Retorika Melimpah, Aksi Tandus: Potret Tragedi Bangsa

Penulis: Hery Purnobasuki. *)

MAKLUMAT — Kita hidup di negeri yang tidak pernah kehabisan kata. Di mana-mana ada pidato, seminar, talkshow, konten motivasi, tagar, dan janji. Para pemimpin berbicara tentang kemajuan, pemerataan, kesejahteraan, dan Indonesia Emas. Para pejabat mengumumkan program besar dengan angka-angka yang mengesankan. Para akademisi menulis ribuan halaman tentang pembangunan. Media memuat wacana tentang masa depan yang cerah.

Namun, di tengah hujan kata itu, banyak persoalan lama tetap berdiri diam. Kemiskinan belum benar-benar surut merata. Ketimpangan masih terasa dari kota ke desa. Banyak anak putus sekolah karena biaya. Banyak keluarga bergantung pada pekerjaan tidak tetap. Infrastruktur kadang megah di pusat kota, tetapi jalan rusak dan layanan publik minim masih menjadi keseharian di pelosok.

Inilah tragedi bangsa yang jarang kita sebut dengan jujur: kita kaya teori, tetapi sering miskin aksi. Kita pandai merumuskan masalah, tetapi lambat menyelesaikannya. Kita mahir membuat slogan, tetapi sering gagal mengubah kenyataan.

Kaya Kata, Miskin Perubahan

Tidak ada yang salah dengan teori. Teori penting karena membantu kita memahami dunia. Tanpa gagasan, pembangunan hanya menjadi aktivitas tanpa arah. Tanpa data, kebijakan mudah menjadi tebakan. Tanpa kritik, kekuasaan bisa berjalan tanpa kontrol.

Masalahnya muncul ketika teori berhenti di ruang seminar. Ketika gagasan hanya menjadi bahan pidato. Ketika laporan pembangunan lebih tebal daripada perubahan yang dirasakan rakyat. Ketika setiap masalah selalu punya nama akademik, tetapi jarang punya solusi nyata.

Kita sering mendengar istilah seperti pemberdayaan masyarakat, tata kelola pemerintahan yang baik, inklusi sosial, pembangunan berkelanjutan, dan penguatan kapasitas. Semuanya bagus. Semuanya penting. Tetapi pertanyaannya sederhana: setelah semua istilah itu diucapkan, apa yang berubah dalam hidup warga?

Ibu di desa tetap kesulitan memperoleh layanan kesehatan. Petani tetap dihantui harga jual yang rendah dan biaya produksi yang tinggi. Pemuda terdidik tetap sulit mendapat pekerjaan layak. Warga kota tetap berdesakan dalam transportasi publik yang belum memadai. Mereka tidak butuh istilah baru; mereka butuh jalan yang baik, sekolah yang layak, rumah sakit yang terjangkau, dan peluang ekonomi yang adil.

Tragedi yang Terus Berulang

Tragedi bangsa ini bukan hanya soal kemiskinan uang. Tragedi yang lebih dalam adalah kemiskinan tindakan. Kita memiliki banyak rencana, tetapi tidak selalu memiliki eksekusi. Kita punya banyak komite, tetapi tidak selalu punya hasil. Kita suka membuat kebijakan, tetapi lupa mengevaluasi apakah kebijakan itu benar-benar menyentuh rakyat.

Baca Juga  Ketika Iklim Berubah

Lihat saja siklus yang terus berulang. Ada bencana, lalu muncul simpati. Ada kunjungan pejabat, kamera, bantuan darurat, dan pernyataan peduli. Beberapa hari kemudian, perhatian bergeser. Bencana berikutnya datang, dan siklus yang sama terulang. Yang tertinggal adalah warga yang harus membangun kembali hidupnya tanpa kepastian.

