Haedar Nashir Ingatkan Prabowo–Gibran: Prioritaskan Hajat Hidup Orang Banyak

Ketum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir saat menyampaikan pidato peletakan batu pertama pembangunan gedung SMP Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Jalan Titi Bumi, Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).

MAKLUMAT —  Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberi masukan kepada pemerintah sehari setelah peringatan dua tahun kepemimpinan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, 20 Oktober 2026. Haedar Nashir meminta pemerintah memprioritaskan program pembangunan yang paling dibutuhkan masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan ekonomi. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat agar kebijakan nasional memberikan manfaat nyata bagi publik.

“Bersamaan dengan itu, bangunlah prioritas-prioritas yang paling dibutuhkan dan menyangkut hajat hidup orang banyak, terutama di bidang pendidikan dan ekonomi,” ujar Haedar, dikutip dari Antara. Pernyataan tersebut disampaikan Haedar di sela-sela peletakan batu pertama pembangunan gedung SMP Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (21/10/2026).

Haedar menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki kapasitas politik dan kelembagaan untuk membangun Indonesia dengan mengedepankan kedaulatan bangsa, kesejahteraan masyarakat, serta penguatan sumber daya manusia (SDM).

Menurut dia, pemerintah memiliki sumber daya dan perangkat kelembagaan untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari persoalan ekonomi hingga hukum dan sosial. Namun, kebijakan strategis dalam agenda Asta Cita perlu diterjemahkan menjadi program berkelanjutan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Saya yakin ke depan tentu harus lebih dinamis, lebih progresif, dan mampu memobilisasi potensi kekuatan bangsa agar beban pemerintah tidak terlalu berat,” katanya.

Haedar Nashir: Kritik Masyarakat Harus Menjadi Bahan Evaluasi

Selain menekankan pentingnya program yang berdampak langsung, Haedar meminta pemerintah membangun komunikasi publik yang baik serta menjaga hubungan yang terbuka dan konstruktif dengan masyarakat.

Baca Juga  Momen Idul Fitri, Prabowo Silaturahmi ke Parpol Pendukung

Ia menegaskan bahwa hubungan pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat harus berlandaskan kepentingan bangsa dan negara, bukan semata-mata kepentingan politik praktis. Dalam konteks tersebut, aspirasi dan kritik masyarakat perlu dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki kekurangan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“Jadikan masukan dan kritik sebagai energi untuk memperbaiki berbagai kekurangan selama dua tahun terakhir,” tuturnya.

Haedar juga mengingatkan pentingnya memperkuat fondasi dalam negeri di tengah dinamika geopolitik internasional. Persaingan negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan negara-negara Eropa, menurut dia, menuntut Indonesia memiliki institusi yang kuat.

“Kalau kondisi di dalam negeri kuat, Indonesia tidak akan mudah terombang-ambing oleh kekuatan luar. Indonesia harus memperkuat institusi-institusi politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan yang dapat menjadi pilar kekuatan bangsa,” katanya.

Pendidikan Muhammadiyah Harus Terus Berinovasi

Dalam kesempatan yang sama, Haedar menekankan pentingnya inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan Muhammadiyah. Menurut dia, organisasi yang telah mengembangkan berbagai amal usaha selama lebih dari satu abad itu tidak boleh berpuas diri dengan capaian yang telah diraih.

Meningkatnya harapan masyarakat terhadap kualitas pendidikan, kata Haedar, menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi Muhammadiyah untuk terus memperbarui layanan pendidikan agar relevan dengan kebutuhan zaman.

“Masyarakat selalu menuntut lebih, lebih, dan lebih. Itulah yang disebut kualitas excellence, kualitas yang unggul di atas rata-rata,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah mengembangkan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan dakwah. Namun, perubahan kebutuhan masyarakat mengharuskan setiap bidang terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas layanan.

