Muktamar Tarjih ke-33 di Surabaya, Hidupkan Kembali Spirit KH Mas Mansur

Muktamar Tarjih

MAKLUMAT – Surabaya memiliki tempat penting dalam sejarah perkembangan pemikiran Muhammadiyah. Kota Pahlawan ini menjadi tempat lahirnya sejumlah tokoh Muhammadiyah, termasuk KH Mas Mansur yang berperan dalam perkembangan Majelis Tarjih. Spirit pemikiran tokoh tersebut kini ingin dihidupkan kembali melalui penyelenggaraan Muktamar ke-33 Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), 5–7 November 2026.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Ustadi Hamsah mengatakan, pemilihan Surabaya bukan sekadar pertimbangan lokasi. Muktamar ini diharapkan menjadi momentum untuk menyambungkan kembali semangat KH Mas Mansur dalam merespons perkembangan zaman melalui pemikiran keislaman.

Menurut Ustadi, perkembangan Majelis Tarjih tidak terlepas dari kegigihan dan semangat keislaman KH Mas Mansur. Pemikiran tersebut mendorong agar ajaran Islam mampu menjawab perubahan zaman sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Dengan harapan akan lahir Mas Mansur-Mas Mansur baru dari Umsura khususnya dan Mas Mansur-Mas Mansur baru dari Surabaya yang akan memberikan pencerahan, memberikan kemajuan, memberikan sesuatu yang positif bagi masyarakat Surabaya khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” ujar Ustadi, Senin 12 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, semangat tersebut juga tercermin dalam logo Muktamar ke-33 Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Tugu Surabaya melambangkan keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran dan kemajuan. Sementara itu, Jembatan Suramadu menggambarkan upaya menghubungkan teks ajaran Islam dengan perkembangan zaman serta menerjemahkan kesalehan ke dalam tindakan sehari-hari.

Baca Juga  Tidur Siang di Jam Sekolah, Pakar Pendidikan: Bagus!

Simbol matahari yang bersinar di atas tugu dan jembatan menggambarkan komitmen Muhammadiyah untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam dan masyarakat luas. Pemikiran yang dikembangkan diharapkan tetap terbuka, moderat, arif, serta berorientasi pada kemaslahatan dan kesejahteraan.

Lima Agenda Respons Persoalan Zaman

Spirit pemikiran KH Mas Mansur tersebut akan menjadi konteks penting dalam pembahasan lima agenda utama muktamar. Agenda itu meliputi fikih lanjut usia, fikih kedaulatan pangan, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Risalah Akhlak Praktis, serta pengembangan tuntunan Muhammadiyah.

Ustadi menjelaskan, melalui fikih lanjut usia, Muhammadiyah ingin menghadirkan tuntunan Islam yang mendorong layanan, kesejahteraan, dan kenyamanan bagi lansia. Kelompok tersebut harus dirangkul dan dimuliakan, bukan dipinggirkan dari kehidupan masyarakat.

Agenda fikih kedaulatan pangan juga menjadi perhatian. Pembahasan ini diarahkan untuk merumuskan tuntunan keislaman terkait ketahanan dan kemandirian pangan sebagai kebutuhan mendasar manusia.

“Bagaimana Islam itu betul-betul konsen terhadap hal-hal yang terkait dengan kemanusiaan, ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan seterusnya,” jelasnya.

Dua agenda lainnya menyangkut penguatan akidah dan akhlak. Melalui Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid ingin menegaskan karakter akidah yang berlandaskan kasih sayang, merangkul, membebaskan, serta memberikan solusi atas persoalan zaman.

Baca Juga  PP Muhammadiyah dan UI Teken MoU, Semangat Fastabiqul Khairat Perkuat Peran Akademik dan Masyarakat Sipil

Sementara itu, Risalah Akhlak Praktis diarahkan untuk menerjemahkan nilai-nilai Islam berkemajuan ke dalam perilaku sehari-hari. Menurut Ustadi, akhlak harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat, termasuk mendorong kemajuan, menyelesaikan persoalan, dan meningkatkan kesejahteraan.

Agenda kelima adalah pengembangan tuntunan Muhammadiyah, salah satunya pembahasan bacaan as-salatu khairum minan-naum dalam azan Subuh. Materi ini akan dikaji berdasarkan tuntunan yang bersumber dari hadis, mengingat terdapat perbedaan praktik di tengah masyarakat.

Muktamar tersebut diperkirakan diikuti sekitar 200–250 peserta dari berbagai unsur Muhammadiyah, mulai dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hingga jajaran Majelis Tarjih dan Tajdid di berbagai tingkatan.

Umsura Siapkan Diri sebagai Tuan Rumah

Rektor Umsura Prof. Dr. Mundakir menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kepercayaan PP Muhammadiyah yang menunjuk kampusnya sebagai tempat penyelenggaraan Muktamar ke-33 Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Mundakir memastikan Umsura akan mempersiapkan fasilitas dan kebutuhan peserta untuk mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Kampus juga berupaya memberikan kenyamanan selama proses persidangan berlangsung.

“Kami bersyukur, kami bangga diberikan kepercayaan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, di mana Umsura sebagai tempat pelaksanaan. Ini adalah bentuk apresiasi dan tentu amanah sehingga kami akan mempersiapkannya sebaik mungkin untuk kesuksesan acara ini,” kata Mundakir.

Baca Juga  PP Muhammadiyah Gandeng Danamon Perkuat Ekosistem Digital SatuMu

Bagi Umsura, penyelenggaraan muktamar tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga kesempatan memperkuat pemahaman sivitas akademika terhadap identitas Muhammadiyah melalui peran Majelis Tarjih dan Tajdid.

Mundakir berharap dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dapat memperluas wawasan mengenai cara Muhammadiyah merespons persoalan akidah, ibadah, serta perubahan sosial melalui perspektif Islam. Fakultas Studi Islam dan Peradaban menjadi salah satu lingkungan akademik yang berpotensi memperoleh manfaat langsung dari forum tersebut.

Ia menilai keterlibatan dosen dalam aktivitas Majelis Tarjih juga dapat membantu menyebarluaskan pemikiran dan nilai-nilai Muhammadiyah di lingkungan kampus.

Melalui penyelenggaraan muktamar di Surabaya, Ustadi berharap semangat pemikiran KH Mas Mansur terus berkembang dan melahirkan gagasan-gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, warisan pemikiran tokoh Muhammadiyah tersebut tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi untuk menjawab persoalan masa kini.