Hal serupa terjadi dalam pendidikan. Kita bicara tentang generasi unggul, revolusi digital, dan sumber daya manusia berkualitas. Tetapi di banyak daerah, anak masih belajar di ruang kelas yang sempit, dengan buku terbatas, guru yang kelelahan, dan akses internet yang tidak stabil. Kita bercerita tentang masa depan, sementara sebagian anak masih berjuang untuk masa kini.

Dalam ekonomi pun demikian. Kita bangga dengan pertumbuhan ekonomi, investasi, dan proyek strategis. Padahal, pertumbuhan angka tidak otomatis berarti kehidupan rakyat membaik. Jika kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu, jika lapangan kerja berkualitas tidak bertambah, jika upah tidak sebanding dengan biaya hidup, maka pertumbuhan hanya menjadi statistik yang indah di atas kertas.

Retorika yang Menenangkan, Kenyataan yang Menyakitkan

Retorika punya kekuatan besar. Kata-kata bisa membangkitkan semangat, menyatukan orang, dan menciptakan harapan. Tetapi kata-kata juga bisa menjadi pelarian. Bila terlalu sering digunakan tanpa tindakan, retorika berubah menjadi hiasan.

Kita sudah terlalu lama dididik untuk percaya bahwa masalah akan selesai begitu ada pernyataan resmi. Ada masalah? Buat tagar. Ada krisis? Gelar seminar. Ada kemiskinan? Susun program dengan nama yang bagus. Padahal, rakyat tidak hidup dari nama program. Rakyat hidup dari hasil nyata.

Ketika sebuah jembatan rusak, warga tidak butuh pidato tentang pentingnya infrastruktur. Mereka butuh jembatan diperbaiki. Ketika banjir datang, warga tidak butuh konferensi pers tentang kesiapsiagaan. Mereka butuh drainase bersih, sistem peringatan dini, dan penanganan yang cepat. Ketika harga pangan naik, warga tidak butuh penjelasan panjang tentang inflasi. Mereka butuh kebijakan yang membuat harga pangan terjangkau.

Di sinilah letak kesedihannya. Kita sering memperlakukan masalah sebagai bahan komunikasi politik, bukan sebagai tanggung jawab kolektif. Masalah sosial diubah menjadi konten. Penderitaan rakyat dijadikan bahan pencitraan. Lalu ketika kamera mati, semuanya kembali seperti semula.

Baca Juga  Gerung yang Tak Lagi Garang?

Aksi Kecil yang Sering Diremehkan

Mungkin kita terlalu terbiasa menunggu perubahan besar. Kita menunggu pemimpin hebat, kebijakan revolusioner, atau program nasional yang mengubah segalanya dalam semalam. Padahal, perubahan sering dimulai dari hal-hal yang terlihat sederhana.

Guru yang hadir dan mengajar dengan sungguh-sungguh adalah aksi. Petani yang mencoba pola tanam lebih baik adalah aksi. Warga yang menjaga lingkungan, melapor kerusakan jalan, atau menolak suap adalah aksi. Pejabat yang datang ke lapangan, mendengar keluhan warga, lalu menindaklanjutinya secara nyata juga aksi.

Aksi tidak selalu harus megah. Aksi bisa berupa konsistensi. Bisa berupa keberanian mengakui kegagalan. Bisa berupa kesediaan mendengar rakyat, bukan hanya berbicara di depan rakyat. Aksi adalah ketika janji tidak berhenti sebagai janji.

Sayangnya, budaya kita kadang lebih menghargai penampilan daripada proses. Kita menghargai orang yang pandai bicara lebih dari orang yang diam-diam bekerja. Kita memberi sorotan pada peluncuran program, tetapi jarang menanyakan nasib program itu setelah beberapa tahun. Padahal, pembangunan bukan tentang upacara. Pembangunan adalah tentang keberlanjutan.

Dari Ruang Rapat ke Lapangan

Jika ingin mengakhiri tragedi ini, kita perlu memindahkan pusat gravitasi dari ruang rapat ke lapangan. Kebijakan harus dirancang bukan hanya oleh mereka yang duduk di gedung pemerintahan, tetapi juga oleh mereka yang mengalaminya langsung.