Baca Juga  Penuhi Undangan PM Narendra Modi, Presiden Prabowo Kunjungi India Sebagai Chief Guest

Pembangunan SMP MSUS di Yogyakarta menjadi salah satu bentuk respons terhadap kebutuhan tersebut.

“Maka, SMP Muhammadiyah Sapen Universal hadir untuk menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang terus bergerak,” katanya.

Haedar Ingatkan Muhammadiyah agar Tidak Terjebak Zona Nyaman

Haedar menegaskan bahwa kemajuan lembaga pendidikan tidak cukup dicapai dengan mempertahankan keberhasilan yang sudah ada. Muhammadiyah perlu terus berinovasi dan berani menghadapi tantangan baru untuk meningkatkan kualitas organisasi maupun layanan kepada masyarakat.

“Kita tidak ingin Muhammadiyah di Indonesia berada di zona nyaman,” tegas Haedar, seperti dilansir Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Menurut Haedar, pendidikan unggul tidak hanya bergantung pada pembangunan gedung dan fasilitas fisik. Kualitas pembelajaran, tenaga pendidik, kurikulum, penguatan karakter, serta ekosistem pendidikan juga harus menjadi perhatian.

“Pendidikan merupakan pilar strategis bagi kemajuan bangsa. Pendidikan tidak cukup hanya ditopang oleh bangunan fisik, tetapi juga membutuhkan ekosistem dan proses pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong agar SMP MSUS dipersiapkan dan dikelola secara matang sehingga mampu memenuhi harapan masyarakat. Keunggulan sekolah harus tercermin dalam mutu pembelajaran dan manfaat yang diberikan kepada peserta didik maupun lingkungan sekitarnya.

Kritik Perlu Diimbangi dengan Apresiasi terhadap Proses

Dalam amanatnya, Haedar juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang lebih mudah menyoroti persoalan daripada mengapresiasi proses di balik suatu pencapaian. Ia menilai sikap kritis tetap diperlukan, tetapi perlu disertai pemahaman yang utuh terhadap kerja keras dan tantangan dalam membangun sebuah lembaga.

“Jangan pernah merasa dan meyakini bahwa kesuksesan diperoleh secara instan,” pesannya.

Baca Juga  Klinik Darul Arqam Resmi Beroperasi di Garut, Muhammadiyah Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan

Haedar turut menyinggung dinamika media sosial yang dinilainya kerap menjadikan kritik sebagai sarana untuk menarik perhatian publik.

“Apalagi pada era media sosial sekarang, kritik menjadi komoditas untuk menjadi viral,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar kritik tidak membuat pihak yang sedang bekerja dan membangun kehilangan semangat. Menurut dia, kritik merupakan bagian dari proses yang wajar dalam pengembangan organisasi dan lembaga pendidikan.

“Jangan pernah merasa kecil hati ketika apa yang kita bangun mendapat kritik. Itu hal yang biasa,” ujarnya.

Pendidikan Muhammadiyah untuk Umat, Bangsa, dan Kemanusiaan

Haedar menegaskan bahwa pengembangan pendidikan Muhammadiyah tidak semata-mata bertujuan membesarkan organisasi, tetapi juga memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan.

Menurut dia, keberhasilan pembangunan lembaga pendidikan perlu diukur berdasarkan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat. Prinsip tersebut juga berlaku bagi amal usaha Muhammadiyah yang dikembangkan di berbagai daerah, termasuk wilayah dengan keterbatasan sumber daya.

Ia mengapresiasi dukungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Pemerintah Kabupaten Sleman, serta berbagai pihak dalam pembangunan SMP MSUS.

Haedar berharap pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas manfaat bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan ini terus menjadi penanda kemajuan lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” ucapnya.

Ia kembali menegaskan bahwa seluruh amal usaha Muhammadiyah harus berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas.

“Percayalah, Muhammadiyah bukan untuk Muhammadiyah. Muhammadiyah hadir untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” pungkasnya.***