Dua Perempuan Tani Indonesia Raih Penghargaan 100 Women Heroes FAO 2026

Dua perempuan Indonesia

MAKLUMAT — Dua perempuan Indonesia, Rulyantina dari Pandeglang, Banten, dan Istiqamah dari Aceh, meraih penghargaan 100 Women Heroes FAO 2026 di Roma, Italia. Keduanya mendapat pengakuan atas kontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan potensi pertanian lokal, dan meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka International Year of the Woman Farmer 2026 yang diselenggarakan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO).

Atase Pertanian Republik Indonesia di Italia, Muharfiza, mengatakan penghargaan itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kiprah perempuan Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Pengakuan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kiprah perempuan Indonesia kepada dunia,” kata Muharfiza seperti diansir laman FAO dan Antara, Sabtu (17/10).

Foto Rulyantina pengembang talas beneng. Foto:Dok FAO

 

Menurut Muharfiza, Rulyantina memperlihatkan potensi pengembangan komoditas pangan lokal menjadi produk bernilai tambah. Sementara itu, Istiqamah menunjukkan pentingnya penguatan kelembagaan petani, pemeliharaan kualitas produk, dan perluasan akses pasar internasional.

Kiprah keduanya menggambarkan kontribusi perempuan dalam berbagai mata rantai pertanian, mulai dari inovasi pengolahan hasil, pengembangan usaha berbasis potensi lokal, hingga penguatan koperasi untuk meningkatkan posisi tawar petani.

Rulyantina Kembangkan Talas Beneng dengan Konsep Minim Limbah

Rulyantina, yang dikenal dengan sebutan “Unni Talas Beneng”, merupakan inovator pangan asal Pandeglang, Banten. Ia mengembangkan talas beneng, komoditas umbi lokal khas Banten, menjadi beragam produk bernilai tambah melalui pendekatan zero waste atau minim limbah.

Baca Juga  Mentan Amran Sulaiman Minta Para Kades Bergandengan Tangan Wujudkan Ketahanan Pangan

Pendekatan tersebut mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk sekaligus mengurangi limbah pengolahan. Inovasi ini juga mendorong diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat perdesaan.

Dalam pengembangan talas beneng, Rulyantina mendapatkan pendampingan dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten sebagai bagian dari dukungan Kementerian Pertanian terhadap pengembangan potensi komoditas lokal.

Pengembangan produk talas beneng membuka kesempatan usaha bagi perempuan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Upaya tersebut juga memperlihatkan bagaimana komoditas khas daerah dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Melalui inovasi pengolahan dan pemanfaatan bahan baku secara optimal, talas beneng berpotensi memperluas pilihan pangan lokal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di sentra produksinya.

Kiprah Rulyantina menunjukkan bahwa inovasi pangan tidak selalu harus bertumpu pada komoditas utama yang telah mendominasi pasar. Tanaman lokal pun dapat dikembangkan menjadi produk komersial melalui pengolahan, kreativitas, dan praktik usaha yang berkelanjutan.

Istiqamah Perkuat Koperasi Kopi Aceh hingga Pasar Global

Berbeda dengan Rulyantina yang berfokus pada inovasi pangan lokal, Istiqamah dari Aceh berkontribusi dalam pengembangan usaha perkebunan kopi melalui perannya sebagai sekretaris koperasi.

Baca Juga  Rakor Ketahanan Pangan Jatim 2025, Khofifah dan Emil Tegaskan Pentingnya Infrastruktur dalam Mendukung Ketahanan Pangan

Koperasi tersebut mewakili 980 anggota yang secara kolektif mengelola lebih dari 1.200 hektare perkebunan kopi. Melalui kelembagaan ini, para petani berupaya mempertahankan standar kualitas sekaligus memperluas akses ke pasar internasional.

Kopi yang dihasilkan koperasi tersebut telah dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Jerman, Jepang, dan Qatar.

Istiqamah dari Aceh berkontribusi dalam pengembangan usaha perkebunan kopi melalui perannya sebagai sekretaris koperasi. Koperasi tersebut mewakili 980 anggota yang secara kolektif mengelola lebih dari 1.200 hektare perkebunan kopi. Foto:Dok FAO

Peran Istiqamah memperlihatkan pentingnya koperasi dalam mengonsolidasikan kekuatan petani. Melalui usaha kolektif, petani dapat menjaga mutu produk, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan posisi tawar dalam rantai perdagangan.

Selain penguatan kelembagaan dan pemasaran, Istiqamah turut mendorong praktik budidaya kopi berbasis agroforestri berkelanjutan. Pendekatan ini mengintegrasikan pengembangan perkebunan dengan upaya menjaga kelestarian hutan, kesehatan tanah, dan ketersediaan sumber daya air.

Praktik tersebut menjadi relevan di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan serangan hama, dan tuntutan pasar yang terus berkembang. Keberlanjutan lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas perkebunan dan penghidupan petani dalam jangka panjang.

Koperasi juga menjadi ruang bagi perempuan untuk mengambil peran strategis dalam pengelolaan usaha, pengambilan keputusan, dan perluasan akses pasar. Dengan demikian, kontribusi perempuan tidak hanya terlihat pada kegiatan produksi, tetapi juga dalam penguatan kelembagaan ekonomi pertanian.

Baca Juga  IMM Surabaya Sebut Relokasi RPH Pegirian ke TOW sebagai Tragedi Kebijakan

Pengakuan Internasional bagi Perempuan Tani

Penghargaan 100 Women Heroes FAO 2026 menjadi momentum untuk memperluas pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam pembangunan pertanian dan sistem pangan dunia.

Pengalaman Rulyantina dan Istiqamah menunjukkan dua jalur penguatan sektor pertanian. Inovasi pengolahan talas beneng mendorong peningkatan nilai tambah komoditas lokal, sedangkan penguatan koperasi kopi membantu petani menjaga kualitas dan menjangkau pasar internasional.

Keduanya juga memperlihatkan pentingnya dukungan terhadap kapasitas sumber daya manusia pertanian, akses pembiayaan dan pemasaran, pengembangan teknologi pengolahan, serta praktik usaha yang berkelanjutan.

Bagi Indonesia, pengembangan komoditas lokal tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya alam. Nilai tambah perlu dibangun melalui inovasi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan mutu, dan kemampuan menembus pasar.

Pengakuan terhadap Rulyantina dan Istiqamah menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam mendorong inovasi pangan, memperkuat ekonomi perdesaan, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global.***