Kemnaker Fasilitasi Pelatihan Disabilitas: Produk Kerajinan Tembus Ekspor dan Tampil di Trade Expo Indonesia

Dirjen Binapenta dan PKK Kemnaker, Sugeng Heri Suseno. (Foto: Kemnaker)

MAKLUMAT — Produk kerajinan penyandang disabilitas berupa tas, dompet, dan aneka kerajinan dipamerkan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, pada 14-18 Oktober 2026. Sejumlah produk tersebut telah menembus pasar ekspor melalui pendampingan Rumah Kreatif, mitra Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

Capaian tersebut menjadi salah satu contoh pengembangan keterampilan penyandang disabilitas yang dapat membuka peluang usaha dan memperluas jangkauan pemasaran produk.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kemnaker memfasilitasi pelatihan bagi penyandang disabilitas melalui Balai Perluasan Kesempatan Kerja (BPKK) Bekasi.

Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemnaker, Sugeng Heri Suseno, mengatakan pelatihan perlu disusun sesuai kebutuhan peserta agar keterampilan yang diperoleh dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha.

“Peran utama Kemnaker adalah memastikan teman-teman disabilitas mendapatkan pelatihan terstruktur agar memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja. Sasarannya jelas, yaitu mengurangi tingkat pengangguran disabilitas dan mendorong kemandirian mereka,” ujar Sugeng dalam siaran pers, dikutip Kamis (15/10/2026).

Sebagai bagian dari upaya memperluas akses pelatihan, Kemnaker tengah membangun Balai Latihan Kerja (BLK) Khusus Penyandang Disabilitas di BPKK Bekasi, Jawa Barat.

Baca Juga  Menaker: Data TKA Bisa Jadi Acuan untuk Petakan Kebutuhan Kompetensi Tenaga Kerja Indonesia

Balai tersebut dirancang untuk menyediakan lingkungan belajar yang aksesibel, dengan fasilitas dan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Fasilitas yang disiapkan meliputi jalur landai, lift, jalur pemandu bagi penyandang tunanetra, serta toilet yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Selain itu, balai akan dilengkapi Digital Skills Lab untuk pelatihan pemrograman berbasis kecerdasan buatan, Batik & Craft Studio untuk pengembangan keterampilan kriya, serta Laboratorium Terapi Sensori sebagai sarana pendukung pembelajaran.

“Semua ruang kelas dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan penyandang tunarungu, tunanetra, tunadaksa, maupun disabilitas intelektual,” tandas Sugeng.

Di samping pengembangan fasilitas, Kemnaker juga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak yang memiliki pengalaman dalam mendampingi penyandang disabilitas di bidang produktif. Kerja sama tersebut diharapkan mendukung peningkatan kualitas produk agar mampu memenuhi standar pasar internasional.

Ia juga mengungkapkan, ke depan Kemnaker berencana memperluas pelatihan berbasis kompetensi dan pendampingan kerja bagi penyandang disabilitas ke berbagai daerah.

Langkah tersebut, kata dia, diarahkan untuk memperluas akses terhadap pekerjaan layak sekaligus memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan usaha secara mandiri.***