MAKLUMAT — Perang antara Iran melawan AS-Israel telah membuka kesadaran baru di kalangan masyarakat. Wakil Sekretaris PWM Jatim, Moh Mudzakkir menyebut perubahan cara pandang terhadap Syiah menjadi salah satu hal yang paling terlihat.
“Perdebatan soal Sunni dan Syiah sebenarnya sudah selesai sejak lama. Bukan sesuatu yang perlu terus dipertentangkan,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id saat ditemui di Surabaya pada Selasa (30/3/2026).
Ia menilai, konflik yang berlangsung justru membuka ruang bagi publik untuk melihat Syiah secara lebih proporsional. Jika sebelumnya kerap diposisikan sebagai kelompok yang berseberangan, kini mulai dipahami sebagai bagian dari khazanah dalam Islam.
Perkembangan teknologi informasi turut mempercepat perubahan tersebut. Masyarakat kini memiliki akses terhadap berbagai sumber informasi, sehingga tidak lagi bergantung pada narasi tunggal.
“Sekarang orang bisa akses banyak sumber. Jadi tidak hanya melihat dari satu sudut pandang,” ujarnya.
Dengan terbukanya akses informasi, masyarakat mulai membandingkan berbagai pandangan yang ada. Hal ini mendorong munculnya pemahaman yang lebih luas, termasuk dalam melihat posisi Iran dan kelompok Syiah dalam konteks global.
Selain perubahan persepsi tersebut, konflik ini juga memperlihatkan bagaimana sistem internal sebuah negara dapat memengaruhi ketahanannya. Mudzakkir menilai Iran menunjukkan praktik meritokrasi yang cukup kuat, terutama dalam penempatan figur-figur di posisi strategis.
Ia mencontohkan latar belakang para pemimpin Iran yang berasal dari kalangan akademisi dan profesional. Kondisi ini dinilai memberikan pengaruh terhadap kualitas kebijakan sekaligus memperkuat daya tahan negara dalam menghadapi tekanan eksternal.
“Kalau kita lihat, pemimpin-pemimpin Iran itu akademisi, ilmuwan. Itu menunjukkan adanya meritokrasi yang berjalan,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti gaya hidup para pemimpin Iran yang dinilai sederhana. Menurutnya, hal tersebut menjadi kontras jika dibandingkan dengan sebagian pemimpin di kawasan Timur Tengah yang lebih identik dengan kemewahan.
Perbedaan ini tidak hanya sekadar simbolik, tetapi juga berpengaruh terhadap cara publik menilai kedekatan pemimpin dengan masyarakat. Kesederhanaan dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat legitimasi kepemimpinan.
“Di satu sisi ada pemimpin yang menunjukkan kesederhanaan, di sisi lain ada yang menampilkan kemewahan. Itu kontras sekali,” ujarnya.
Mudzakkir juga menilai kombinasi antara meritokrasi dan keteladanan personal tersebut menjadi salah satu kunci ketahanan Iran. Dalam situasi tekanan global, termasuk embargo dari negara besar, Iran dinilai tetap mampu bertahan dan bahkan menunjukkan perkembangan di sejumlah sektor.
Hal itu menurutnya tidak bisa dilepaskan dari fondasi keilmuan yang kuat. Iran dinilai menempatkan riset sebagai bagian penting dalam pembangunan, tidak hanya dalam bidang teknologi, tetapi juga dalam pengembangan pengetahuan secara luas.
Ia menyebut capaian Iran dalam publikasi ilmiah menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kekuatan tersebut. Tradisi keilmuan yang panjang dinilai berkontribusi pada kemampuan negara dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Dalam kondisi embargo sekalipun, mereka tetap bisa berkembang. Itu karena basis riset dan pengembangan keilmuannya kuat,” pungkasnya.













