MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, menegaskan agar intelektualitas para akademisi di Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) tidak berjarak antara teori dengan realitas yang sedang dihadapi.
Hal tersebut ia sampaikan ketika menyampaikan pidato dalam kegiatan Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Dr phil Ridho Al-Hamdi MA pada Kamis (16/4/2026).
Jika akademisi berjarak dengan realitas, kata Haedar, maka menyebabkan penglihatannya terhadap sebuah persoalan menjadi banal, sehingga temuan-temuannya kerap kali tidak menyentuh pada kebenaran obyektif.
Pria yang juga Guru Besar Ilmu Sosiologi UMY itu mencontohkan, dalam melihat politik yang memiliki banyak cabang ilmu dibutuhkan pendekatan yang holistik-integratif, sehingga temuan yang didapatkan bisa paling tidak mendekati kebenaran.
“Maka kalau tidak berjalan secara integratif satu sama lain, kita akan tetap parsial dalam melihat fenomena politik biar pun tetap penting dalam satu cabang ilmu itu,” tandasnya.
“Ini penting di saat kita punya kompleksitas masalah entah politik, ekonomi, hukum, budaya dan lain sebagainya, agama. Maka di situlah pendekatan atau perspektivisme itu penting,” sambung Haedar.
Selain itu, Haedar juga menyorot relasi politisi dan akademisi. Menurutnya, meski masih banyak politikus yang disebutnya das sollen (idealitas), namun ia menilai sering kali mereka belum atau tidak tahun arahnya. Sebab itu, ia mendorong agar para akademisi membantu dan mengarahkan mereka.
“Di situlah tugas-tugas guru besar mengarahkan itu, yang arahnya tentu dalam banyak perspektif tadi,” tandas Haedar.
Tak cuma itu, Haedar juga berpesan supaya para akademisi tidak anti terhadap teori-teori maupun pendekatan dari Barat. Sebaliknya, ia menandaskan bahwa akademisi harus memiliki kejelian dalam memilah dan memilih pendekatan yang sesuai dengan konteks atau objek yang dihadapi.
Kendati demikian, Haedar juga memberikan apresiasi terhadap epistemologi yang disebutnya sebagai dekolonialisasi—yang mengambil jarak dari Barat yang masih sarat akan kolonialisme, yang melihat Timur sama semua sebagai objek dan melihatnya sebagai inferior.
“(Itu) jadi epistemologi yang mengambil jarak dari Barat yang berbau kolonialisme kan sebenarnya, termasuk dalam teori-teori lingkungan, dan lain sebagainya yang kondisi Barat memang berbeda dengan kita, pertumbuhannya terutama,” sebutnya.
Lebih jauh, Haedar berharap agar intelektualisme guru besar di lingkungan PTMA mampu mencapai kategori yang disebutnya sebagai ar-rasikhuna fil ilmi. “Sebab bangsa ini membutuhkan pembacaan peta dan arah dunia global, agar arah bangsa tetap berada pada jalur yang sesuai dengan tujuan,” kelakarnya.
Peran tersebut, kata Haedar, harus diambil oleh para guru besar kampus Muhammadiyah. Mereka perlu menjadi penyeimbang terhadap kebijakan pemangku kebijakan yang kerap mengambil keputusan berbasis pada kepentingan praktis dan pragmatis.
“Karena mereka memang tahunya yang praktis dan pragmatis harus bisa dilakukan. Itu aja tugas para pimpinan negara di banyak negara itu,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Haedar juga menyoroti kehidupan yang saat ini “dikepung” oleh apa yang disebutnya sebagai akal imitasi (AI), yang menyebabkan sosok pemimpin kehidupan kehilangan wise humans atau insan-insan bijaksana yang mampu menunjukkan jalan kebenaran.
Dalam situasi global yang semakin tegang, Haedar menilai dunia kini semakin sulit didekatkan melalui kompromi, bahkan perang seolah dianggap sebagai pilihan yang mudah diambil.
“Bahkan mereka dengan ringan untuk mendeklarasikan dan mempraktikkan bahwa perang itu sesuatu yang menjadi pilihan. Dan dia sebut tidak mustahil akan terjadi perang dunia ketiga seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran atau nanti dalam peristiwa apa pun itu,” sorotnya.
Karena itu, ia mendorong para guru besar di lingkungan Muhammadiyah untuk terus berkonsolidasi agar memberi manfaat besar, bukan hanya dalam aspek kegunaan, tetapi juga nilai kebenaran, kebaikan, serta nilai luhur lainnya.
Haedar menegaskan bahwa hal tersebut sejalan dengan misi Muhammadiyah untuk membawa Islam berkemajuan demi terwujudnya rahmatan lil alamin.














