MAKLUMAT – Bandara King Khalid Riyadh, Arab Saudi, ditutup hingga 17 Oktober 2026 setelah serangkaian serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Penutupan ini memicu pembatalan penerbangan dan mengganggu konektivitas udara Arab Saudi dengan dunia internasional.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menghentikan operasional bandara untuk memastikan keselamatan serta kesiapan fasilitas penerbangan. Pemberitahuan kepada penerbang (Notice to Airmen/NOTAM) pada Senin, 12 Oktober 2026, menyebut penutupan berlangsung hingga pukul 21.00 GMT pada 17 Oktober atau Sabtu waktu setempat.
Melansir Reuters, Bandara King Khalid merupakan bandara tersibuk kedua di Arab Saudi setelah Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah.
Perusahaan analisis penerbangan Cirium mencatat tingkat pembatalan penerbangan di seluruh bandara Arab Saudi mencapai 46,4 persen. Sementara itu, data pelacak penerbangan Flightradar24 menunjukkan pesawat-pesawat menghindari Riyadh pada Senin, meskipun sejumlah penerbangan masih melintasi wilayah udara Arab Saudi dan mendarat di Jeddah.
Serangan Houthi Picu Penutupan Bandara Riyadh
Kelompok Houthi pada Senin (12/10) malam mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid menggunakan rudal balistik. Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah pemerintah Arab Saudi mengumumkan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh.
Dalam pernyataan terpisah, Houthi juga mengklaim menargetkan pangkalan udara di Khamis Mushait, wilayah barat daya Arab Saudi, menggunakan pesawat nirawak (drone). Hingga laporan Reuters diterbitkan, belum ada konfirmasi langsung dari pemerintah Arab Saudi mengenai klaim serangan terhadap pangkalan udara tersebut.
Bandara King Khalid telah ditutup sejak serangan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Reuters menyebut serangan itu sebagai yang paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Serangan berikutnya terjadi pada Ahad (11/0), menewaskan satu orang dan melukai hampir 12 orang lainnya.
Rangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan sipil di kawasan Timur Tengah.
“Serangan intensif yang berlangsung terus-menerus terhadap penerbangan sipil pada tingkat seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Mark Zee, pendiri OPSGROUP, organisasi yang menyediakan panduan keselamatan penerbangan bagi para anggotanya.
Zee menilai situasi tersebut mengharuskan industri penerbangan meninjau kembali penilaian risiko dan mengambil langkah pencegahan secara lebih ketat.
Maskapai Eropa dan Asia Batalkan Penerbangan
Dampak serangan terhadap penerbangan Riyadh meluas ke sejumlah maskapai internasional. Maskapai dari Eropa dan Asia menghentikan layanan tertentu menuju Arab Saudi, sementara otoritas penerbangan Amerika Serikat dan Uni Eropa memperingatkan risiko keselamatan di wilayah udara tersebut.
Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (Federal Aviation Administration/FAA) menyarankan maskapai AS agar berhati-hati ketika terbang menuju atau melintasi wilayah udara Arab Saudi.
Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency/EASA) juga memperluas peringatan wilayah udara Arab Saudi pada Jumat, 9 Oktober 2026, dengan mempertimbangkan risiko serangan rudal dan drone.
Lufthansa Group membatalkan seluruh penerbangan menuju Riyadh hingga 16 Oktober 2026. Air France-KLM memperpanjang penghentian penerbangan dari dan menuju Riyadh hingga akhir Oktober. Etihad Airways yang berbasis di Abu Dhabi juga memperpanjang pembatalan penerbangan.
Sementara itu, Delta Air Lines menunda rencana pembukaan rute Atlanta–Riyadh. Layanan yang semula dijadwalkan mulai 23 Oktober 2026 tersebut ditunda hingga Maret 2027.













