Restorasi Hidroekologis: Pemulih Luka Lahan Gambut

Kenduri. Penulis: Hery Purnobasuki. *)

MAKLUMAT — Ada luka yang tidak selalu terlihat dari jauh. Ia tidak tampak seperti bangunan rusak atau jalan berlubang, tetapi kehadirannya terasa ketika asap menyelimuti kota, ketika sumur warga mengering, ketika hewan liar kehilangan rumah, dan ketika bumi semakin sulit menahan panas. Luka itu bernama lahan gambut yang terdegradasi. Ia pernah menjadi ekosistem yang lembap, tenang, dan penuh kehidupan. Namun, ketika airnya dikuras, kanalnya dibuat, dan hutannya ditebang, gambut pun kehilangan napasnya.

Restorasi hidroekologis hadir sebagai upaya menyembuhkan luka itu. Ia bukan sekadar menanam pohon di lahan yang kering, bukan pula sekadar membuat sekat kanal agar terlihat ada program restorasi. Restorasi hidroekologis adalah usaha mengembalikan keseimbangan air dalam tubuh gambut. Ia berupaya membuat tanah gambut basah kembali, memulihkan fungsi ekosistemnya, serta memastikan manusia yang hidup di sekitarnya tetap memiliki jalan hidup yang layak. Dengan kata lain, restorasi ini menyembuhkan bumi sekaligus merawat manusia.

Lahan gambut sering disalahpahami sebagai tanah yang tidak berguna. Bagi sebagian orang, ia hanya rawa yang berbau, berlumpur, dan sulit diolah. Padahal, gambut adalah salah satu ekosistem paling penting bagi kehidupan. Ia menyimpan air dalam jumlah besar, menahan karbon, menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna, serta menjaga keseimbangan iklim lokal. Ketika gambut sehat, ia seperti spons raksasa yang menyimpan air saat musim hujan dan melepaskannya secara perlahan saat kemarau. Ketika gambut rusak, fungsi alami itu hilang. Air lari cepat, tanah menjadi kering, dan risiko kebakaran meningkat.

Ironisnya, kerusakan gambut sering bermula dari niat mengelola lahan. Kanal dibuat untuk mengalirkan air dan memudahkan akses. Hutan dibuka untuk perkebunan, pertanian, atau permukiman. Dalam jangka pendek, memang ada manfaat ekonomi. Tetapi ketika air terus terkuras, gambut yang semula lembap berubah menjadi kering dan rapuh. Ia kemudian mudah terbakar, bahkan api bisa merambat di bawah permukaan tanah selama berhari-hari atau berminggu-minggu. Kebakaran gambut tidak hanya menghasilkan asap yang mengganggu kesehatan, tetapi juga melepaskan karbon yang telah tersimpan ribuan tahun ke atmosfer.

Baca Juga  Ekosistem Kesehatan Muhammadiyah: Membangun Integasi Pendidikan dan Pelayanan

Baru-baru ini, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali menunjukkan betapa besar dampaknya. Hingga awal Oktober, pemantauan atmosfer Copernicus mencatat kebakaran di Indonesia telah melepaskan 140,5 megaton karbon, setara dengan sekitar 13 persen emisi kebakaran global tahun tersebut. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak 2019. Data lain juga menunjukkan bahwa emisi karbon dari karhutla meningkat tajam sepanjang 2026, menandakan bahwa ancaman terhadap gambut bukanlah persoalan masa lalu, melainkan krisis yang terus berulang.

Di sinilah restorasi hidroekologis menjadi penting. Prinsip dasarnya sederhana: gambut harus dipulihkan bersama airnya. Tanpa air, penanaman pohon hanya akan menjadi simbol. Bibit dapat tumbuh sebentar, tetapi ketika kemarau datang, tanah kering dan api mudah menghanguskan semuanya. Karena itu, langkah pertama restorasi hidroekologis adalah pembasahan kembali atau rewetting. Caranya bisa melalui pembangunan sekat kanal, penimbunan kanal, maupun pembuatan sumur bor di wilayah yang rawan kebakar. Infrastruktur ini membantu menahan air agar tidak terus mengalir keluar dari ekosistem gambut.

Sekat kanal mungkin terlihat seperti bangunan sederhana. Namun, bagi gambut, ia memiliki makna besar. Ia seperti menutup luka pada pembuluh darah bumi. Ketika air tidak lagi lari begitu saja, muka air tanah perlahan naik. Tanah menjadi lebih lembap, mikroorganisme kembali bekerja, dan vegetasi asli mendapat kesempatan tumbuh. Badan Restorasi Gambut dan Mangrove bahkan menjadikan ketinggian muka air tanah sebagai salah satu indikator keberhasilan pemulihan fungsi ekosistem gambut.

Setelah air dipulihkan, tumbuhan perlu dikembalikan. Inilah tahap revegetasi. Penanaman tidak boleh asal pilih. Tanaman yang dipakai harus sesuai dengan kondisi lahan basah dan mampu hidup di gambut. Jenis lokal seperti gerunggang, pulai, tumih, atau jelutung dapat menjadi pilihan yang lebih selaras dengan ekosistem. Penanaman juga perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Jika warga hanya diminta menanam tanpa memperoleh manfaat, program restorasi akan sulit bertahan. Oleh sebab itu, paludikultur atau budidaya pada lahan basah menjadi jalan tengah yang menarik. Warga dapat memperoleh hasil ekonomi tanpa harus mengeringkan gambut.

