MAKLUMAT – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong penguatan Trade Expo Indonesia (TEI) sebagai salah satu penggerak ekspor furnitur dan kerajinan nasional. Melalui pengembangan Furniture & Home Décor Pavilion, HIMKI menargetkan peningkatan nilai ekspor dari sekitar USD 3 miliar menjadi USD 6 miliar pada 2031.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan, pameran perdagangan internasional perlu dikembangkan bukan sekadar sebagai tempat memajang produk, melainkan sebagai sarana mempertemukan pelaku industri Indonesia dengan pembeli internasional yang potensial.
“HIMKI mendukung penuh penyelenggaraan Trade Expo Indonesia. Kami ingin furniture & home décor pavilion terus dikembangkan menjadi pavilion sektoral terbaik, yang dikunjungi buyer mancanegara berkualitas dan mampu menghasilkan kemitraan serta transaksi nyata bagi industri,” ujar Abdul Sobur dalam siaran pers, Ahad (18/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian TEI 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Dalam pameran tersebut, HIMKI memfasilitasi partisipasi pelaku industri furnitur, dekorasi rumah, dan kerajinan melalui pavilion sektoral di Hall 9.
Menurut Abdul Sobur, penguatan TEI menjadi bagian dari sinergi HIMKI dengan Kementerian Perdagangan untuk memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing produk, dan membangun kesinambungan promosi ekspor Indonesia.
HIMKI Targetkan Ekspor USD 6 Miliar pada 2031
HIMKI bersama pemerintah menyusun langkah peningkatan ekspor furnitur dan kerajinan dalam kerangka kerja bersama atau task force. Program tersebut menargetkan penggandaan nilai ekspor dari sekitar USD 3 miliar menjadi USD 6 miliar pada 2031.
Target tersebut sekaligus menjadi pijakan menuju visi ekspor USD 25 miliar pada 2045.
Abdul Sobur menegaskan, pencapaian target ekspor membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku industri. Upaya tersebut mencakup penguatan promosi internasional, perluasan pasar, peningkatan kualitas desain, keberlanjutan bahan baku, pengembangan sumber daya manusia, kapasitas produksi, efisiensi logistik, pembiayaan, dan dukungan regulasi.
“Target USD6 miliar tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah atau pelaku industri secara sendiri-sendiri. Diperlukan kerja bersama yang konsisten,” kata Abdul Sobur.
Ia menambahkan, TEI memiliki posisi strategis sebagai momentum promosi ekspor pada semester kedua. Penguatan pameran sektoral juga diharapkan melengkapi kalender pameran internasional Indonesia sehingga promosi dan pencarian pembeli dapat berlangsung sepanjang tahun.
Buyer dari Berbagai Negara Kunjungi Pavilion HIMKI
Selama lima hari penyelenggaraan TEI 2026, Furniture & Home Décor Pavilion dikunjungi calon pembeli dan mitra bisnis dari berbagai negara. Mereka antara lain berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Belgia, Korea Selatan, Malaysia, India, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Turki, Pakistan, Singapura, Afrika Selatan, Kamerun, Mesir, Palestina, dan Papua Nugini.
Produk yang menarik perhatian meliputi furnitur dalam dan luar ruangan, furnitur taman, produk rotan, meja dan kursi, pintu, lampu, hadiah korporasi, produk kriya, serta kerajinan kayu.
HIMKI menyebut sejumlah calon pembeli juga merencanakan komunikasi lanjutan dan kunjungan langsung ke fasilitas produksi peserta. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengubah pertemuan selama pameran menjadi peluang transaksi nyata.
Rani Permata Sari dari Nuansa Kayu Bekas menilai TEI 2026 sebagai penyelenggaraan terbaik dalam enam tahun terakhir. Perusahaannya menerima kunjungan calon pembeli dari sejumlah negara, termasuk Malaysia, Korea Selatan, Belanda, Belgia, Amerika Serikat, dan Bahrain.
“Alhamdulillah, ini TEI paling bagus dalam enam tahun terakhir. Animo buyer ada dan terlihat. Kami juga melihat Kementerian Perdagangan semakin serius dalam penyelenggaraannya,” ujar Rani.
Ketua DPD HIMKI Semarang Raya, A. Kuswidiarso, juga menilai pameran tersebut membuka peluang bisnis, terutama ketika calon pembeli menunjukkan minat untuk menindaklanjuti pertemuan melalui kunjungan ke pabrik.
Meski demikian, HIMKI menilai keberhasilan pameran tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung. Relevansi calon pembeli, potensi transaksi, kunjungan pabrik, dan keberlanjutan hubungan bisnis menjadi indikator yang perlu diperhatikan.
HIMKI Perkuat Kerja Sama Industri dan Pendidikan
Selain memperluas akses pasar, HIMKI memanfaatkan TEI 2026 untuk memperkuat kemitraan dengan pemerintah dan sejumlah mitra strategis.
HIMKI menandatangani nota kesepahaman dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pelaku usaha dan pekerja di sektor furnitur dan kerajinan. Pelaksanaannya akan dilanjutkan melalui edukasi, sosialisasi, dan fasilitasi kepesertaan bagi anggota HIMKI.
HIMKI juga menjalin kerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia dalam pengembangan riset, inovasi, desain, talenta industri, dan pertukaran pengetahuan. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat jejaring industri furnitur dan kerajinan di kawasan ASEAN.
Selain itu, HIMKI menerima kunjungan perwakilan Singapore Tourism Board untuk membahas peluang kunjungan industri, pembelajaran, studi banding, dan perluasan jejaring bisnis di Singapura serta pasar regional.
HIMKI Evaluasi Kualitas Buyer dan Promosi TEI
HIMKI menerima sejumlah masukan dari peserta untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan TEI berikutnya. Masukan tersebut mencakup promosi yang lebih awal, basis data calon pembeli yang terverifikasi, penempatan pavilion yang strategis, kurasi peserta berdasarkan kesiapan ekspor, serta dukungan pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah yang siap memasuki pasar internasional.
HIMKI juga mendorong pelaksanaan program pertemuan bisnis atau business matching sebelum pameran, pendampingan negosiasi, dan tindak lanjut calon pembeli setelah acara selesai.
Abdul Sobur mengatakan, pengembangan pavilion harus mengutamakan kualitas ekosistem bisnis, bukan sekadar memperluas area pameran.
“Ke depan, kami ingin pavilion ini memiliki skala dan kualitas yang semakin kuat. Bukan semata-mata menambah luas area, tetapi membangun ekosistem yang benar-benar mempertemukan kemampuan industri Indonesia dengan permintaan pasar dunia,” ujarnya.
HIMKI berharap sinergi dengan pemerintah dapat memperkuat posisi furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar internasional. Melalui pengembangan pavilion sektoral yang lebih terarah, organisasi tersebut menargetkan TEI menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong ekspor, memperluas kemitraan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan devisa nasional.***












