Hadiri AKPOLDA DPD IMM Jatim, Ketua Fraksi Golkar DPRD Jawa Timur Ajak Mahasiswa Berpikir Kritis sekaligus Solutif

Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim Pranaya Yudha Mahardhika (kanan) menerima cindera mata usai memberikan paparan materi dalam forum AKPOLDA yang diselenggarakan DPD IMM Jawa Timur. (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Jawa Timur, Pranaya Yudha Mahardhika, mengajak para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk berpikir kritis sekaligus solutif dalam menghadapi dinamika serta persoalan kebangsaan.

Hal itu ia sampaikan ketika memberikan materi bertajuk “Gerakan Mahasiswa Islam: dari kampus ke Panggung Politik” dalam agenda Akademi Politik Daerah (AKPOLDA) yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Jumat (16/10/2026).

Dalam kesempatan itu, sebagai pemantik forum, Pranaya memberikan berbagai contoh tokoh berpengaruh yang dianggap berhasil dalam membangun negara Indonesia.

Ia menekankan bahwa tugas mahasiswa juga harus diiringi dengan semangat pemuda yang berperan untuk membangun bangsa. Menurutnya, membangun bangsa tidak cukup bermodalkan pendapat dan aktif di ruang ruang kelas saja, akan tetapi juga dengan menyuarakan pendapat yang kritis namun juga solutif.

“Seorang pemuda tidak cukup hanya jika hanya aktif di ruang ruang kelas saja, seorang pemuda harus berpikir secara kritis, menyampaikan pendapat yang relevan, namun juga harus solutif,” ujarnya.

Pesan Jika Terjun ke Politik

Tak cuma itu, Pranaya juga menekankan kepada seluruh peserta AKPOLDA agar jika ingin terjun ke tanah politik tidak hanya berpikir tentang bagaimana caranya mendapatkan suara dan meraih jabatan, namun juga harus diimbangi dengan narasi-narasi konstruktif untuk bangsa, apa yang sudah atau bisa diberikan kepada masyarakat, serta bagaimana dampak yang telah dihasilkan untuk masyarakat tersebut.

Baca Juga  Bertemu Menpora Dito Ariotedjo, DPP IMM Mengupayakan Beasiswa Aktivis

Menurut Pranaya, terjun ke ranah politik adalah sebuah strategi, memberi kepada masyarakat adalah bentuk dari kekuasaan sedangkan dampaknya harus menuju pada kesejahteraan.

“Kalau ingin terjun ke politik jangan hanya berpikir bagaimana caranya meraih suara, melainkan harus diimbangi dengan hal apa yang telah kalian beri, dan dampak apa yang telah kalian hasilkan,” pesan sosok yang menjabat di Komisi C DPRD Jawa Timur itu.

Pranaya menambahkan, modal utama politik adalah kompetensi, merawat jaringan, menjaga relasi perkawanan dengan siapa pun, serta keikhlasan untuk selalu memberi dan berbuat.

Ia menutup paparannya tersebut dengan beberapa ungkapan. “Ibarat penjual minyak tanah, maka tanganmu akan berbau minyak tanah, tapi jangan kau minum dari minyaknya,” ucapnya.

“Apa pun yang kau minta, rayulah Tuhanmu sebagaimana kau merayu kekasihmu,” pungkas Pranaya, sembari menekankan pentingnya keselarasan antara ikhtiar dan doa.***

*) Penulis: Humanika