MAKLUMAT — Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PBI Umsida), Dr Fika Megawati, menyambut positif kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) untuk menerapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di jenjang SD/sederajat mulau tahun ajaran 2027/2028 mendatang.
Ia menilai kebijakan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat kompetensi global sejak dini. Menurutnya, pelajaran Bahasa Inggris penting untuk dikenalkan sejak sekolah dasar karena usia anak merupakan fase yang baik untuk membangun keberanian, kebiasaan, dan sikap positif terhadap bahasa asing.
“Tujuannya bukan membuat anak langsung fasih, tetapi membangun fondasi komunikasi sejak dini,” ujarnya pada Rabu, (20/5/2026).
Fika berpendapat bahwa kemampuan siswa saat ini cukup beragam, di mana sebagian sudah cukup akrab dengan kosakata-kosakata populer Bahasa Inggris melalui gim, media sosial, lagu, film pendek, ataupun aplikasi digital.
Meski begitu, ia menilai bahwa anak-anak masih memerlukan perhatian dan bimbingan dalam pengucapan, penyusunan kalimat, keberanian berbicara, hingga bagaimana penggunaan bahasa sesuai pada konteksnya.
Tantangan saat ini, kata dia, bukan sekadar memperkenalkan Bahasa Inggris, tetapi bagaimana mengubah paparan digital yang sudah mereka terima menjadi kemampuan komunikasi yang lebih terarah.
Bekal Kompetensi Global
Fika menegaskan bahwa kebijakan mewajibkan mata pelajaran Bahasa Inggris di jenjang SD juga memiliki arah yang jelas, yang merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025 tentang perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.
Menurut Fika, langkah tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat kompetensi global peserta didik Indonesia di masa depan.
“Anak-anak perlu disiapkan agar mampu berkomunikasi, mengakses informasi, dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tandasnya.
Tidak Menggeser Bahasa Indonesia
Lebih jauh, Fika juga menilai bahwa penguatan Bahasa Inggris tidak akan menggeser posisi Bahasa Indonesia yang merupakan identitas nasional dan bahasa utama dalam pendidikan.
“Saya setuju bahwa Bahasa Indonesia harus tetap menjadi prioritas utama. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa akademik, dan identitas kebangsaan,” katanya.
Menurutnya, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris bisa berjalan bersama dengan proporsi yang tepat. Bahasa Indonesia tetap menjadi fondasi literasi utama, sedangkan Bahasa Inggris dikenalkan sebagai bahasa tambahan.
“Anak yang kuat dalam bahasa pertama biasanya lebih siap belajar bahasa lain karena sudah memiliki dasar berpikir, membaca, memahami makna, dan menyusun gagasan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa persoalannya bukan memilih Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, melainkan bagaimana memperkuat literasi Bahasa Indonesia sambil mengenalkan Bahasa Inggris secara bertahap, menyenangkan, dan sesuai usia.
Metode Pembelajaran yang Cocok
Lebih lanjut, Fika menekankan bahwa dalam proses pembelajaran di SD anak-anak lebih mudah belajar dimulai dari listening, speaking sederhana, vocabulary, dan pronunciation sebelum masuk ke tahap grammar yang lebih kompleks.
Metode pembelajaran yang efektif adalah metode yang visual, konkret, interaktif, serta dekat dengan kehidupan anak. “Guru dapat memanfaatkan lagu, role-play, flashcard, storytelling, permainan kosakata, hingga media digital,” terangnya.
Untuk materi seperti pekerjaan, anak-anak akan lebih mudah memahami kata doctor, teacher, farmer, atau police officer jika mereka melihat gambar, menirukan pengucapan, menghubungkan kata dengan peran, lalu mempraktikkannya dalam kalimat sederhana.
“Jadi, urutannya adalah mendengar, meniru, memahami kosakata, berbicara sederhana, lalu secara bertahap masuk ke membaca, menulis, dan grammar sederhana,” jelas Fika.
Media pembelajaran, lanjut Fika, memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD.
Empat Kunci Keberhasilan Kebijakan
Tak cuma itu, Fika juga menilai bahwa keberhasilan kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD sangat bergantung pada empat hal utama, yakni kesiapan guru, pelatihan bertahap, kurikulum dan bahan ajar, serta media pembelajaran.
Pemerintah, kata dia, sudah merespons kebutuhan kesiapan guru melalui Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris atau PKGSD-MBI. Menurut laporan, Kemendikdasmen menyebutkan sebanyak 5.777 guru dari 177 kabupaten/kota di 34 provinsi mengikuti pelatihan tersebut pada tahap pertama.
Sementara dalam aspek kurikulum dan bahan ajar, Fika menilai materi awal sebaiknya berisi kosakata sehari-hari, instruksi kelas, ekspresi sederhana, lagu, cerita, dan percakapan dasar. “Anak SD tidak boleh dibebani dengan pendekatan grammar yang terlalu abstrak,” tuturnya.
Sedangkan dari sisi media pembelajaran, ia menegaskan sekolah tidak harus menggunakan fasilitas mahal untuk memulai pembelajaran yang efektif.
“Kartu gambar, audio, video pendek, buku cerita, permainan bahasa, dan perangkat digital sederhana sudah dapat mendukung pembelajaran,” katanya.
Jika fasilitas sekolah memungkinkan, media interaktif seperti Augmented Reality juga dapat digunakan untuk memperkuat pengalaman visual dan kontekstual siswa.
PBI Umsida Siapkan Pengajar Kompeten
Di sisi lain, Fika juga menandaskan komitmen dan kesiapan Prodi PBI Umsida untuk merespons kebijakan tersebut, mulai dari pengembangan kompetensi mahasiswa dalam bidang English for Young Learners, pengelolaan kelas, pengembangan media pembelajaran, serta praktik mengajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar.
Mahasiswa PBI Umsida, kata dia, diarahkan untuk memahami bahwa mengajar Bahasa Inggris bagi anak tidak cukup hanya menguasai bahasa.
“Kami juga merancang pembelajaran yang konkret, komunikatif, dan menyenangkan karena siswa bisa belajar lebih efektif melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka,” jelasnya.
Selain itu, praktik microteaching dan pengembangan media ajar juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berlatih menyusun aktivitas pembelajaran Bahasa Inggris yang sesuai usia, mulai dari pengenalan kosakata, pronunciation, listening, speaking sederhana, hingga asesmen dasar.
“Kami sangat mendukung kebijakan ini dengan menyiapkan calon guru yang menguasai Bahasa Inggris, memahami karakter anak, mampu mengembangkan media pembelajaran, memiliki jiwa edupreneurship, dan siap beradaptasi dengan kebutuhan pendidikan masa depan,” tandas Fika.