Petani harus dilibatkan ketika membahas pertanian. Nelayan harus didengar ketika membahas laut. Guru harus dilibatkan ketika membahas pendidikan. Pemuda harus diberi ruang ketika membahas pekerjaan. Warga miskin bukan objek program; mereka adalah subjek perubahan.

Pemerintah juga perlu berani menilai dirinya sendiri. Jangan hanya menghitung berapa banyak program diluncurkan. Hitunglah berapa banyak program yang benar-benar berhasil. Jangan hanya mengumumkan angka belanja. Tanyakan: uang itu sampai ke mana? Siapa yang merasakan manfaatnya? Apakah hidup mereka berubah?

Transparansi bukan sekadar memuat data di situs resmi. Transparansi berarti membuat informasi mudah dipahami warga. Artinya, rakyat tahu apa yang direncanakan, berapa anggarannya, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana hasilnya dinilai.

Baca Juga  Idulfitri: Merawat Kemanusiaan Kita

Rakyat Juga Punya Peran

Tentu saja, kritik tidak boleh hanya diarahkan kepada pemerintah. Kita sebagai masyarakat juga perlu berubah. Kita tidak bisa terus menuntut perubahan sambil menikmati kenyamanan lama. Kita tidak bisa mengeluh tentang sampah, tetapi membuang sampah sembarangan. Kita tidak bisa menuntut pendidikan berkualitas, tetapi menganggap pendidikan hanya tanggung jawab sekolah. Kita tidak bisa berharap negara berubah, tetapi memilih pemimpin hanya berdasarkan popularitas.

Partisipasi rakyat bukan hanya memberi suara saat pemilu. Partisipasi adalah mengawasi, bertanya, melapor, dan terlibat. Rakyat yang kritis adalah benteng bagi negara. Rakyat yang aktif adalah mesin perubahan.
Kita perlu menumbuhkan budaya yang menghargai hasil, bukan hanya ucapan. Budaya yang menghargai pekerjaan sunyi, bukan hanya pencitraan. Budaya yang berani berkata: “Cukup bicara, sekarang saatnya bergerak.”

Saatnya Bergerak

Negeri ini tidak kekurangan mimpi. Kita punya mimpi besar tentang negara adil, makmur, dan berdaulat. Kita punya banyak gagasan tentang bagaimana mencapainya. Yang sering hilang adalah keberanian untuk mengeksekusi.

Tragedi bangsa tidak selalu datang dari bencana alam atau krisis ekonomi. Tragedi bisa datang dari kebiasaan: berbicara banyak tetapi bekerja sedikit, merencanakan banyak tetapi menyelesaikan sedikit, mengeluh banyak tetapi berkontribusi sedikit.

Kita harus berhenti memuja retorika. Kita harus mulai menghargai aksi. Karena rakyat tidak menilai bangsa dari panjangnya pidato, tetapi dari apakah anaknya bisa sekolah, apakah orang tuanya bisa sehat, apakah mereka bisa bekerja layak, dan apakah masa depan mereka lebih baik dari masa lalu.

Indonesia tidak akan berubah karena kata-kata yang indah. Indonesia akan berubah ketika kata-kata itu berubah menjadi jalan yang diperbaiki, sekolah yang layak, layanan kesehatan yang terjangkau, lapangan kerja yang adil, dan keberanian untuk menegakkan kebenaran.

Sudah cukup kita menjadi bangsa yang kaya teori tetapi miskin aksi. Sudah cukup tragedi ini kita biarkan berulang. Saatnya menurunkan mimpi dari panggung pidato ke tanah tempat rakyat berdiri. Saatnya bergerak, walau langkahnya kecil. Karena perubahan yang sesungguhnya tidak lahir dari retorika yang melimpah, melainkan dari aksi yang konsisten.***

*) Penulis: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga; Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga