AS Sita Kapal Tanker Berbendera Rusia Terkait Venezuela, Moskow: Pelanggaran Hukum Laut

AS Sita Kapal Tanker Berbendera Rusia Terkait Venezuela, Moskow: Pelanggaran Hukum Laut

MAKLUMAT — Pasukan khusus Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker minyak berbendera Rusia yang diduga mengangkut minyak Venezuela di Samudra Atlantik Utara, Rabu (waktu setempat). Tindakan itu memicu protes keras dari Moskow yang menilai langkah Washington melanggar hukum laut internasional.

Komando Militer Eropa AS (EUCOM) menyatakan kapal tanker bernama Marinera — sebelumnya dikenal sebagai Bella-1 — disita karena dianggap melanggar sanksi Amerika Serikat terhadap sektor minyak Venezuela.

“Blokade terhadap minyak Venezuela yang disanksi dan ilegal tetap berlaku penuh — di mana pun di dunia,” tulis Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (8/1/2026).

Menurut pejabat AS, kapal tersebut merupakan bagian dari apa yang mereka sebut sebagai shadow fleet — jaringan kapal tanker yang mengangkut minyak untuk negara-negara yang terkena sanksi seperti Venezuela, Rusia, dan Iran.

Disergap dari Helikopter

Media pemerintah Rusia, RT, melaporkan bahwa pasukan AS naik ke kapal dari helikopter dan merilis gambar pesawat tersebut melayang di atas tanker. RT mengutip sumber anonim yang menyebut kapal Penjaga Pantai AS telah membuntuti Marinera selama beberapa pekan, dan upaya penyitaan sebelumnya sempat gagal akibat badai.

Baca Juga  Trump Umumkan Penyitaan 50 Juta Barel Minyak Venezuela, Hasil Penjualan untuk AS

Data pelacakan MarineTraffic menunjukkan kapal tersebut mendekati Zona Ekonomi Eksklusif Islandia sebelum akhirnya disita di laut lepas.

Pengejaran terhadap kapal ini berlangsung sejak bulan lalu, beriringan dengan eskalasi operasi militer AS terhadap Venezuela yang berpuncak pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh AS pada Sabtu lalu.

Rusia: AS Langgar Konvensi Hukum Laut

Kementerian Transportasi Rusia menilai penyitaan itu melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982.

“Kebebasan navigasi berlaku di laut lepas, dan tidak ada negara yang berhak menggunakan kekuatan terhadap kapal yang terdaftar sah di yurisdiksi negara lain,” kata kementerian itu dalam pernyataan resminya.

Rusia menyatakan kontak dengan kapal terputus setelah pasukan AS naik ke kapal di laut terbuka, di luar perairan teritorial negara mana pun.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga memprotes apa yang mereka sebut sebagai “perhatian berlebihan” militer AS dan NATO terhadap kapal yang mereka klaim berstatus sipil dan damai.

Reuters melaporkan sebuah kapal perang dan kapal selam Rusia berada di wilayah sekitar saat operasi berlangsung, namun tidak terjadi konfrontasi langsung antara kedua pihak.

Bagian dari Operasi Tekanan Trump

Kapal Marinera sebelumnya telah dikenai sanksi AS pada 2024 karena diduga menyelundupkan minyak untuk perusahaan yang terkait dengan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Penjaga Pantai AS sempat mencoba naik ke kapal itu di Karibia pada Desember lalu, namun ditolak dan kapal melanjutkan pelayaran menyeberangi Atlantik.

Baca Juga  Anwar Abbas Ingatkan Kewajiban Muslim pada Sesamanya

Penyitaan ini menjadi bagian dari kebijakan keras Presiden Donald Trump terhadap jaringan perdagangan minyak Venezuela. Setelah penangkapan Maduro, Trump menyatakan AS akan “mengelola” Venezuela dan mengembangkan cadangan minyak negara itu.

Trump juga mengklaim Venezuela akan menyerahkan puluhan juta hingga puluhan miliar barel minyak yang sebelumnya disanksi kepada Amerika Serikat.

Langkah ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya konflik geopolitik baru antara Washington dan Moskow, sekaligus memperdalam krisis kedaulatan di Venezuela.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *