MAKLUMAT — Dosen New Media Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), M Andi Fikri, menyoroti perdebatan soal nilai karya kreatif yang belakangan mencuat usai kasus yang menyeret pekerja kreatif Amsal Sitepu.
Polemik kasus yang didakwakan kepada Amsal Sitepu, yang diduga melakukan mark up anggaran produksi video profil desa tersebut, membuka ruang diskusi lebih luas terkait bagaimana nilai sebuah karya kreatif semestinya ditentukan, dipahami, dan dikomunikasikan kepada publik.
Andi Fikri menilai persoalan itu tidak semata soal angka, melainkan juga berkaitan dengan komunikasi, transparansi, serta pemahaman publik terhadap proses kreatif.
Menurutnya, kesalahpahaman kerap muncul karena masyarakat hanya melihat hasil akhir sebuah karya, tanpa memahami rangkaian proses panjang di baliknya.
Pekerja kreatif, kata dia, perlu mampu menjelaskan nilai dari karya yang dihasilkan secara rinci agar tidak menimbulkan persepsi negatif.
“Sebagai pekerja kreatif, paling tidak itu menjelaskan nilai karyanya secara runut atau rinci. Mulai dari durasi kerja, tingkat kesulitan, teknis, riset, sampai hak cipta dan lisensi, hingga hasil akhir yang diharapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, harga sebuah karya kreatif tidak bisa hanya dilihat dari angka akhir. Di dalamnya terdapat proses diskusi awal, observasi, pencarian ide, hingga survei lokasi yang sering tidak terlihat oleh klien maupun publik.
Bahkan, lanjut Andi Fikri, faktor eksternal seperti kondisi cuaca dapat memengaruhi durasi sekaligus biaya produksi.
“Misalnya kita deal syuting satu minggu, tapi tiap hari hujan. Itu bisa molor jadi dua minggu. Hal-hal seperti ini di luar ekspektasi klien, tapi tetap jadi bagian dari proses,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyinggung penggunaan teknologi kecerdasan artificial (artificial intelligence/AI) yang belakangan semakin populer di industri kreatif. Menurutnya, AI memang dapat membantu tahap awal pencarian ide, namun tidak bisa menggantikan keseluruhan proses kreatif.
“AI hanya membantu dalam berpikir, tapi implementasi di lapangan tetap butuh pengalaman dan proses panjang. Itu yang membuat mahal,” sorotnya.
Andi Fikri menilai, masih banyak pihak menganggap proses kreatif sebagai sesuatu yang sederhana, padahal di dalamnya terdapat pengalaman bertahun-tahun yang tidak bisa dihargai secara instan.
Negosiasi Harus Transparan Sejak Awal
Selain value komunikasi, Andi Fiktri juga menekankan pentingnya negosiasi profesional yang jelas sejak awal kerja sama. Menurutnya, kesepakatan tidak boleh hanya membahas nominal, tetapi juga seluruh komponen produksi.
“Negosiasi itu sebenarnya sejak awal. Mulai dari proposal, timeline, equipment, sampai hasil akhirnya harus sudah jelas,” sebut dosen Prodi Ilmu Komunikasi itu.
Ia mencontohkan bahwa nilai sebuah proyek sesungguhnya mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari ide kreatif, kru produksi, hingga kebutuhan operasional selama pengerjaan.
“Misalnya deal 30 juta, itu bukan hanya bayar video. Itu sudah termasuk kru, konsep, makan, revisi, dan banyak hal lain,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam praktiknya, proses produksi sering kali tidak berjalan mulus. Revisi bahkan dapat terjadi berulang kali hingga membutuhkan pengambilan ulang gambar.
“Revisi itu tidak bisa satu atau dua kali saja. Kadang harus retake, ganti talent, dan itu butuh biaya tambahan,” tegasnya.
Karena itu, Andi Fikri menilai komunikasi aktif antara kreator dan klien harus terus dijaga selama proses berlangsung guna menghindari kesalahpahaman.
Pemahaman Nilai Karya Kreatif Masih Rendah
Lebih jauh, ia berpendapat bahwa akar persoalan terbesar adalah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap kompleksitas pekerjaan kreatif.
“Pekerja kreatif itu masih sering diremehkan, karena dianggap tidak punya standar harga yang jelas,” kata pria yang juga aktif di komunitas film Sidoarjo itu.
Andi Fikri menjelaskan bahwa perbedaan harga antar kreator merupakan hal wajar, karena dipengaruhi oleh pengalaman, kualitas, dan tingkat kompleksitas proses yang berbeda.
“Bikin video profil desa 15 menit saja bisa beda-beda. Ada yang 5 juta, 10 juta, sampai 30 juta. Padahal alatnya sama, tapi hasilnya pasti beda,” tandasnya.
Menurutnya, jam terbang dan pengalaman pekerja kreatif merupakan bagian penting dari nilai yang ditawarkan. Jika hal tersebut tidak dihargai, industri kreatif berpotensi kehilangan daya hidupnya.
“Kalau semua disamaratakan, akhirnya tidak ada lagi kreativitas. Orang-orang tidak mau berkarya,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan konten media sosial yang sering dianggap mudah, padahal membutuhkan proses panjang. “Orang lihat video TikTok satu menit itu gampang. Padahal di balik itu ada riset, script, latihan, sampai berkali-kali take,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Andi Fikri menekankan pentingnya pekerja kreatif, khususnya generasi muda, untuk memahami nilai karya mereka sendiri dan membangun profesionalisme.
“Penting untuk membangun kesadaran diri tentang nilai karya, komunikasi yang baik, dan membangun portofolio yang kuat,” tandasnya.
Andi Fikri menambahkan, pentingnya pemahaman hak cipta dan lisensi menjadi aspek sangat krusial supaya karya tidak hanya dihargai, tetapi juga terlindungi.
Selain itu, imbuhnya, para pekerja kreatif juga sangat penting untuk terus membangun dan memperluas jaringan, sebagai langkah untuk memperkuat posisi tawar di industri kreatif.













