Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas: Kapan Indonesia Punya Kota seperti Yiwu?

MAKLUMAT — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, mempertanyakan kapan Indonesia bisa memiliki kota perdagangan seperti Yiwu, Tiongkok. Kota tersebut menjadi salah satu pusat grosir terbesar di dunia dengan ekosistem perdagangan yang menghubungkan produsen, pemasok, distributor, dan pembeli.

“Pertanyaannya, kapankah Indonesia akan bisa punya kota seperti Yiwu? Jawabnya tidak tahu,” kata Anwar saat mendampingi sekitar 50 anggota Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) mengunjungi Yiwu, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, Rabu (21/10/2026).

Menurut Anwar, Yiwu bisa menjadi referensi bagi Indonesia untuk mengembangkan pusat perdagangan yang terintegrasi. Sistem tersebut memungkinkan pelaku usaha mendapatkan barang, menjangkau pemasok, dan mendistribusikan produk secara lebih efisien.

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas (tengah) saat mendampingi 50 pengusaha SUMU ke Yiwu, Tiongkok. Foto:Dok SUMU

Yiwu Punya 75 Ribu Stan Pemasok

Yiwu terletak di Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur. Kota ini memiliki Yiwu International Trade City atau Pasar Yiwu, kawasan perdagangan yang disebut memiliki luas sekitar 6,4 juta meter persegi.

Pasar tersebut terbagi menjadi lima distrik besar dengan lebih dari 75.000 stan pemasok yang menawarkan beragam jenis produk.

“Salah satu daya tarik utama Yiwu adalah International Trade City atau Pasar Yiwu,” ujar Anwar.

Dia menjelaskan, kekuatan Yiwu bukan hanya terletak pada besarnya pasar. Produsen, pemasok, dan distributor juga terhubung dalam satu kawasan sehingga pembeli dapat menjajaki transaksi langsung dengan produsen tanpa harus melewati banyak perantara.

Baca Juga  Kopdar Bulanan Mantapkan Arah Strategis, SUMU Bogor Raya Perkuat Sinergi Pengusaha Muhammadiyah

Kondisi tersebut mendukung efisiensi rantai pasok dan membuka peluang mendapatkan harga yang lebih kompetitif. Sejumlah pemasok juga menawarkan jumlah pemesanan minimum atau minimum order quantity (MOQ) yang relatif rendah.

Skema ini memberi peluang bagi pengusaha bermodal terbatas, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk mulai menjajaki perdagangan.

Didukung Jaringan Logistik Internasional

Yiwu juga memiliki akses menuju pelabuhan Ningbo dan Shanghai serta jaringan kereta barang internasional yang menghubungkan Tiongkok dengan sejumlah negara di Asia Tengah dan Eropa.

Dukungan logistik tersebut membantu distribusi barang ke berbagai pasar internasional, termasuk Indonesia.

Bagi pengusaha Muhammadiyah, kunjungan ke Yiwu menjadi kesempatan untuk mempelajari cara kerja ekosistem perdagangan yang mendukung perluasan pasar dan daya saing usaha.

Indonesia Tak Cukup Punya Pasar Besar

Pengalaman Yiwu menunjukkan bahwa membangun pusat perdagangan tidak cukup hanya dengan menyediakan kawasan pasar yang luas. Keterhubungan produsen, pemasok, pembeli, dan infrastruktur logistik juga menjadi faktor penting.

Indonesia perlu mengembangkan ekosistem yang memudahkan pelaku usaha mengakses pemasok, menekan hambatan distribusi, dan memperluas jangkauan pasar.

Dukungan infrastruktur, kemudahan berusaha, jaringan distribusi, serta kolaborasi pemerintah dan dunia usaha diperlukan untuk mewujudkannya.***

Baca Juga  Waketum MUI Ingatkan Agar MBG Tidak Jadi Program yang Kenyangkan Konglomerat