setelah 13 tahun perjalanan PTM Maumere, sejauh mana kader IMM yang berasal dari kampus ini telah memperoleh kesempatan mengambil peran strategis, terutama dalam kepemimpinan dan pengambilan kebijakan di lingkungan kampus?

Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Ini merupakan bagian dari evaluasi terhadap amanah yang kita emban bersama.

Sebab, jika sebuah Perguruan Tinggi Muhammadiyah hanya menghasilkan lulusan akademik tanpa memberikan perhatian yang memadai terhadap lahirnya kader Persyarikatan, ada bagian dari amanah Muhammadiyah yang perlu diperbaiki.

Jangan sampai IMM hanya dibutuhkan ketika membawa nama Muhammadiyah dalam berbagai kegiatan, tetapi tidak memperoleh ruang yang setara ketika menyangkut kepemimpinan dan kesempatan berkembang.

Baca Juga  Baitul Arqom Dosen Umsida: Internalisasi Nilai Muhammadiyah untuk SDM Unggul dan Berkemajuan

Keberpihakan terhadap IMM bukan berarti memberikan perlakuan khusus tanpa dasar. Keberpihakan berarti memastikan bahwa kader Muhammadiyah memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang berdasarkan kemampuan, kompetensi, integritas, dan proses kaderisasi yang telah mereka jalani.

Sebagaimana pesan Prof. Ahmad Muttaqien, persoalan dalam Persyarikatan bukan hanya menyangkut orang-orang di luar Muhammadiyah, tetapi juga bagaimana mereka yang berada di dalam Muhammadiyah menjalankan amanahnya.

Pesan ini perlu menjadi bahan renungan bersama. Jangan sampai ada pihak yang menggunakan nama besar Muhammadiyah, menikmati fasilitas yang dibangun melalui perjuangan Persyarikatan, dan berada dalam lingkungan Muhammadiyah, tetapi melupakan tanggung jawab terhadap dakwah dan perkaderan.

Amanah kepemimpinan bukan sekadar persoalan jabatan. Di dalamnya terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga tujuan didirikannya Muhammadiyah dan memastikan bahwa nilai-nilai Persyarikatan benar-benar diwujudkan dalam tindakan.

Selain kaderisasi, saya juga ingin mengingatkan pentingnya tata kelola organisasi yang sehat di lingkungan PTM Maumere.

PTM merupakan institusi pendidikan profesional yang harus dijalankan berdasarkan sistem, struktur, aturan, dan pembagian tugas yang jelas. Setiap pimpinan memiliki amanah dan kewenangan yang perlu dijalankan secara bertanggung jawab.

Jangan sampai muncul terlalu banyak pusat kendali dalam sebuah organisasi. Jangan sampai ada banyak “matahari” yang ingin menjadi pusat perhatian dan mengambil peran di luar kewenangannya.

Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bergantung pada satu orang. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang setiap unsurnya mampu bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Baca Juga  Pemuda Muhammadiyah Kubu Raya Gelar Baitul Arqom Dasar untuk Perkuat Kader

Rektor memiliki amanah. Wakil rektor memiliki amanah. Pimpinan fakultas memiliki amanah. Demikian pula seluruh unsur lainnya. Setiap kewenangan perlu dihormati agar sistem organisasi berjalan secara tertib dan profesional.

Tidak perlu mengambil alih peran orang lain hanya untuk menunjukkan eksistensi. Pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang ingin menguasai seluruh ruang, melainkan pemimpin yang mampu memastikan bahwa seluruh sistem bekerja dengan baik.

Muhammadiyah membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga amanah, bukan sekadar pemimpin yang menduduki jabatan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari Muhammadiyah hanya dalam identitas, tetapi kehilangan semangat Muhammadiyah dalam tindakan.

Jangan sampai kita berada di dalam rumah besar Muhammadiyah, tetapi lupa menjaga tujuan didirikannya rumah tersebut.

Ukuran keberhasilan seorang pemimpin Muhammadiyah bukan hanya berapa lama ia memegang amanah atau seberapa luas ruang yang dikuasainya. Lebih dari itu, keberhasilan seorang pemimpin dapat dilihat dari manfaat yang ditinggalkan, sistem yang diperkuat, dan kader-kader yang berhasil dibina serta diberi kesempatan untuk berkembang.

Pada akhirnya, perjalanan 13 tahun PTM Maumere harus menjadi momentum evaluasi bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memastikan bahwa PTM Maumere benar-benar menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan perkaderan Muhammadiyah.

Kritik ini hendaknya menjadi ajakan untuk memperkuat institusi, memperbaiki tata kelola, dan memberikan perhatian yang lebih serius terhadap proses kaderisasi.

Sebab, Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan institusi yang besar. Muhammadiyah membutuhkan kader yang besar.

  • *) Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sikka.***