MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto menekankan pentingnya penguatan organisasi, kaderisasi, dan komitmen kebangsaan saat membuka Tanwir III dalam rangkaian Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah (NA) di Surakarta, Kamis (6/8/2026). Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi bekal penting bagi kader Muhammadiyah dalam menjawab tantangan umat dan bangsa.
Sidang Tanwir III sendiri merupakan agenda Tanwir terakhir Nasyiatul Aisyiyah, sekaligus menuju Muktamar ke-15 NA yang akan dilaksanakan hari ini, Jumat (7/8/2026).
Agung mengingatkan agar forum permusyawaratan di lingkungan Muhammadiyah dan organisasi otonom tidak dipandang sebagai ajang perebutan kekuasaan. Tanwir maupun Muktamar, kata dia, harus menjadi sarana memperkuat dakwah Islam amar makruf nahi mungkar sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
“Hindari permusyawaratan di Muhammadiyah menjadi permusyawaratan ala partai politik. Kalau partai politik itu prinsipnya zero sum game. Siapa yang menang dia akan dapat semuanya, yang kalah enggak dapat bagian apa-apa,” pesannya.
“Sehingga karenanya, mereka terkadang juga menggunakan al ghayatul bariul wasilah, cita-cita yang menghalalkan segala cara. Nah, di Muhammadiyah enggak boleh yang seperti itu. Cita-cita baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik,” tegas Agung.
Kader Persyarikatan, Kader Umat, Kader Bangsa
Selain penguatan organisasi, Agung menyoroti pentingnya tiga pilar kaderisasi Muhammadiyah, yakni kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa. Menurutnya, ketiga aspek tersebut harus terus diperkuat agar kader Muhammadiyah yang berkiprah di berbagai bidang tetap berpijak pada ideologi persyarikatan.
“Maka kehadiran para kader dan diaspora Muhammadiyah ini dimaknai sebagai upaya Muhammadiyah untuk menyiapkan sekaligus mengirimkan putra-putri terbaik dalam ranah keumatan dan kebangsaan,” jelasnya.
Agung juga menegaskan bahwa komitmen Muhammadiyah terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah dirumuskan dalam konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasyahadah. Sebab itu, seluruh kader memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengisi kehidupan berbangsa melalui karya nyata.
Menurutnya, kader Muhammadiyah tidak cukup hanya menyampaikan kritik, tetapi juga harus menghadirkan solusi dan tindakan nyata bagi masyarakat.
“Untuk kader itu tidak cukup hanya mengeluh, tapi juga harus diiringi action yang jelas. Kita tunjukkan, kita ciptakan kader-kader yang terbaik bagi kita untuk mengawal bagaimana agar negara kita bisa menjadi baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur,” tandas Agung.
Lebih lanjut, ia kembali mengingatkan agar Muktamar dijalankan dengan menjunjung tinggi persaudaraan dan etika organisasi.
“Kontestasi silahkan jalan, tapi kontestasi jangan sampai merusak ukhuwah, merusak kebersamaan. Kontestasi itu dalam rangka fastabiqul khairat untuk memilih yang terbaik. Cita-cita yang baik harus dilakukan dengan cara yang terbaik,” tegas Agung.
Perempuan Muda Berkemajuan Bangun Peradaban
Sementara itu, Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, menjelaskan bahwa tema Tanwir III dan Muktamar ke-15, “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan“, merupakan arah gerak organisasi yang diwujudkan melalui berbagai program yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Saya rasa tema ini bukan hanya menjadi slogan belaka, karena memang ini merupakan satu hal nyata yang telah dilakukan NA di mana pun berada. Tema ini merupakan panggilan bagi seluruh kader untuk membuktikan kekuatan organisasi yang tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tapi juga memiliki berbagai aktivitas program yang berdampak,” katanya.
Senada dengan pesan Agung Danarto, dalam kesempatan itu Dina juga mengajak seluruh kader menjaga persatuan serta mengedepankan adab dan etika dalam bermusyawarah.
“Kita sukseskan muktamar ini dengan mengedepankan adab, etika, dan nilai-nilai Islam berkemajuan. Maka, dengan niat pengabdian, dengan keikhlasan insya Allah marwah organisasi kita akan penuh dengan kedewasaan dalam menghadapi permusyawaratan,” tuturnya.













