100 Tahun Majalah Suara ‘Aisyiyah: Jangan Sampai Dikubur Hidup-Hidup

Infografik 100 tahun Majalah Suara 'Aisyiyah. (Foto:AI)

MAKLUMAT — Pesan Siti Hayinah, Pemimpin Redaksi Suara ‘Aisyiyah pada 1938, agar majalah tersebut tidak sampai “dikubur hidup-hidup” kembali mengemuka saat Suara ‘Aisyiyah memasuki usia satu abad. Pesan itu menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan media yang selama 100 tahun menjadi ruang literasi, dakwah, dan penyebaran gagasan perempuan.

Suara ‘Aisyiyah pertama kali terbit pada Oktober 1926 dengan nama Soeara ‘Aisjijah. Sejak awal, penerbitan majalah ini menjadi bagian dari perjalanan ‘Aisyiyah dalam memperluas akses pengetahuan dan mendorong kemajuan perempuan.

Pesan Siti Hayinah yang terus dikenang berbunyi, “Jika kita tidak menghidup-hidupi majalah Suara ‘Aisyiyah, maka kita kubur hidup-hidup saja majalah Suara ‘Aisyiyah ini.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberlangsungan media tidak hanya bergantung pada penerbit, tetapi juga pada dukungan pembaca dan organisasi yang menaunginya.

Momentum satu abad Suara ‘Aisyiyah diperingati melalui acara bertema “Literasi Perempuan, Peradaban Berkemajuan” di Suara Muhammadiyah Tower, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026).

Dalam acara tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengingatkan bahwa usia panjang sebuah media tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan. Suara ‘Aisyiyah juga perlu memastikan kontennya memberikan dampak nyata bagi kehidupan perempuan.

“Sudah berusia 100 tahun. Bagaimana cara menentukan itu? Apakah SA sudah punya dampak yang optimal, dampak yang maksimal terhadap seluruh kehidupan perempuan ‘Aisyiyah dan perempuan Indonesia?” ujarnya.

Berawal pada 1926, Menjadi Ruang Literasi Perempuan

Kelahiran Suara ‘Aisyiyah berlangsung pada masa penjajahan Belanda, ketika perempuan pribumi menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan ruang untuk berkiprah di ranah publik. Dalam situasi tersebut, media menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan gagasan dan memperluas pengetahuan.

Baca Juga  Menghidupkan "State of Mind" Muhammadiyah di Era AI

Majalah ini mula-mula menggunakan bahasa Jawa, kemudian berkembang menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Dalam perjalanannya, Suara ‘Aisyiyah menjadi media komunikasi bagi pimpinan dan anggota ‘Aisyiyah sekaligus ruang untuk membicarakan pemikiran dan persoalan perempuan.

Peran tersebut tidak berhenti pada penyampaian informasi. Suara ‘Aisyiyah turut memberi ruang bagi perempuan untuk membaca, menulis, mengembangkan pemikiran, dan menyampaikan pandangan dari perspektif mereka sendiri.

Isu yang disuarakan mencakup kehidupan anak-anak dan remaja, petani, nelayan, perempuan korban kekerasan, perkawinan anak, hingga perubahan iklim. Berbagai persoalan itu menunjukkan bahwa literasi perempuan juga berkaitan dengan persoalan sosial dan kemanusiaan yang lebih luas.

Nilai-nilai Islam berkemajuan menjadi salah satu landasan dalam mendorong kemajuan perempuan melalui literasi dan dakwah.

Tantangan Suara ‘Aisyiyah di Era Digital

Memasuki usia satu abad, Suara ‘Aisyiyah menghadapi tantangan untuk mempertahankan penerbitan majalah sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi.

Selain hadir dalam bentuk cetak, media ini mengembangkan kanal digital untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Kontributor dari berbagai daerah juga terlibat dalam produksi informasi.

Salmah Orbayinah menilai digitalisasi menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas jangkauan pembaca sekaligus menjaga keberlanjutan warisan literasi yang telah dibangun selama satu abad.

“Kalau kemudian lewat digital, sudah ada ya tinggal nanti dikembangkan lagi, menjadi akan lebih menjangkau lebih luas lagi,” tuturnya.

