KH Moh Syaeful Bahar Ajak Muhammadiyah dan NU Bersinergi, Hadapi Tantangan Dakwah Era Digital

KH Moh Syaeful Bahar saat menyampaikan paparannya di Pengajian Ahad Pagi PDM Bondowoso, Ahad (18/10/2026). (Foto: Dok.)

MAKLUMAT — Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso Dr KH Moh Syaeful Bahar MSi menekankan pentingnya organisasi keagamaan untuk beradaptasi dan menguatkan kolaborasi dalam menghadapi tantangan dakwah Islam di era digital.

Hal itu ia sampaikan ketika mengisi Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bondowoso, yang mengangkat tema “Tanggung Jawab Muhammadiyah dan NU dalam Merawat Indonesia dan Menjaga Islam dari Ancaman Radikalisme dan Sekularisme”, Ahad (18/10/2026).

Dalam pengajian yang diikuti warga serta simpatisan Muhammadiyah, guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah, hingga masyarakat umum tersebut, Kiai Syaeful Bahar mengatakan bahwa perkembangan zaman, terutama transformasi digital, telah mengubah cara masyarakat menjalani kehidupan, memperoleh informasi, dan mempelajari agama.

Gadget, kata dia, kini tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dan berbelanja, tetapi juga menjadi sarana utama bagi sebagian masyarakat untuk mencari pengetahuan keislaman melalui media sosial.

Menurutnya, perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dakwah Islam. Ia menilai, konten yang memperoleh banyak perhatian di media sosial tidak selalu mencerminkan kedalaman ilmu maupun ketepatan pemahaman agama.

Ia menyoroti mekanisme popularitas yang bertumpu pada jumlah suka dan interaksi, yang disebutnya dapat mendorong munculnya konten keagamaan yang lebih mengutamakan sensasi daripada penjelasan yang utuh dan mendalam.

Baca Juga  Muhadjir Effendy Ajak Muhammadiyah Dukung Pemerintah untuk “Bersih-bersih” Tata Kelola Haji

Kiai Syaeful Bahar mengingatkan bahwa penyampaian agama yang hanya berkutat pada persoalan halal dan haram tanpa mempertimbangkan konteks, keluasan ilmu, serta kearifan dalam berdakwah dapat membentuk pemahaman yang sempit. Apabila masyarakat tidak memiliki literasi keagamaan yang memadai, kondisi tersebut berpotensi membuat mereka mudah menerima pandangan keagamaan yang kaku dan eksklusif.

Sebab itu, ia mendorong Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk memperluas jangkauan dakwah melalui media sosial dengan melibatkan para dai muda.

Menurut dia, generasi muda dinilai memiliki potensi besar untuk menghadirkan konten yang kreatif, komunikatif, dan sesuai dengan karakter masyarakat digital.

Meski begitu, Kiai Syaeful Bahar menekankan bahwa inovasi yang dilakukan harus tetap berpijak pada otoritas keilmuan dengan mengoordinasikan materi dakwah bersama para ulama yang memiliki kompetensi mendalam dalam bidang keislaman.

“Dakwah di media sosial harus menjadi perhatian bersama. Dai muda perlu hadir dengan cara penyampaian yang menarik, tetapi substansi materinya harus tetap terjaga melalui koordinasi dengan para ulama,” tandas Kiai Syaeful Bahar.

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi Muhammadiyah dan NU dalam menghadapi perubahan sosial.

Ia mengingatkan bahwa setiap fase perkembangan industri membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat. Organisasi yang tidak mampu beradaptasi dan membangun kerja sama berisiko kehilangan peran strategisnya.

Baca Juga  Islamic Green School: Langkah Hijau Berbasis Nilai Islam di Dunia Pendidikan

Menurutnya, Muhammadiyah dan NU tidak seharusnya terjebak dalam persaingan jamaah maupun mempertajam perbedaan praktik ibadah, seperti persoalan qunut dan tidak qunut. Perbedaan tersebut semestinya dikelola dengan kedewasaan, tanpa mengurangi semangat persaudaraan dan tanggung jawab bersama terhadap umat dan bangsa.

Kiai Syaeful Bahar juga menyinggung konflik berkepanjangan di Timur Tengah sebagai pengingat tentang pentingnya pengelolaan perbedaan dan kewaspadaan terhadap provokasi yang dapat memperuncing perpecahan.

Dalam konteks Indonesia, ia menilai keberadaan Muhammadiyah dan NU yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, serta pemberdayaan masyarakat merupakan modal penting untuk menjaga persatuan umat Islam dan keutuhan bangsa.

Melalui pengajian tersebut, PDM Bondowoso menghadirkan ruang dialog keagamaan yang menegaskan bahwa tantangan umat tidak cukup dihadapi dengan mempertahankan pola dakwah konvensional semata. Penguatan literasi keagamaan, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, dan sinergi lintas organisasi menjadi langkah penting agar dakwah Islam tetap relevan sekaligus mampu menjawab persoalan masyarakat.

Kolaborasi Muhammadiyah dan NU diharapkan terus berkembang, baik di lingkungan masyarakat maupun ruang digital, sehingga dakwah tidak hanya memperkuat pemahaman keislaman, tetapi juga menumbuhkan sikap toleran, mempererat persaudaraan, dan menjaga komitmen kebangsaan demi Indonesia yang damai dan berkemajuan.***

Baca Juga  Haedar Nashir: Pendidikan dan Profesionalisme Jadi Kunci Kemajuan Muhammadiyah