MAKLUMAT — Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mendorong penguatan akses pasar Amerika Serikat (AS) bagi produk mebel dan kerajinan Indonesia. Upaya ini perlu didukung peningkatan daya saing produk, efisiensi logistik, serta penguatan hubungan bisnis jangka panjang dengan pembeli internasional.
Abdul Sobur menyampaikan hal tersebut dalam forum Dexter–RIM Global Business Connect bertajuk “Indonesia–USA Freight & Logistics Challenges” di GoWork Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Forum yang menghadirkan Dexter sebagai tuan rumah itu membahas tantangan dan peluang pengangkutan barang (freight), logistik, serta rantai pasok (supply chain) dalam perdagangan Indonesia–Amerika Serikat.
Menurut Abdul Sobur, Amerika Serikat merupakan salah satu pasar strategis bagi industri mebel dan kerajinan nasional. Namun, produsen Indonesia perlu memperkuat daya saing agar dapat memperluas penetrasi pasar tersebut.
Faktor yang menentukan daya saing antara lain kualitas dan desain produk, konsistensi mutu, kepastian pengiriman, biaya logistik, serta kepatuhan terhadap ketentuan pasar tujuan.
“Peluang di pasar Amerika Serikat terbuka, tetapi peningkatan ekspor membutuhkan daya saing yang kuat. Pembeli mempertimbangkan desain, mutu yang konsisten, kepastian pengiriman, biaya logistik, dan kepatuhan terhadap ketentuan pasar,” ujar Abdul Sobur.
Abdul Sobur Ungkap Potensi Pasar Mebel AS
Data Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (U.S. Trade Representative/USTR) yang dikutip dalam materi paparan menunjukkan, perdagangan barang antara AS dan Indonesia mencapai US$45,5 miliar pada 2025.
Impor barang AS dari Indonesia tercatat sebesar US$34,6 miliar, meningkat 24,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor barang AS ke Indonesia mencapai US$10,8 miliar, tumbuh 7 persen.
Di sektor mebel, pasar AS juga menawarkan peluang besar bagi produsen Indonesia. Berdasarkan data impor kategori HS 9403 tahun 2025 yang digunakan dalam paparan HIMKI, nilai impor mebel AS mencapai US$26,46 miliar.
Vietnam dan Tiongkok menguasai pangsa pasar gabungan sebesar 49,2 persen. Indonesia menempati posisi kedelapan dengan nilai ekspor sekitar US$710 juta atau pangsa pasar 2,7 persen.
Angka tersebut menunjukkan peluang sekaligus tantangan bagi industri mebel nasional. Untuk memperluas pangsa pasar, produsen Indonesia perlu menawarkan produk yang kompetitif dari sisi desain, mutu, harga, dan keandalan pengiriman.
Efisiensi Logistik Jadi Kunci Daya Saing Ekspor
Abdul Sobur menilai efisiensi logistik dan penguatan rantai pasok menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk mebel Indonesia di pasar internasional.
Karena itu, diperlukan konektivitas perdagangan yang lebih kuat, efisiensi pengangkutan, serta kepastian biaya dan waktu pengiriman. Kepastian tersebut membantu eksportir memperhitungkan biaya dan memenuhi kebutuhan pembeli secara lebih terukur.
Daya saing ekspor, menurut materi paparan HIMKI, tidak hanya ditentukan oleh harga produk. Pelaku usaha juga perlu menghitung keseluruhan biaya hingga barang diterima pembeli, termasuk tarif perdagangan, ongkos angkutan, dan biaya penanganan logistik.
Selain aspek logistik, HIMKI mendorong peningkatan kemampuan desain, pemanfaatan teknologi, penggunaan bahan baku yang bertanggung jawab, serta penguatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu memenuhi kebutuhan pasar global.
Abdul Sobur Dorong Perluasan Jejaring Bisnis Internasional
Untuk memperluas jejaring bisnis, HIMKI mengoptimalkan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) dan Trade Expo Indonesia (TEI) sebagai sarana mempertemukan produsen nasional dengan pembeli mancanegara.
HIMKI juga merancang pengembangan pusat penghubung pasar (market hub) dalam empat tahun mendatang. Inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat komunikasi dan hubungan bisnis dengan pembeli internasional secara berkelanjutan, tidak hanya selama pameran berlangsung.
HIMKI menargetkan nilai ekspor mebel dan kerajinan Indonesia mencapai US$6 miliar pada 2031, dengan visi jangka panjang sebesar US$25 miliar pada 2045.
Sebagai pembanding, nilai ekspor mebel Indonesia untuk kategori HS 9401–9403 pada 2025 tercatat sebesar US$1,84 miliar berdasarkan data yang digunakan dalam paparan HIMKI.
“Amerika Serikat merupakan salah satu pasar strategis. HIMKI ingin memperkuat hubungan dengan pembeli dan mitra, sekaligus membantu anggota meningkatkan nilai produk Indonesia di pasar global,” kata Abdul Sobur.***