Baca Juga  Pesan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir untuk Elite Politik Jelang Pemilu 2024

Menurut Salmah, pengembangan media juga perlu diikuti dengan peningkatan kualitas konten. Suara ‘Aisyiyah diharapkan menghadirkan informasi yang dekat dengan kebutuhan perempuan, mulai dari keluarga sakinah, fikih dan konsultasi agama, kesehatan, kebijakan publik, sosial budaya, hingga kisah inspiratif.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, turut mendorong agar momentum satu abad dimanfaatkan untuk merumuskan visi pengembangan media yang lebih maju dan profesional. Peningkatan kualitas konten dan daya tarik majalah dinilai penting agar Suara ‘Aisyiyah mampu menjangkau pembaca yang lebih luas.

Melahirkan Penulis dan Kreator Konten Perempuan

Tantangan lain adalah memperluas peran perempuan dalam produksi pengetahuan. Perempuan tidak cukup hanya menjadi pembaca atau konsumen informasi, tetapi juga perlu memperoleh ruang untuk menghasilkan gagasan dan menyebarkannya kepada masyarakat.

Salmah berharap semakin banyak kader ‘Aisyiyah yang terampil menulis dan memproduksi konten kreatif. Ia juga menginginkan Suara ‘Aisyiyah menjadi ruang tumbuh bagi gagasan dan kepemimpinan perempuan.

“SA diproyeksikan menjadi wadah sekaligus inkubator bagi lahirnya gagasan tokoh-tokoh perempuan ‘Aisyiyah,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Suara ‘Aisyiyah, Khusnul Hidayah, menegaskan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis.

“Literasi bukan hanya membaca dan menulis, tapi kemampuan untuk berpikir kritis,” katanya.

Khusnul juga menyoroti pentingnya dukungan ekonomi untuk menjaga keberlanjutan media. Ia mengajak amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mendukung Suara ‘Aisyiyah, termasuk melalui langganan majalah.

Baca Juga  Takziyah Sis Sugiono: Pencipta Mars Pemuda Muhammadiyah Baru

“Kami ingin Suara ‘Aisyiyah tidak hanya kuat secara idealisme, tetapi juga secara ekonomi,” tuturnya.

Adapun Pemimpin Redaksi Suara ‘Aisyiyah, Hajar Nur Setyowati, mengingatkan bahwa sejak awal penerbitannya, majalah tersebut membawa gagasan tentang kesetaraan perempuan di tengah konstruksi sosial yang membatasi ruang gerak mereka. Menurutnya, gagasan perlu diterjemahkan menjadi aksi bersama agar menghasilkan perubahan nyata.

Menjaga Warisan Satu Abad

Dalam peringatan milad tersebut, Suara ‘Aisyiyah memberikan Lifetime Achievement Award kepada Siti Hayinah dan Siti Chamamah Soeratno atas kiprah keduanya sebagai tokoh pers perempuan. Penghargaan diterima oleh perwakilan keluarga masing-masing.

Penghargaan juga diberikan kepada penulis dan kontributor produktif, Kusnita dan Suko Wahyudi. Sementara itu, penghargaan bagi agen dengan capaian terbanyak dan berkelanjutan diberikan kepada Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Jakarta Pusat dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Blora.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba menulis artikel dan TikTok Challenge, kemudian ditutup dengan penampilan stand-up comedy oleh Chairul Mukmin.

Satu abad perjalanan Suara ‘Aisyiyah memperlihatkan pentingnya menjaga ruang bagi perempuan untuk memperoleh informasi, mengembangkan pemikiran, dan menyuarakan gagasan. Tantangan berikutnya adalah memastikan media ini tetap relevan melalui konten berkualitas, perluasan jangkauan digital, regenerasi penulis, serta dukungan ekonomi yang berkelanjutan.

Pesan Siti Hayinah untuk tidak membiarkan Suara ‘Aisyiyah “dikubur hidup-hidup” menjadi pengingat bahwa warisan literasi tidak cukup hanya dirayakan. Warisan itu perlu terus dihidupkan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi berikutnya.***