MAKLUMAT — Tidak memiliki pengalaman panjang di dunia pencak silat tidak menghalangi tekad Al Mudatsir, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PAI Umsida), untuk melangkah ke arena kompetisi. Keikutsertaannya dalam Unesa Pencak Silat Challenge Competition (UPSCC) III 2025 menjadi bukti keberanian mencoba sekaligus awal perjalanan prestasi di level kejuaraan antar kampus.
Kompetisi tahunan tersebut menjadi panggung perdana bagi Al Mudatsir tampil di ajang pencak silat antar perguruan tinggi. Bagi mahasiswa yang akrab disapa Al itu, UPSCC III menghadirkan pengalaman pertama yang penuh kesan sekaligus ruang belajar baru sebagai atlet pencak silat kampus. Ia berhasil keluar sebagai juara 1 dan menjadi bagian dari tim pencak silat Umsida yang berhasil menjadi juara umum di ajang tersebut.
“Alhamdulillah kompetisinya sangat menarik sekali dan memberikan saya pengalaman yang luar biasa, karena ini pengalaman pertama saya mengikuti event UPSCC,” ujarnya, dikutip laman resmi Umsida pada Kamis (1/1/2026).
Al mengakui, atmosfer pertandingan memberikan tantangan tersendiri, terlebih karena sebelumnya ia belum memiliki pengalaman bertanding di level kejuaraan besar. Meski demikian, ia bersyukur jalannya pertandingan berlangsung sesuai harapan.
“Alhamdulillah untuk jalannya pertandingan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan prediksi,” tambahnya.
Persiapan Menuju Kompetisi
Menurut Al, Tapak Suci Umsida menjadi pintu masuk baginya untuk mengenal dunia pencak silat kompetitif secara lebih serius. Dari organisasi inilah ia mulai memahami pentingnya kesiapan fisik, teknik, serta mental dalam menghadapi pertandingan.

Menjelang UPSCC III 2025, Al Mudatsir menjalani persiapan yang terbilang singkat. Dalam kurun waktu sekitar dua bulan, ia bersama tim Tapak Suci Umsida memaksimalkan latihan fisik dan teknik.
“Untuk persiapannya bisa dikatakan lumayan singkat. Dalam waktu dua bulan kami fokus latihan kardio dan teknik, dan itu memberikan dampak bagi kami,” jelasnya.
Latihan kardio menjadi bagian paling berat dalam proses persiapan karena menuntut tenaga dan daya tahan yang tinggi. Selain itu, penguatan teknik dasar pencak silat terus diasah guna menunjang performa saat bertanding.
Al juga mengakui bahwa tantangan terbesarnya terletak pada minimnya pengalaman bertanding serta kesiapan mental. Ia baru mulai menekuni pencak silat sejak bergabung di dunia kampus.
“Pengalaman saya dalam pencak silat masih kurang karena baru ikut silat di dunia kampus. Dari segi mental juga masih sangat kurang,” ungkap atlet kelahiran tahun 2006 itu.
Meski demikian, keterbatasan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Setiap proses latihan maupun pertandingan ia maknai sebagai ruang pembentukan mental dan karakter.
Berkat Dukungan Berbagai Pihak
Di balik pencapaian yang diraih, Al Mudatsir menegaskan bahwa dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Mulai dari orang tua, teman-teman, hingga institusi kampus memberikan dorongan moral yang kuat.
“Alhamdulillah saya mendapatkan hasil ini berkat doa orang tua, dukungan dari teman-teman, dan terlebih lagi dari Umsida yang memberikan dukungan penuh bagi kami semua,” ucapnya.
Menurut mahasiswa semester 5 itu, dukungan Umsida tidak hanya sebatas penyediaan fasilitas, tetapi juga kepercayaan serta ruang pengembangan diri bagi mahasiswa yang ingin berprestasi di luar akademik.
“Untuk teman-teman mahasiswa Umsida, jangan pernah ragu untuk mengikuti hal-hal baru. Karena pengalaman terlahir dari hal baru itu,” pesannya.
Ia menambahkan, setiap mahasiswa memiliki peluang yang sama untuk berprestasi. “Kita memiliki kesempatan untuk menjadi juara. Tinggal diri kita sendiri yang bisa meraih itu,” pungkas Al Mudatsir.