MAKLUMAT — Di tengah rangkaian Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur di Ponorogo pada 16-18 Oktober 2026, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Sidoarjo membawa satu jargon sederhana tapi mendalam: “Perkaderan Bahagia”.
Ketua PDNA Sidoarjo, Dr Nur Ravita Hanun SE MA, menyebut bahwa jargon itu bukan sekadar slogan penyemangat, melainkan cara pandang tentang bagaimana kader seharusnya dirawat dan dibina dalam berorganisasi.
Ia menjelaskan, perkaderan bahagia lahir dari keinginan untuk menghargai setiap proses yang dijalani kader Sidoarjo dalam bernasyiah. Bagi PDNA Sidoarjo, kata dia, perjalanan seorang kader, sekecil apa pun langkahnya, layak untuk diapresiasi.
Jargon tersebut, lanjutnya, adalah sebuah harapan agar kader Nasyiah Sidoarjo dapat berproses dengan nyaman, bahagia, dan tanpa paksaan. Kader tidak dibebani tekanan, melainkan diberi ruang untuk tumbuh sesuai kemampuan dan ritmenya masing-masing.
Dengan pendekatan tersebut, PDNA Sidoarjo berharap setiap kader merasa menemukan keluarga di dalam organisasi. Perasaan diterima dan didukung dinilai menjadi fondasi penting, sebab kader yang merasa nyaman cenderung bertahan, berkontribusi, dan menularkan semangat yang sama kepada kader lainnya.
“Pendekatan ini terasa relevan dengan tantangan organisasi hari ini. Perkaderan kerap diasosiasikan dengan agenda padat dan tuntutan peran, sehingga tidak jarang kader merasa kelelahan,” katanya.
“Melalui perkaderan bahagia, Nasyiatul Aisyiyah Sidoarjo menawarkan wajah lain: kaderisasi yang mengutamakan kebersamaan, penghargaan, dan keikhlasan dalam berproses,” jelas Nur Ravita Hanun.
Ia menegaskan komitmen Nasyiatul Aisyiyah dalam mencetak perempuan muda berkemajuan, kualitas kader tidak hanya diukur dari capaian program, tetapi juga dari seberapa sehat dan menyenangkan proses yang dilalui. Pesannya sederhana: kader yang bahagia akan bergerak lebih jauh.***
*) Penulis: Devita Nur Layly













