Antrean BBM di Singaraja Ganggu Ekonomi Warga, IMM Buleleng Desak Pemerintah Bertindak

BBM

MAKLUMAT — Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Singaraja dan sekitarnya mulai menjadi perhatian Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Buleleng. Organisasi mahasiswa ini menilai persoalan pasokan BBM telah mengganggu aktivitas ekonomi warga dan meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasinya.

Ketua Umum PC IMM Buleleng, Muhammad Saiful, mengatakan antrean panjang membuat warga kehilangan waktu produktif yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja atau menjalankan usaha. Dampak tersebut dirasakan terutama oleh pedagang kecil, pengemudi transportasi, mahasiswa, dan pekerja harian yang bergantung pada kendaraan untuk beraktivitas.

“Ketika warga Singaraja harus membuang waktu hingga berjam-jam hanya untuk mengisi bensin, ada potensi pendapatan harian yang hilang. Bagi pedagang kecil, pengemudi transportasi, mahasiswa, dan pekerja harian, waktu dua jam di antrean SPBU adalah kerugian finansial yang nyata,” kata Muhammad Saiful dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id, Selasa (13/10/2026).

Menurut Saiful, persoalan ini tidak cukup dipandang sebagai kendala teknis akibat keterlambatan kapal atau terbatasnya stok. Ia menilai pemerintah dan pihak terkait perlu mengevaluasi perencanaan pasokan energi agar masyarakat tidak terus menanggung dampak gangguan distribusi.

Baca Juga  FSPPB: BUK Migas Jangan Cuma Mengganti Baju SKK

Situasi tersebut juga memengaruhi aktivitas mahasiswa di Singaraja. Sebagai salah satu pusat pendidikan di Bali Utara, kota ini menjadi tempat belajar bagi mahasiswa dari berbagai daerah. Antrean BBM berpotensi menyita waktu mereka untuk mengikuti perkuliahan dan kegiatan organisasi.

Saiful juga menyoroti dampak lanjutan terhadap perekonomian lokal. Ketidakpastian pasokan BBM dapat meningkatkan biaya transportasi dan menghambat distribusi barang. Jika kondisi berlangsung lama, gangguan tersebut berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok di masyarakat.

“Pemerintah tidak boleh berlindung di balik alasan teknis cuaca atau keterlambatan distribusi armada. Perencanaan cadangan energi adalah tanggung jawab pemangku kebijakan. Jangan sampai rakyat kecil yang sudah terhimpit secara ekonomi harus menanggung akibat dari ketidakbijakan pengelolaan stok,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, PC IMM Buleleng meminta Pertamina membuka informasi mengenai alokasi pasokan BBM untuk wilayah Buleleng. Organisasi ini juga mendorong Pemerintah Kabupaten Buleleng memperketat pengawasan di SPBU untuk mencegah penimbunan dan mengantisipasi pembelian berlebihan akibat kepanikan masyarakat.

Di tengah kondisi pasokan yang belum menentu, IMM Buleleng mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan. Mahasiswa juga diajak mempertimbangkan berjalan kaki untuk perjalanan jarak dekat dan menggunakan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan jika memungkinkan.

Baca Juga  Harga BBM Naik, Pertamax Green Tembus Rp19.150 per Liter

Saiful berharap masyarakat tetap tenang dalam menghadapi persoalan ini. Ia juga mengajak mahasiswa menyampaikan kritik kepada pemerintah secara tertib sembari mendorong penyelesaian masalah pasokan BBM di Buleleng.

 

*) Penulis: Hanim Fadlilaturrohmah