MAKLUMAT — Konflik geopolitik di Timur Tengah kini tak lagi terasa jauh. Dampaknya mulai menghantam industri mebel Indonesia, dari tersendatnya rantai pasok hingga melambatnya transaksi dengan buyer luar negeri.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyebut kondisi ini sebagai realitas yang sudah dihadapi pelaku industri.
“Barang tertahan, pengiriman tertunda, dan ritme pembayaran melambat. Ini bukan asumsi, tapi realitas,” ujarnya dalam keterangan pers, Ahad (5/4/2026).
Industri Padat Karya Mulai Tertekan
Sobur menegaskan sektor mebel dan kerajinan sangat rentan terhadap gejolak global. Perubahan kecil dalam stabilitas kawasan, biaya energi, hingga distribusi bisa langsung berdampak pada produksi dan tenaga kerja.
Ia menilai dunia kini memasuki fase baru, di mana geopolitik dan ekonomi saling terhubung erat. Risiko usaha tidak lagi sekadar fluktuasi pasar, tetapi bagian dari pergeseran global yang lebih besar.
“Ketahanan industri kini ditentukan oleh kemampuan beradaptasi terhadap ketidakpastian,” katanya.
HIMKI Dorong Strategi Nasional
Menghadapi situasi ini, HIMKI mendorong langkah konkret seperti diversifikasi pasar ekspor dan penguatan jalur distribusi alternatif. Efisiensi logistik juga menjadi kebutuhan mendesak.
Selain itu, Sobur menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan terhadap industri padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja.
HIMKI juga tengah mendorong pembentukan hub pemasaran dan distribusi di Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada untuk memperkuat posisi produk Indonesia di pasar global.
Namun, ia menegaskan langkah tersebut membutuhkan dukungan pemerintah, baik dalam bentuk kebijakan, pembiayaan, maupun diplomasi perdagangan.
Momentum Perkuat Daya Tahan Industri
Sobur menilai situasi ini harus menjadi refleksi nasional untuk membangun industri yang lebih tangguh. Diversifikasi pasar, distribusi adaptif, dan sistem bisnis yang kuat menjadi kunci ke depan.
Ia optimistis Indonesia tetap memiliki peluang besar dalam rantai pasok global, selama mampu merespons dengan strategi yang tepat.
“Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi industri nasional agar tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh,” pungkasnya.***