Namun, restorasi hidroekologis tidak akan berhasil jika hanya berhenti pada air dan pohon. Ada unsur ketiga yang sering kali menentukan: manusia. Masyarakat yang tinggal di sekitar gambut bukanlah pengganggu ekosistem. Mereka adalah penjaga paling depan. Mereka mengenal musim, arah angin, jalur air, dan tanda-tanda alam yang tidak selalu terbaca oleh data satelit. Ketika masyarakat dilibatkan, restorasi menjadi gerakan bersama. Ketika masyarakat diabaikan, restorasi berisiko menjadi proyek yang berhenti begitu dana dan pengawasan berakhir.

Baca Juga  Karhutla Kalimantan Ancam Orangutan hingga Bekantan, DPR Desak Perlindungan Satwa

Pendekatan 3R yang dikenal luas dalam restorasi gambut Indonesia menegaskan hal ini: rewetting untuk pembasahan, revegetation untuk penanaman kembali, dan revitalization untuk pemulihan penghidupan masyarakat. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Gambut yang basah tetapi warga tetap miskin akan tetap rentan dieksploitasi. Sebaliknya, warga yang sejahtera tetapi gambut tetap kering hanya akan menunda bencana. Restorasi yang baik harus membuat keduanya pulih bersama-sama.

Restorasi hidroekologis juga mengajarkan kita tentang kesabaran. Alam tidak dapat dipulihkan dalam semalam. Air mungkin dapat dinaikkan melalui sekat kanal, tetapi pemulihan ekosistem membutuhkan waktu bertahun-tahun. Pohon perlu tumbuh, akar perlu menembus tanah, satwa perlu kembali, dan masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap lahan gambut. Restorasi bukan perlombaan mencetak angka, melainkan proses merawat hubungan antara manusia dan alam.

Karena itu, keberhasilan restorasi tidak cukup diukur dari jumlah sekat kanal atau jumlah bibit yang ditanam. Ia harus dilihat dari perubahan nyata: apakah muka air tanah naik, apakah kebakaran berkurang, apakah vegetasi asli tumbuh, apakah satwa kembali, dan apakah masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan. BRIN bahkan menekankan bahwa model restorasi gambut mencakup pembasahan ulang, penanaman kembali, dan revitalisasi penghidupan masyarakat. Ketiga unsur itu harus berjalan sebagai satu kesatuan, bukan program yang terpisah-pisah.

Ada pula dimensi keadilan yang perlu kita renungkan. Banyak masyarakat adat dan lokal telah lama hidup berdampingan dengan gambut. Mereka memiliki pengetahuan tentang cara bertani, berburu, mencari ikan, dan memanfaatkan hasil hutan tanpa merusak ekosistem. Sayangnya, dalam banyak kasus, mereka justru pihak yang paling terdampak ketika gambut rusak. Asap mengganggu kesehatan mereka, kebakaran mengancam rumah dan ladang, serta perubahan ekosistem mengurangi sumber penghidupan. Restorasi hidroekologis seharusnya mengembalikan hak mereka untuk hidup sejahtera di atas tanah yang sehat.

Baca Juga  Nasib Toko Kelontong

Pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, swasta, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Pemerintah perlu memastikan kebijakan tata ruang tidak lagi membuka jalan bagi alih fungsi gambut yang merusak. Peneliti perlu menghasilkan data yang mudah dipahami dan dapat digunakan di lapangan. Swasta harus berhenti memperlakukan gambut sebagai lahan murah yang dapat dikeringkan demi keuntungan jangka pendek. Sedangkan masyarakat perlu diberi ruang, pengetahuan, dan dukungan agar dapat menjadi mitra restorasi, bukan sekadar penerima program.

Restorasi hidroekologis pada akhirnya adalah cerita tentang harapan. Ia mengajarkan bahwa luka alam dapat disembuhkan, meskipun tidak selalu kembali sepenuhnya seperti semula. Air dapat dikembalikan, pohon dapat tumbuh, dan kehidupan dapat bangkit kembali. Tetapi syaratnya, kita harus berhenti memperlakukan gambut sebagai wilayah yang boleh dikorbankan. Kita perlu melihatnya sebagai rumah bersama: rumah bagi ikan, burung, pohon, mikroorganisme, masyarakat lokal, dan juga bagi generasi yang akan datang.

Ketika gambut pulih, manfaatnya tidak berhenti di wilayah rawa. Udara menjadi lebih bersih, risiko kebakaran menurun, air tersimpan lebih baik, dan karbon tetap terkunci di dalam tanah. Dunia menjadi sedikit lebih sejuk. Bagi Indonesia, negara dengan ekosistem gambut yang luas dan penting, restorasi hidroekologis bukan lagi pilihan. Ia adalah tanggung jawab moral, ekologis, dan generasional.

Mungkin kita tidak dapat mengembalikan seluruh masa lalu gambut. Tetapi kita masih dapat memilih masa depannya. Kita dapat memilih untuk terus mengeringkan, membakar, dan membiarkan luka itu membesar. Atau kita dapat memilih untuk memulihkan air, menumbuhkan kembali hutan, dan memberi kehidupan yang layak bagi warga di sekitarnya. Restorasi hidroekologis menawarkan jalan kedua. Ia mengingatkan kita bahwa menyembuhkan bumi tidak selalu membutuhkan keajaiban. Kadang, cukup dengan mengembalikan air ke tempatnya, merawat tumbuhan asli, dan percaya bahwa manusia serta alam dapat pulih bersama.***

*) Penulis: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga; Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga